TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Astaghfirullah, Zina Merebak Meski di Tengah Wabah


Di tengah pandemi ini masalah demi masalah bermunculan, kesehatan terancam, ekonomi kekurangan, dan masih ada aja yang melakukan maksiat, seharusnya moment terjadinya wabah ini dijadikan ajang introfeksi diri, ini malah nambah-nambah dosa..astagfirulloh. Baru baru ini ada berita di sebuah rumah di Dusun Sayang, RT 04/07, Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat,  digerebek warga. Pengerebekan oleh warga itu akibat diduga rumah tersebut dijadikan tempat kumpul kebo alias mesum. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Notif dari warga setempat, penggerebekan tersebut terjadi pada Senin 1 Juni 2020, malam. notif.id/2020

Perzinahan tetap saja merebak. Fenomena prostitusi tak kunjung hentinya, bisnis prostitusi bahkan semakin berkembang dengan semakin majunya teknologi. Miris melihatnya, ditengah wabah ini seharusnya mendekatkan diri pada allah dengan menjalankan segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, menjadi pribadi yang lebih taat dan bertakwa, bukan malah sengaja melakukan maksiat. Bagaimana tidak? Bukankah kita ingin pandemi ini segera berakhir? Maka salah satu caranya adalah dengan kita meminta pada dzat yang maha kuasa Allah Swt. untuk segera mengambil kembali pasukannya yaitu virus corona ini.

Kapitalisme telah menjadikan materi duniawi sebagai tolak ukur kebahagiaan. Tuntunan glamor, gaya hidup mewah seakan-akan menjadi keharusan sehingga jatuh kepada kenestapaan materi dunia yang menipu. Inilah bukti bobroknya sistem kapitalisme. Kapitalisme adalah sistem rusak yang melanggengkan kerusakan.

Saat ini standar perbuatan yang kebayakan dilakukan oleh masyarakat tidak lagi halal dan haram dalam syariat Islam namun kemanfaatan. Dalam Islam tidak ada kebebasan berperilaku, setiap muslim wajib terikat dengan hukum syara' dalam segala aktivitasnya baik dalam hal privat maupun publik. Islam sesungguhnya memiliki seperangkat aturan yang mengatur cara mencegah dan mengatasi prostitusi/perzinahan. 

Begitu pun dalam pergaulan Islam yang mengatur kita untuk menjaga kehormatan, menjaga aurat, dan menjaga interaksi dengan lawan jenis ataupun sesama jenis, ada larangan khalwat, ikhtilat, menjaga pandangan. Islam memiliki jalan tersendiri sehingga tidak membuat terjerumus dalam zina. Segala jalan menuju zina dengan berdua-duaan baik yang langsung tatap muka atau sekedar sms-an, janji ketemuan (nge-date), menatap wajah wanita yang bukan mahrom dan berjabat tangan itu semua terlarang karena termasuk dalam keumuman larangan Allah,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32)

Dalam hal ekonomi, sesungguhnya Islam mempunyai seperangkat aturan, sistem yang mana dengannya dapat meratakan distribusi kekayaan di tengah masyarakat, negara memiliki kewajiban menyediakan lapangan pekerjaan yakni pekerjaan yang layak dan mumpuni bagi setiap lelaki untuk mencukupi nafkah dalam keluarganya. Dari hal ini kita bisa melihat bagaimana perekonomian saat ini, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, mendapatkan pekerjaan pun susah di tambah lagi pandemi ini belum berakhir, sehingga ekonomi semakin terpuruk. Tapi itu bukan alasan untuk mencari rezeki lewat cara yang haram.

Kemudian Islam mengatur mengenai sistem saksi dalam Islam khususnya mengenai hukum bagi perzinahan.

اَلزَّانِيَةُ وَالزَّانِيْ فَاجْلِدُوْا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَّلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۚ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah merasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kaum beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman. (Qs. An-Nur : 2).
Dari 'Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خُذُوا عَنِّى, خُذُوا عَنِّى, قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلاً. الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْىُ سَنَةٍ, وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ.
"Ambillah dariku! Ambillah dariku! Sesungguhnya Allâh telah menjadikan untuk mereka (para wanita yang berzina) jalan keluar. Perzinaan antara yang belum menikah dengan yang belum menikah adalah didera sebanyak 100 kali dan diasingkan selama setahun, sedangkan perzinaan antara orang yang sudah menikah dengan yang sudah menikah adalah didera sebanyak 100 kali dan dirajam.” (HR Muslim).

Zina merupakan dosa besar, bagi pelaku zina Islam memberi hukuman yang tegas. Pelaku zina dibagi menjadi dua yakni ada yang berstatus telah menikah (Al-Muhshan) dan ada pula yang belum menikah (Al-Bikr). Keduanya memiliki hukuman yang berbeda.

Pezina Al-Muhshan dihukum dengan rajam (dilempar dengan batu hingga meninggal). Seorang dikatakan Al-Muhshan pun harus memenuhi kreteria-kreteria seperti pernah melakukan jima' berdasarkan pernikahan yang sah, baligh dan berakal, bukan budak belian,dsb.

Sedangkan hukuman bagi pezina yang tidak Al-Muhsan maka dicambuk sebanyak seratus kali dan diasingkan selama setahun.
Sedangkan bagi pelaku bisnis prostitusi yang tidak berbuat zina, misal mucikarinya maka Islam menyerahkan kepada Khalifah untuk menjatuhkan sanksi yang berefek jera.

Ibnu Taimiyah berkata :
"Penegakan hudud adalah kewajiban pemimpin, yaitu dengan menetapkan hukuman bagi siapa saja yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram". (Ibnu Taimiyah, Al-Hisbah, hal. 55). Hukuman tersebut diperlihatkan kepada masyarakat agar tidak hanya menimbulkan efek jera bagi pelaku tapi juga bagi yang belum melakukannya. Sanksi pidana Islam sesungguhnya sebagai jawabir (penebus siksa akhirat).

Jadi ada jaminan bahwa perbuatan yang telah dihukum di dunia berdasarkan syariat Islam maka tidak akan ada hukuman lagi di akhirat dan sebagai jawazir (pencegah terjadinya tindak kriminal yang baru terulang kembali/efek jera). Maka Islam adalah satu-satunya solusi terbaik atas permasalahan ini karena syariat Islam adalah hukum yang terbaik. Terlebih dimasa pandemi ini seharusnya jadi ajang kita muhasabah diri dan bertaqorrub pada Allah.[]

Oleh : Habibah, AM.Keb 

Posting Komentar

0 Komentar