TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Bilamana Masjid Dibuka Saat Pandemi?



Wabah pandemi Corona (Covid-19) menyingkap Inkonsistensi pemerintah dalam melakukan upaya pencegahan penyebaran wabah covid19 sekaligus kegagalan sistem Kapitalisme di berbagai negara termasuk di negeri ini dalam memelihara agama, nyawa dan harta manusia. 

Di negeri ini, penyebaran Covid-19 hingga hari ini masih mengkhawatirkan. Menurut situs covid19.co.id per 3 juni 2020 total kasus positif Covid-19 menjadi 28.233 orang. Total yang meninggal menjadi 1.698 orang. 

Di tengah situasi yang masih berbahaya ini, Pemerintah justru menyiapkan protokol untuk menghadapi "new normal" .Padahal WHO sendiri telah menetapkan syarat-syarat untuk bisa dilakukan prosedur new normal. Di antaranya angka kasus baru nol selama 14 hari. 

Dampak dari kebijakan new normal ini maka pabrik-pabrik mulai dibuka kembali, masyarakat bisa berkativitas seperti hari biasa, termasuk juga masjid yang tadinya ditutup sekarang mulai dibuka kembali.

Terkait dibukanya kembali tempat ibadah dengan menerapkan protokol kesehatan, DMI telah mengeluarkan edaran bernomor 104/PP-DMI/A/V/2020 tentang Edaran ke-III dan Jamaah dalam The New Normal. Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla (JK) menekankan pentingnya menjaga kebersihan masjid dan penerapan protokol kesehatan yang ketat saat melakukan salat berjemaah di masjid.

Sesuai aturan protokol kesehatan Masjid wajib selalu dibersihkan, tidak pakai karpet, AC dimatikan ,pintu dan jendela masjid dibuka agar sirkulasi udara bergerak.

JK mengatakan, "Apabila nanti sudah dibuka katakanlah PSBB di suatu daerah, juga daerah-daerah yang sudah dinyatakan bersih, itu masjid silakan kita buka dengan syarat protokol kesehatan yang ketat, ya seperti tadi itu ada tempat cuci tangan, pakai masker semua, bawa sajadah, kemudian jaga saf dengan baik, paling sedikit 1 meterlah," imbuhnya.(detiknews.com, 2/6/2020)

Apa yang dikatakan Pak JK terdapat unsur syarat dibukanya masjid yaitu apabila suatu daerah dinyatakan bersih maka silahkan masjid dibuka dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang tepat.

Karena itu yang harus diprioritaskan oleh Pemerintah saat ini adalah bagaimana mengendalikan dan mengatasi pandemi Covid-19. Keselamatan nyawa manusia harus lebih didahulukan daripada kepentingan ekonomi. Apalagi sekadar memenuhi kepentingan ekonomi segelintir orang, yakni para kapitalis (pengusaha/pemilik modal). 

Karena itu solusinya tidak lain dengan syariah Islam. Dengan syariah Islam, wabah akan lebih mudah diatasi dan dikendalikan. Tentu tanpa mengganggu syiar Islam dan ibadah kaum Muslim. Nyawa manusia pun bisa terselamatkan. Ekonomi juga tetap bisa berjalan.

Ada tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah 

Pertama, penguncian areal wabah(lockdown).

Rasul saw. bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu (HR al-Bukhari).

Tindakan isolasi/karantina atas wilayah yang terkena wabah tentu dimaksudkan agar wabah tidak meluas ke daerah lain. 

Adanya kebijakan lockdown khusus didaerah wabah ini juga dapat menepis dugaan pemerintah yang terkesan abai.Dimana Saat wabah seperti ini, banyak masjid ditutup. Tidak boleh menyelenggarakan shalat Jumat dan shalat berjamaah. Shalat Idul Fitri di beberapa daerah juga dilarang. Semua dengan alasan demi mencegah penularan wabah Covid-19. 

Sebetulnya alasan ini masuk akal. Tentu jika dibarengi oleh penutupan tempat-tempat keramaian yang lain seperti mal-mal, pasar-pasar, bandara, stasiun, terminal dll. Faktanya, banyak di antara tempat tempat tersebut Tidak benar-benar ditutup. 

Akhirnya, wajar jika banyak orang berprasangka negatif atas kebijakan ini. Pemerintah dituding cenderung anti Islam karena dianggap mendeskreditkan masjid. Seolah-olah masjidlah yang paling berpotensi dalam penularan wabah daripada tempat-tempat keramaian yang lain.Oleh karena itu khusus didaerah wabah semua tempat tempat keramaian wajib ditutup,termasuk masjid.

Disaat diterapkannya lockdown maka suplay berbagai kebutuhan untuk daerah itu tetap harus dijamin. Ini hanyalah masalah manajemen dan teknis. Relatif mudah diatasi. Apalagi dengan teknologi modern saat ini. Namun  demikian, semua itu bergantung pada kebijakan dan sikap amanah Pemerintah sebagai pengurus rakyat.

Kedua, pengisolasian yang sakit.

Tindakan cepat isolasi/karantina cukup dilakukan di daerah terjangkit saja. Daerah lain yang tidak terjangkit bisa tetap berjalan normal dan tetap produktif. Daerah-daerah produktif itu bisa menopang daerah yang terjangkit baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun penanggulangan wabah. Dengan begitu perekonomian secara keseluruhan tidak terdampak.

Secara simultan, di daerah terjangkit wabah diterapkan aturan berdasarkan sabda Rasul saw.:

لاَ تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ

Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat (HR al-Bukhari).

 ”Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR. Abu Hurairah).

Ketiga, pengobatan hingga sembuh.

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.” 

Juga sabda beliau yang artinya, "Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya".(HR Bukhari). (HR Abu Daud).

Kendali mutu berpedoman pada tiga strategi utama. Yaitu: a. Kesederhanaan aturan; b. Kecepatan layanan; c. Dilakukan individu yang kompeten dan kapabel.

Jaga jarak dilakukan dengan physical distancing seperti yang diterapkan oleh Amru bin ‘Ash dalam menghadapi wabah Tha’un ‘Umwas di Palestina kala itu dan berhasil. 
Adapun untuk mengetahui siapa yang sakit dan yang sehat harus dilakukan 3T (test, treatment, tracing). Kecepatan dalam melakukan 3T itu menjadi kunci. Harus dilakukan tes yang akurat secara cepat, masif dan luas. Lalu dilakukan tracing kontak orang yang positif dan dilakukan penanganan lebih lanjut. Mereka yang positif dirawat secara gratis ditanggung negara. Tentu semua itu disertai dengan langkah-langkah dan protokol kesehatan lainnya yang diperlukan.

Dengan langkah itu bisa dipisahkan antara orang yang sakit dan yang sehat. Mereka yang sehat tetap bisa menjalankan aktivitas kesehariannya. Mereka tetap dapat beribadah dan meramaikan masjid. Mereka juga tetap menjalankan aktivitas ekonomi dan tetap produktif. Dengan begitu daerah yang terjangkit wabah tetap produktif sekalipun menurun.

Tujuan memelihara agama antara lain diwujudkan dengan menjamin syiar-syiar Islam, pelaksanaan ibadah (termasuk shalat berjamaah di masjid), dsb. Islam menilai upaya melarang atau menghalangi syiar Islam dan pelaksanaan ibadah tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariah sebagai dosa besar. 

Penerapan syariah Islam juga bertujuan untuk memelihara nyawa manusia. Dalam Islam, nyawa seseorang—apalagi nyawa banyak orang—benar-benar dimuliakan dan dijunjung tinggi. Menghilangkan satu nyawa manusia disamakan dengan membunuh seluruh manusia.
Dalam Q.S Al maidah : 32 

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

Nabi saw. juga bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim (HR an-Nasai, at-Tirmidzi dan al-Baihaqi).

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar