Cahaya Islam atas Sistem Kapitalisme yang Melampaui Batas


Kapitalisme dengan asas akidahnya adalah sekulerisme menitikberatkan pada masalah-masalah duniawi. Kita lihat saja bagaimana negara-negara kapitalis saat ini ketika membuat kebijakan untuk menyelesaikan problem-problem mendasar mereka. Termasuk kebijakan dalam mengatasi wabah pandemi global yang terjadi saat ini. Mereka juga kesulitan memberikan proporsi yang mana yang harus didahulukan dan diutamakan, namun akhirnya menjalankan kepentingan-kepentingan segenlintir orang saja.

Hal ini sejalan sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah saw, terhadap manusia yang mengejar duniawi seperti seekor hewan yang mengejar ekornya sendiri. Rasulullah bersabda;
 لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Prinsip para kapitalis ini akhirnya membentuk sikap mereka terhadap segala sesuatu. Prinsip yang diarahkan untuk mementingkan produksi dan produksi, atau upaya-upaya lain yang dapat menghasilkan uang, semata-mata demi kepentingan duniawi. Atau menghasilkan karya seni dan budaya yang merupakan penyembahan terhadap nilai-nilai keindahan duniawi saja.

Manusia sejatinya diberikan fitrah menuju kepada kebenaran. Menurut Salim Fredericks (2004) manusia selalu berupaya untuk menemukan tujuan hidupnya didunia. Namun, perkembangan peradaban kapitalis barat telah mengubah fokus perhatian manusia dari upaya mencari tujuan hidup di dunia menuju upaya mencari gambaran untuk mendapatkan pekerjaan atau berbisnis. Awalnya manusia bertanya “mengapa” dan bergeser menjadi pertanyaan “bagaimana”.

“Mengapa” merupakan pertanyaan mendasar yang mampu dijawab oleh islam. Mengapa manusia diciptakan, mengapa manusia hidup di dunia? Manusia diciptakan Allah swt semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Bandingkan jika kita ganti dengan bagaimana manusia hidup di dunia? Dan dia belum mengenal penciptaNya. Maka mereka akan hidup sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Selain itu banyak kejadian yang belum dapat dijelaskan bagaimana prosesnya, namun mengapa itu bisa terjadi, hal ini dapat dijawab karena semata-mata atas kehendak Allah swt.

Era pencerahan (Renaissance) telah menjadikan manusia sebagai pembuat hukum secara bersama-sama (kolektif).  Barat telah mampu mejelaskan bagaimana semua itu bisa terjadi. Bagaimana proses air hujan, bagaimana proses kejadian manusia, teori gravitasi dan tentang ruang angkasa. Namun mereka lalai untuk menjawab mengapa semua itu bisa terjadi. Mereka ingin memisahkan agama dari kehidupan, dengan memberikan penjelasan bagaimana itu bisa terjadi dan berlangsung tanpa campur tangan Allah swt sebagai pencipta.

Jadi Allah swt tidak dilibatkan dalam ide sekulerisme ini, termasuk dijauhkan dari teori-teori ilmiah. Namun bagi kaum muslim, keyakinan kepada Allah yang menciptakan hujan, merupakan pemahaman yang penting daripada teori bagaimana itu bisa terjadi. Umat islam juga mungkin tidak mengetahui bagaimana kejadian manusia bisa terjadi, namun mereka beriman dan meyakini mengapa itu terjadi, dan telah diberitakan di dalam Alquran bahwa mereka diciptakan oleh Allah swt.

Akhirnya peradaban kapitalisme muncul di permukaan bumi untuk memenuhi segala nafsu dan kepentingan manusia. Mereka berupaya dan berfikir bagaimana memuaskan syahwat mereka sendiri berapapun dan apapun akan dikorbankan. Di satu sisi peradaban ini berhasil memberikan solusi atas berbagai problem yang ada namun disisi yang lain meninggalkan luka yang dalam dan korban yang besar.

Teknologi, peralatan dan keuntungan yang begitu fantastis adalah hasil dari peradaban yang telah digaungkan oleh Adam Smith dan John Locke, hingga Trump dan Xi Jinping saat ini. Inilah peradaban menjadi racun berbisa bagi siapapun yang melihat dan memadangnya. Menjadi terpukau dan terpana akan silaunya peradaban barat ini, sehingga luka ditempat lain yang menganga lebar tidak terlihat. Lebih parah lagi, ketika luka itu akan terlihat, maka mereka segera melarikan diri dan menyalahkan pihak lain yang menyebabkan luka tersebut. Berbagai fitnah dan propaganda adalah senjata mereka.

Hal ini berbeda jauh dengan islam sebagai sebuah sistem kehidupan dan asas aqidah islam untuk mengarungi kehidupan ini. Begitu juga ketika islam menaklukkan berbagai wilayah dengan melakukan pembebasan-pembebasan ternyata dapat memberikan solusi kepada penduduk yang ditaklukkan tersebut tanpa memaksa mereka memeluk agama islam. Sejarah telah menunjukkan pada peristiwa perjanjian Umar bin Khattab sebagai Amirul Mukminin dengan masyarakat Illiya (Yerussalem) pada perjanjian Umari pada tahun 15 H (636M).

“Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini adalah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah (Khalifah) Umar (bin Khattab) pemimpin orang yang beriman, kepada masyarakat Illiya (Yerussalem). Ia memberikan kepada mereka jaminan keamanan atas diri dan harta mereka, atas gereja-gereja dan salib-salib mereka, atas penduduk kota yang sakit dan yang sehat, serta atas seluruh masyarakat lainnya. Gereja-gereka mereka tidak akan direbut atau dihancurkan (oleh Kaum Muslimin). Demikian pula, tanah-tanah tempat mereka berdiri, salib-salib mereka, serta harta-harta mereka tidak akan diambil alih. Mereka tidak akan dianiaya. Tidak akan ada orang Yahudi yang hidup bersama mereka di Illiya (Yerussalem)...”

Begitulah bagaimana islam memberikan jaminan hak-hak kepada penduduk Yerussalem dan dibuktikan adanya kepercayaan orang Nasrani yang menyerahkan kunci gereja Makam Suci kepada Kaum Muslim. Dengan syarat tidak ada orang Yahudi yang hidup bersama mereka di Illiya. Dikarenakan sikap pemberontakan orang Yahudi yang telah meratakan Yerussalem dengan dan membakar mereka. Maka, Islamlah yang menyelesaikan pertikaian kedua golongan tersebut yaitu antara Yahudi dan Nasrani.

Keberhasilan islam memberikan solusi dengan syariahNya sudah terbukti. Namun tidak hanya itu, harga yang sangat mahal yang tidak akan pernah dapat ditandingi oleh peradaban manapun adalah ketentraman dan ketenangan jiwa karena manusia mengetahui mengapa mereka diciptakan dan untuk apa mereka ini ada. Yaitu menjadi hamba Allah adalah salah satu kebahagiaan yang hakiki.

Allah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya walaupun mereka tidak suka. Allah berfirman;
يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33). Wallahu’alam.

Oleh W. Irvandi

Posting Komentar

0 Komentar