Apakah Menekan Angka Baby Boom Solusi?


Fenomena baby boom jadi momok yang sangat menarik perhatian ditengah-tengah kekhawatiran masyarakat dan pemerintah akan wabah Covid-19 ini. Dikutip dari Wikipedia, Baby boom adalah periode yang ditandai dengan peningkatan angka kelahiran yang signifikan.

Baby Boom sendiri bukan hanya kali ini saja terjadi di tengah-tengah masyarakat dunia. Baby boom ini pernah terjadi di pertengahan abad ke-20 dimana kala itu baru saja selesai perang dunia ke-II, di dunia bagian Barat. Faktor yang menyebabkan Baby Boom terjadi adalah peningkatan angka pernikahan, peningkatan angka kelahiran, dan penurunan angka kematian.
  
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) perwakilan Provinsi Kalimantan Barat, Tenny Calvenny Soriton menyampaikan bahwa mengantisipasi Baby Boom di Kalimantan Barat dengan mengupayakan pendistribusian alat kontrasepsi di Fasilitas Kesehatan yang ada di 14 kabupaten kota di Kalimantan Barat. Sehingga Ia pastikan di Faskes keberadaan alat kontrasepsi tidak terjadi kekosongan. Para penyuluh KB di 14 kabupaten kota juga diminta Tenny untuk melakukan "Jemput Bola" dalam melayani masyarakat. Disana, para penyuluh KB mendustribusikan alat kontrasepsi sekaligus pelayanan ke rumah-rumah sasar. Penyuluh KB juga diminta mensosialisasikan informasi tentang Covid-19. (Pontianakpost.co.id, 5/6)

Tanpa menekan baby boom, sebenarnya kebijakan New Normal yang kini di gembar-gemborkan dapat berpotensi meningkatkan kembali kematian masyarakat akibat wabah, terutama anak-anak dan bayi. Mengingat kebijakan New Normal ini akan membuka kembali sekolah-sekolah dan lembaga kemasyarakatan yang sebelumnya di tutup karena wabah melanda. Jika terjadi kekurangan generasi, ini juga akan menjadi masalah bagi Indonesia di masa depan.

Seharusnya wabah Covid-19 lah yang ditekan dan dibereskan terlebih dahulu sebelum ada kebijakan New Normal. Karena jika New Normal kita jalankan namun wabah masih tetap ada, tidak menutup kemungkinan puncak wabah masih akan terjadi, bahkan akan menciptakan gelombang kedua wabah. 

Dalam Kitab Ash-Shahihain diceritakan tentang Khalifah Umar bin Khattab Ra menyelesaikan wabah di salah satu wilayah Daulah Khilafah yaitu Negeri Syam. Khalifah Umar tak langsung mengambil keputusan langsung begitu saja. Beliau bermusyawarah dan mendengar masukan dari para sahabat-sahabatnya dan kaum Muslim saat itu. Kemudian akhirnya mengambil kebijakan lockdown/karantina wilayah yang terkena wabah sesuai metode Rasulullah SAW yaitu jangan memasuki dan keluar dari wilayah yang terkena wabah.

Dalam kondisi di tengah merebaknya wabah penyakit ini, Khalifah Umar telah mengambil keputusan yang berbobot. Tujuannya tak lain adalah menyelamatkan lebih banyak kaum muslim dan manusia secara umum agar tidak dibinasakan oleh wabah penyakit.

Khalifah Umar telah mempraktikkan sendiri apa yang pernah beliau ucapkan. Yaitu, nasihatnya ketika manusia menghadapi masalah yaitu dengan berkonsultasi dan memusyawarahkan kepada yang lebih ahli. Tentu bermusyawarah dengan para ahli yang tak sekedar mumpuni dalam bidangnya, juga mereka paham dan berpedoman pada al-Qur'an dan as-Sunnah.

Nah, rezim saat ini menyelesaikan masalah bermusyawarah dengan siapa?

Berbagai kebijakan yang dikeluarkan rezim memang menolak menerapkan lockdown yang memiliki konsekuensi terhadap pemenuhan kebutuhan asasi rakyat. Konsep lockdown atau penguncian agar wabah tidak meluas melewati wilayah asalnya, telah diabaikan oleh WHO dengan IHR-2005 sebagai penyelesai masalah dan ini diikuti oleh Indonesia sebagai negara pengekor. 

Suatu kedangkalan berpikir jika lebih mengutamakan alasan ekonomi daripada nyawa rakyat. Sebelum ada wabah pun, sistem ekonomi kapitalisme telah gagal menyejahterakan rakyat. Apalagi ketika wabah, pengangguran dan kemiskinan pun meningkat, menambah kekhawatiran saat terjadi baby boom.

Allah SWT berfirman yang artinya :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (TQS. al-A’raaf: 96-99).

Suatu masalah haruslah diselesaikan dengan solusi, bukan seperti sistem kapitalisme yang menyelesaikan masalah dengan masalah. Allah SWT pemilik seluruh alam semesta dan kehidupan. Maka carilah solusi pada penciptanya yaitu Allah SWT, yang menurunkan Islam sebagai solusi hidup manusia dan menjadikan Khilafah sebagai ajaran Islam yang jika ada keberadaannya akan memberikan titik terang sebagaimana Khalifah Umar menyelesaikan problem di wilayah Negara Khilafah yang dipimpinnya. Wallahu'alam.[]

Oleh : Mia Hamidah (Aktivis) dan Sri Wahyu Indawati, M.Pd (Inspirator Smart Parents)

Posting Komentar

0 Komentar