TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Challenge Sadar Syariah Kaffah


Challenge merupakan kata bahasa inggris yang artinya tantangan.  Melakukan sebuah challenge di media sosial dipopulerkan semenjak adanya media sosial instagram,  Youtube dan media sosial lainnya yang mampu mensupport visual dan audio dalam satu waktu seperti yang saat ini sedang happening yaitu Tik-tok.  

Semua challenge itu jika kita throwback, dimulai tahun 2013, gerakan Harlem Shake ( Lagu dengan tarian yang unik ) viral di Indonesia, lalu diikuti dengan challenge-challenge lainnya. Seperti Ice Bucket Challenge ; Menyiram Badan dengan Es atau air yang sangat dingin (2014), Chubby Bunny Challenge ; 

Memakan marshmallow hingga memenuhi mulut (2016), Samyang Challenge ; memakan mie pedas keluaran negara Korea (2016), Bottle Flip Challenge ; Melempar botol dengan memutar diudara dan berdiri tegak diatas meja (2016), PPAP Challenge ; Lagu Apel dan Pena  dan Cara menyanyikan yang unik(2016), 

Mannequin Challenge (2016), Om Telolet Om ; meneriaki klakson bus (2017), In My Feelings atau Kiki Challenge ; menari dengan pintu mobil yang terbuka serta mobilnya berjalan pelan (2018), Delle Alli Challenge ; berpose dengan memutar tangan ke atas dan membuat simbol angka tiga yang terlihat seperti tanda ''okay'' yang terbalik (2018), hingga tahun ini pun masih banyak lagi challenge-challenge yang dibuat dan coba diviralkan. Tentunya tujuan challenge-challenge tersebut semata-mata untuk menghibur diri dan menghibur orang-orang yang menontonnya. (hitekno.com 28/8/2018)


Lagu, gerakan dan aktivitas yang dijadikan Challenge merupakan bentuk kreatifitas masyarakat. Bahkan saat kondisi tidak memungkinkan masyarakat untuk keluar rumah dan bersosialisasi seperti saat pandemi sekarang, orang beramai-ramai menghibur diri dan orang lain dengan bermain Tik Tok. Kembali lagi, bahwa semua itu berasal dari masyarakat dan dibuat oleh masyarakat yang masyarakat saat ini sedang jenuh dengan karantina di rumah akibat pandemi.


Kreatifitas tanpa batas jadi jargon para pecinta seni diberbagai bidang, termasuk challenge terbaru dan yang sedang viral saat ini adalah Lathi Challenge. Challenge ini viral oleh remaja berbakat di bidang Make Up bernama Jharna Bhagwani yang masih berusia 17 tahun. Jharna mengkolaborasikan bakatnya dengan lagu Lathi di platform Tik Tok, hasilnya kreatifitasnya di apresiasi secara internasional.


Masyarakat di dalam kehidupan ini adalah sekumpulan manusia, namun sejatinya sebuah masyarakat tidak bisa didefinisikan dan diwujudkan dengan  para manusia atau individu yang berkumpul saja, tentu masyarakat ini harus memiliki pemikiran, perasaan, serta aturan yang sudah ditetapkan. Termasuk dalam bidang seni, maka jargon kreatifitas tanpa batas pun harus memiliki alur yang baik dalam mengarahkan seluruh manusia. 

Pro kontra lagu Lathi dan kaitannya dengan agama ataupun sangat mendukung budaya tentu kita kaji lagi, karena sesungguhnya tidak aturan baku yang mengatur kreatifitas. Maka, kehidupan ini sebenarnya tidak ada aturan yang benar-benar mengikat dan rinci dalam menyelesaikan persoalan, selama kita mampu mempertanggungjawabkannya maka perbuatan apapun bisa jadi dibolehkan, walau kita pahami ada aturan negara, adat yang tak tertulis bahkan norma ketimuran yang sering kita anggap lebih sopan dan santun. 

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa aturan-aturan tersebut belum mampu membuat manusia ada dalam satu kesatuan utuh sebagai manusia yang saling menghargai dan terkoneksi dari bidang yang satu dengan bidang yang lain, sehingga perbuatan manusia pun kehilangan tujuan dari segala tujuan hidup. 

Jika muslim, tentu tujuan dari segala tujuan perbuatan adalah keridhoan Allah Subhanahuwata’alaa. Dan jika non muslim, selama ada kemaslahatan untuk dirinya sendiri segala perbuatan diluar dirinya tidak akan menjadi masalah. Egoisme manusia semuanya terkendali dan tidak ada yang merasa ingin lebih eksis walau harus melalui cara-cara yang tidak terlihat seperti manusia lagi. Yang tidak terbatas hanyalah Allah Subhanahu wata’alaa, dan semua makhluknya memiliki batas serta perlu di atur. 

Jadi, apapun bentuknya baik itu challenge atau karya seni yang lain dan segala perbuatan perlu aturan dari Maha Yang Tak terbatas untuk kami manusia yang lemah dan terbatas. Dialah Allah, yang memiliki aturan rinci dan lengkap serta dapat memastikan solusi dari setiap permasalahan yang bisa timbul dikalangan manusia. Karena Allah yang menciptakan manusia dan sangat mengetahui makhluknya. 
Dan aturan Allah hanya bisa diterapkan ketika kita sadar dan butuh dengan aturanNya, sehingga segala perbuatan kita tidak ada lagi yang dapat menimbulkan konflik hingga berbeda pendapat diluar aturanNya. Jika berbeda dan masih memiliki kekuatan hukum yang berasal dari Allah maka hal tersebut dianggap sebagai kekayaan ilmu Allah. 

Dan manusia tidak berbondong-bondong panjat sosial satu sama lain, namun lebih memanjatkan lagi do’a dan menggiatkan lagi amal shalih yang mampu mengalirkan pahala serta mendekatkan langkah mereka kepada tujuan dari segala tujuan yaitu Keridhoan Allah. Dan ridho Allah untuk seluruh manusia serta alam semesta dan isinya hanya bisa berkah jika aturan Allah atau syariah ini diterapkan dalam segala kehidupan, diterapkan secara kaffah tanpa terkecuali.
Wallahu'alam bish shawab.[]

Oleh: Yauma Bunga Yusyananda

Posting Komentar

0 Komentar