Astaghfirullah, Gaji ke-13 Mundur?


Gaji ke-13 yang biasa didapatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada bulan Juli atau saat tahun ajaran baru pendidikan sekolah dipastikan akan mundur. Kemungkinan kebijakan gaji ke-13 akan dibahas pada Oktober atau November mendatang.

Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengungkapkan ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan. Khususnya karena negara sedang membutuhkan uang dalam penanganan COVID-19.(cnbc.indonesia.com, 25/4/2020)

Saat terjadi krisis ekonomi yang kian parah tentu saja gaji ke-13 menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh para ASN dan PNS. Menunda memberikan gaji dengan alasan terjadi pendemi covid19 merupakan bentuk kezaliman. Karena penghasilan mereka yang sebelumnya sudah pas-pasan dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka bersama keluarga.

Apalagi gaji mereka pun sudah dipotong untuk berbagai program. Mulai program BPJS kesehatan yang tarifnya terus meningkat, program BPJS ketenagakerjaan, jaminan hari tua dan yang terbaru program TAPERA dan masih banyak lagi pemotongan gaji lainnya.

Ironisnya mereka sering menggunakan dalih demi kepentingan rakyat. Padahal disaat yang sama, negara justru mengucurkan dana untuk kepentingan kelompok pemilik modal atas nama upaya memulihkan ekonomi nasional yang terpuruk akibat dari pandemi global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan pemerintah mengalokasikan tambahan dana dukungan bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) total sebesar Rp 149,29 triliun yang terkena dampak pandemi Covid-19
dalam bentuk subsidi, kompensasi, PNM (penyertaan modal negara), dan dana talangan. (republika.co.id, 18/5/2020)

Sementara sebelumnya ada upaya program pemberian subsidi pajak bagi beberapa sektor usaha serta program penurunan tarif listrik untuk industri yang terdampak pandemi covid19.

Mengapa untuk membayar gaji pegawai yang menjadi hak mereka justru diabaikan bahkan belum ada pembahasan. Demikianlah sangat nampak pemerintah lepas tangan dalam mengurus rakyatnya. Sebab pemerintah hanya bertindak sebagai regulator akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalis.

Sistem kapitalis ini memberi kesempatan munculnya raksasa-raksasa ekonomi yang menguasai penuh berbagai faktor ekonomi termasuk modal. Bahkan kekuatan modal ini mencengkram berbagai bidang termasuk politik kekuasaan. Maka,  terwujudlah pola hubungan penguasa dengan pengusaha sebagai simbiosis mutualisme. Namun di pihak lain antara penguasa dan rakyatnya justru terjalin hubungan layaknya pembeli dan pedagang. 

Bahkan kepentingan pengusaha diletakkan diatas kepentingan rakyat. Artinya jika kepentingan keduanya berbenturan sudah pasti rakyatlah yang akan dikorbankan.

Berbeda dengan sistem Islam. Islam telah menempatkan penguasa sebagai pengatur dan pelindung dunia akhirat bagi rakyatnya.

Imam adalah Perisai

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Sebagai perisai umat maka pemimpin akan benar-benar memastikan kesejahteraan rakyatnya satu persatu. Kesejahteraan di sini artinya adalah terpenuhinya kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan, kebutuhan dasar pendidikan, kesehatan dan keamanan.

Dengan menerapkan sistem aturan Islam dapat dipastikan akan membawa kebaikan, keadilan dan keberkahan bagi semua. Hal ini karena sistem Islam tersebut berasal dari Allah SWT pemilik alam semesta.

Sebagai sebuah sistem negara. Khalifah akan mencari solusi agar kebutuhan pokok dapat terpenuhi. Hal tersebut bukanlah utopis, sebab dalam sistem khilafah sumber daya alam mutlak adalah kepemilikan umum yang dikelola oleh negara tanpa intervensi asing maupun aseng. Pengolahan dan pengelolaan yang mandiri oleh negara di wilayahnya sendiri. Pengeloaan sumber daya alam ini berpotensi membuka lapangan pekerjaan yang sangat luas bagi rakyatnya.

Khilafah juga pasti akan mencegah tindak kezaliman yang dilakukan seseorang  kepada pihak lainnya. Termasuk dalam akad pekerjaan sebagai penerapan keseluruhan hukum syariat. Penghasilan atau gaji dalam pandangan syariat Islam tidak berhubungan dengan apakah terjadi wabah atau tidak. Apakah mereka sudah tercukupi kebutuhannya atau tidak. Akan tetapi ini adalah masalah kewajiban membayarkan gaji kepada pegawai yang telah menunaikan kewajibannya.

Dalam hadisnya Rasulullah bersabda : "Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering." (HR. Ibnu Majah)

Imam al-Munawi mengatakan, seorang majikan yang menunda pemberian gaji, berarti ia sudah melakukan kezaliman kepada pekerjanya. "Diharamkan menunda pemberian gaji, padahal ia mampu menunaikannya tepat waktu. Yang dimaksud memberikan gaji sebelum keringat si pekerja kering adalah ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan gaji setelah pekerjaan itu selesai. Ketika si pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya telah kering," demikian disebutkan al Munawi dalam Faidhul Qodir (jilid 1: hal 718).

Tidak ada alasan untuk tidak membayar upah apabila pekerjaan yang ditugaskan kepada pekerja telah selesai dikerjakannya. Bahkan dalam salah satu hadis qudsi orang yang tidak mau membayar upah dinyatakan sebagai musuh Allah sebagaimana dalam hadis berikut :

"Abu Hurairah berkata bahwa Rasul bersabda firman Allah: ada tiga yang menjadi musuh Saya di hari kiamat, 1. Orang yang berjanji pada-Ku kemudian ia melanggarnya 2. Orang yang menjual orang merdeka lalu ia memakan hasil penjualannya 3. Orang yang mempekerjakan orang lain yang diminta menyelesaikan tugasnya, lalu ia tidak membayar upahnya)."[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar