TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Corona, Anak dan Tahun Ajaran Baru


Pandemi virus corona (COVID-19)  yang menimpa dunia belum beranjak dari Indonesia. Ia tak hanya menginfeksi   orang tua dan dewasa saja tapi juga anak-anak bahkan balita. Menurut data IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), hingga tanggal 18 Mei 2020 jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus, dengan kasus meninggal 129 anak. Dan yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 584 anak, dengan kasus meninggal 14 anak. (Kumparan.com 1/6/20).

Meski, Indonesia sedang menghadapi pandemi, dengan jumlah korban anak yang tidak sedikit,  Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar dan Menengah (Plt Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari.

"Tanggal 13 Juli adalah tahun pelajaran baru, tetapi bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing,” jelas Hamid seperti dikutip dari laman Kemendikbud (28/5).


Hal inilah yang menjadi kegelisahan Watiek Ideo, seorang penulis buku anak yang juga ibu dari seorang pelajar kelas 6 SD hingga ia menggagas petisi “Tunda Masuk Sekolah Selama Pandemi” di laman Change.org  yang kini telah ditandatangani  95.720 orang. Watiek memberi gambaran, bila anak-anak masuk sekolah saat pandemic bisakah anak-anak tertib memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker tiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah.(Kumparan.com 1/6).


Senada dengan hal tersebut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarty meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji  langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020 tersebut. “Anak-anak tertular itu menunjukkan bukti bahwa rumor Covid-19 tidak menyerang anak-anak, tidak benar,” imbuhnya. (okenews.com 27/5/20).


Dari sini kita bisa melihat bagaimana negri ini yang dalam pengaturan hukum-hukum nya tidak berlandaskan syariat islam, begitu ceroboh dalam mengeluarkan kebijakan khususnya yang berkaitan dengan anak-anak sebagai aset umat. Inilah gambaran sesungguhnya wajah kapitalisme demokrasi dalam memandang dan memperlakukan anak-anak. Ketidakseriusannya dalam melindungi anak-anak seakan memperjelas bahwa ideology ini tidak meyakini  bahwa apa yang dilakukan hari ini kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat.


Padahal dalam Islam, disamping sebagai aset umat, anak adalah penerus generasi  sekaligus amanah yang wajib dijaga keberadaannya. Membiarkan nya terluka baik fisik maupun jiwa adalah kemaksiatan yang besar dalam islam karena tergolong menyia-nyiakan amanah. Dan anak lah yang kelak menjadi ujung tombak pengukir peradaban. Semestinya semua pihak bersama-sama menjaganya mulai dari keluarga, masyarakat sampai negara. Hal tersebut hanya bisa terwujud jika negara bersedia mengambil aturan berlandaskan syariat islam. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh : Neneng Khosiah

Posting Komentar

0 Komentar