TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Big Pharma dan Big Money


Indonesia tengah menuju era kenormalan baru atau "new normal". Dengan akan mulainya  kebijakan 'new normal' di Indonesia, sejumlah aktivitas yang sebelumnya dibatasi akan dibuka kembali dengan sejumlah aturan protokol kesehatan. Aktivitas itu termasuk kegiatan perekonomian hingga tempat ibadah.

Dalam saluran YouTube Sekretariat Presiden pada Selasa (2/6/2020), Presiden Joko Widodo menyatakan "Kita tahu penyebaran COVID sampai saat ini di Tanah Air memang belum semua provinsi di wilayah bisa dikendalikan. Oleh sebab itu, pembukaan baik itu pembukaan untuk tempat ibadah, pembukaan aktivitas ekonomi, pembukaan sekolah, semua melalui tahapan-tahapan yang ketat dengan melihat angka-angka kurva dari R0 maupun Rt-nya. Semuanya memakai data-data keilmuan yang ketat".

Indonesia bukanlah negara pertama yang memilih menerapkan 'new normal'. Beberapa negara bahkan telah lebih dulu menerapkan new normal, seperti Jepang, Amerika serikat, Korea, China, Australia, Jerman dan Singapura

Di Amerika serikat, banyak kalangan yang menentang langkah Donal Trump untuk membuka kembali sekolah dan ekonomi saat wabah sedang mengganas. Padahal Ada bahaya nyata memicu wabah yang mungkin tidak dapat Amerika serikat kendalikan.

Pemerintah China sendiri, belum bisa berbangga hati meski laju penularan virus menurun dalam satu bulan terakhir Sejak angka penularan corona terkendali dan stabil hampir di seluruh daerah, China menurunkan peringkat darurat kesehatan ke status siaga.

Jika negara maju saja yang sigap bahkan berhasil menurunkan angka korban virus corona ini masih ragu dalam menerapkan new normal. Bagaimana dengan Indonesia? Yang seolah-olah sudah benar-benar siap menghadapi tantangan bahaya di depan mata yaitu potensi gelombang kedua covid 19. Mirisnya gelombang pandemi awal saja sudah banyak kasus yang meninggal dunia karena kebijakan lock down tidak dilakukan  dan perlengkapan APD serta fasilitas kesehatan yang kurang memadai serta kesimpangsiuran data Covid19. Jadi wacana dan tindakan “new normal” semacam inilah yang justru terciptanya herd imunity di Indonesia. Membuat laju Virus Covid 19 memakan imunitas lemah dan imunitas kuat yang bertahan. Rakyat dibiarkan bertahan dalam ganas virus covid 19.
 
Kata jangan kita menyerah dan hidup berdamai  menyesuaian kehidupan baru dalam wabah covid 19. Yang disebut “the new normal” atau tatanan kehidupan baru. Bukanlah jalan terbaik karena nyawa manusia begitu berharga dalam kehidupan ini. Ini bukti nyata diterapkannya herd imunity di Indonesia.

Sudah bukan rahasia bahwa pandemi ini menghantam perekonomian global. Arus barang dan jasa lambat bahkan terhenti dalam skala internasional. Tingkat konsumsi menurun. Bursa saham anjlok. Dan memukul mundur perekonomian berbagai negara. Sehingga para pengusaha raksasa bahkan skala UKM hampir bangkrut. Kapitalisme global guncang menghadapi resesi ekonomi disusul dengan adanya pandemi covid 19 global.

Kapitalisme membuat skenario baru agar perekonomian yang mereka Tuhan kan bisa berjalan seperti sedia kala. Kepentingan ekonomi di atas segalanya mengalahkan keselamatan manusia. Sistem ekonomi Kapitalisme hanya membahas aspek materi dan manfaat, bahkan menjadi fokus mengatasi ekonomi pasca pandemi. Nyawa manusia menjadi no.2 untuk dijaga.

Parahnya aspek kesehatan dianggap sebagai jasa yang harus dikomersialkan. Ini terlihat pada konsep “new normal life”. Demi hasrat menjaga perekonomian, rezim berkuasa berlepas tangan dari mengatasi pandemi Covid-19 yang tengah berkecamuk. Kendati untuk itu kesehatan dan nyawa ratusan juta masyarakat menjadi taruhannya.

Seperti dikutip dari healthaffairs.org, Minggu (31/5/2020), biaya perawatan pasien Covid-19 di Amerika Serikat ditaksir sekitar US$3.045. "Infeksi Covid-19 simtomatik tunggal akan menelan biaya rata-rata US$3.045 dalam biaya medis langsung yang dikeluarkan hanya selama infeksi."Sementara di Indonesia, seperti diungkapkan Menteri BUMN Erick Thohir, biaya perawatan pasien Covid-19 ditaksir mencapai Rp105 juta - Rp215 juta. "Mahal banget," katanya dalam diskusi virtual, pekan lalu. Oleh karena itu, Menteri Erick meminta masyarakat tetap berdisiplin menjalankan protokol kesehatan selama menjalani masa normal baru. (https://.bisnis.com/ekonomi-bisnis/read/20200531/12/1246737/mahal-banget-biaya-perawatan-pasien-covid-19)

Sudah bukan rahasia umum, bahwa kapitalisme global memprioritaskan bisnis menggiurkan salah satunya adalah bisnis farmasi dan kesehatan.  Bahkan aroma kapitalisasi kesehatan dan farmasi begitu terasa. Setelah Keputusan Lembaga Kesehatan Dunia WHO menyatakan darurat kesehatan global akibat adanya pandemi covid 19. Adanya kepentingan “Big Farma” dan “Big Money” ada dibaliknya. Industri farmasi yang mendapat untung besar adalah sektor industri farmasi yang menjual obat-obatan dan alat kesehatan. Pasar industri farmasi dan teknologi justru meningkat selama pandemi virus covid 19.

Disebutkan Chossudovsky, hasil analisisnya ada “kepentingan” yang kuat di balik keputusan WHO itu. Terutama terkait dengan “Big Pharma” (sebutan untuk jaringan perusahaan farmasi raksasa dunia), Wall Street dan lembaga pemerintah AS. Pertaruhannya adalah aliansi “Big Pharma” dengan “Big Money” yang mendapat dukungan dari pemerintah Trump. Keputusan serupa telah diambil di World Economic Forum, Davos, Swiss, sepekan sebelum WHO mengumumkan status darurat kesehatan global itu. Dari sinilah media massa “beroperasi”, menyemburkan informasi tentang virus corona sehingga menimbulkan kepanikan global. (https://koransulindo.com/mereka-yang-mereguk-keuntungan-dari-wabah-virus-corona/)

Di dalam negeri, Perusahaan plat merah PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mengaku telah mengantongi pendapatan hingga Rp 1,8 triliun, pendapatan ini didorong dari meningkatnya permintaan sejumlah produk Kimia Farma saat pandemi virus corona atau Covid-19. Direktur Utama KAEF, Verdi Budidarmo, pasar industri farmasi masih memiliki prospek positif di kuartal I 2020. Asumsi ini berdasar pada adanya kebutuhan farmasi dari pemerintah dan meningkatnya kebutuhan obat serta produk-produk suplemen di kalangan masyarakat saat wabah virus corona melanda. (https://www.suara.com/bisnis/2020/05/27/114012/industri-farmasi-raup-untung-besar-di-tengah-pandemi-covid-19)

Di lansir dari antaranews.com, Lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meminta perusahaan farmasi tidak "mengambil kesempatan dalam kesempitan" dalam pengadaan alat kesehatan sehingga efektif memerangi COVID-19. Kebutuhan alat kesehatan memang sekarang mendesak dan menjadi suatu peluang bisnis bagi pelaku usaha yang bergerak di bidang farmasi sehingga dimungkinkan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat. (https://www.antaranews.com/berita/1485612/perusahaan-farmasi-diminta-tidak-ambil-kesempatan-di-tengah-covid-19)

Inilah corak Kapitalisme yang diagung-agungkan Barat berdiri di atas landasan pemisahan agama dari kehidupan, serta gambarannya tentang kehidupan sebagai manfaat semata. Watak bawaannya adalah meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya. Karakter Kapitalisme bermental penjajah atau imperialisme. Selain berkarakter imperialisme, karakter peradaban kapitalisme mengandung banyak bahaya yang tidak sesuai fitrah manusia. 

Pandemi covid 19 memang telah memberi kita banyak hikmah. Salah satunya bahwa ideologi Kapitalisme yang tak sesuai dengan fitrah manusia  hanya akan melahirkan ketamakan dan kesengsaraan. Menjadikan kesehatan sebagai komoditas komersial yang mengesampingkan kesehatan dan keselamatan manusia.

Saat ini, kita hidup di tengah sistem tidak ideal karena tidak diterapkannya hukum Islam untuk mengatur segala urusan manusia. Kehidupan indah  tidak bisa kita rasakan. Kecuali hukum Islam menjadi haluan negara.  Khalifah akan melegitimasi hukum Islam  dan melaksanakannya dalam naungan Daulah khilafah.

Peradaban Islam adalah satu-satunya peradaban berkarakter sempurna, pemberi rasa tenteram dan ketenangan bagi kehidupan umat manusia. Karakter yang begitu sempurna sebagaimana telah ditegaskan Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Anbiya’ (21) ayat 107:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Aku mengutus kamu (wahai Nabi Muhammad), melainkan karena rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiyaa’: 107)

Lebih dari pada itu, keberadaan peradaban Islam yang berdasarkan akidah Islam menjadikannya sebagai satu-satunya peradaban yang sesuai fitrah bagi manusia. Di samping karena gambarannya tentang kehidupan sebagai aktivitas yang berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah dan arti kebahagiaan berupa ridha Allah SWT.

Tidak sekadar konsep, peradaban Islam dengan karakternya yang sempurna sebagai pewujud kesejahteraan seluruh alam, benar-benar telah teruji selama 13 abad dan wilayahnya mencapai dua per tiga dunia. Ini semua telah diukir oleh tinta emas peradaban sejarah manusia.

Hari ini, dengan karakternya yang begitu sempurna, peradaban Islam adalah satu-satunya harapan dunia. Penyelesaian pandemi Covid-19 yang berlarut-larut telah memakan banyak korban. Negara adidaya Amerika-China saling tuding siapa yang menyebarkan virus tanpa menyelesaikan yang berarti bagi dunia. Malah memanfaatkan situasi untuk meraih keuntungan. Yang ditopang lembaga internasional seperti WHO, PBB, WB, IMF, dan korporasi raksasa dunia yang menjadikan kesehatan dan nyawa manusia sebagai objek komersial.

Pada akhirnya, peradaban Islam akan membawa umat Islam pada puncak kemenangan dan kesejahteraan untuk manusia dengan izin Allah SWT. Allah SWT berfirman :
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (TQS. Al fath ayat 28)

Wallahu a’lam bissawab.[]

Oleh Alin FM
Praktisi Multimedia dan Penulis

Posting Komentar

0 Komentar