TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Antara 67% dan Peringkat 97


Jubir Kepresidenan Fadjroel Rachman menilai tingkat kepercayaan masyarakat kepada presiden Joko Widodo dalam menangani wabah Covid-19 cukup tinggi (kompas.tv, 08/06/2020). Berdasarkan hasil survei indikator politik Indonesia pada bulan Mei 2020, tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja Presiden sebesar 66,5 persen. Mengalami penurunan dibanding bulan Februari 2020 sebesar 69,5 persen. 

Di laman berita yang lain. Indonesia berada di peringkat ke 97 dari 100 negara dianggap paling aman dari virus Corona. Pemeringkatan yang Dilansir oleh majalah Forbes itu merupakan hasil survei dari perusahaan dan organisasi nirlaba asal Hongkong, Deep Knowledge Group (republika.co.id, 09/06/2020). Dengan kata lain, Indonesia tidak aman dari virus Corona. 

Terjadi kontradiksi antara kedua hasil survei di atas. Yang satu memberi hasil memuaskan. Maknanya, penanganan virus Covid-19 oleh pemerintah sudah sesuai prosedur kesehatan dan memberikan rasa aman bagi rakyat. Sementara survei yang lain, menempatkan Indonesia di nomor 4 dari bawah, negara aman dari Corona. Manakah yang bisa kita percaya? 

Bukan sekali ini dunia internasional meragukan kemampuan Indonesia menangani wabah. Februari 2020, sebulan sebelum diumumkannya kasus positif corona pertama kali, banyak yang mempertanyakan klaim Indonesia bebas Corona. Menanggapi hal itu, Menkes justru menantang para peneliti dunia terjun langsung ke Indonesia.

Dan ketika ada drama menyambut kesembuhan klaster pertama, pahamlah kita bagaimana karakter penguasa negeri +62. Sibuk dengan pencitraan, menutupi ketidakpiawaian diri mengelola negeri. 

Sebenarnya drama konferensi pers kesembuhan pasien covid berbalut baju kebaya itu terasa basi. Karena kasus positif covid telah meningkat drastis, dan hampir semua wilayah Indonesia telah terpapar virus. 

Tagar Indonesia terserah, wujud kekecewaan para tenaga medis. Ketika banyak tenaga medis yang gugur sebagai syahid, terpapar virus covid. Pemerintah justru membuka beberapa fasilitas umum. Padahal jumlah tenaga medis takkan pernah sebanding dengan jumlah pasien. Janji di beri intensif, hingga sekarang tak cair jua. Menuntut hak malah berbuah pemecatan. Apakah bisa dikatakan memuaskan? 

Saat pertambahan kasus positif covid mencapai rekor, hingga 1.000 orang perhari. Di saat itu malah PSBB dilonggarkan dengan alasan ekonomi. Ternyata nyawa manusia tak lagi berharga dibandingkan duit. Menkeu berseloroh, sebanyak Rp5.000 triliun hilang jika masyarakat di rumah saja. 

Badai PHK tak bisa dibendung, ABK WNI di kapal China diperbudak, 500 TKA asal China justru datangkan. Iuran BPJS dinaikkan, ditambah iuran Tapera yang semakin mengurangi gaji pegawai. Tagihan listrik yang melonjak dan harga kebutuhan pokok nyaris tak terjangkau.

Saat rakyat berperang melawan corona sekaligus bertahan hidup dengan bekerja seadanya, penguasa justru sibuk mengamankan kedudukan. Mengangkat isu terorisme dan radikalisme di beberapa daerah. Membahas RUU Omnibus Law. Mengesahkan UU Minerba yang menguntungkan kapital. Buru-buru menjadikan Perppu Corona menjadi UU agar punya imunitas hukum dalam menggunakan uang negara. 

Ketika ada yang mengkritik sikap pemerintah yang gagap dan gagal menangani wabah, ancaman jeruji besi menanti. Apakah itu yang disebut memuaskan? 

Sikap penguasa saat ini merupakan cerminan peradaban kapitalisme. Peradaban yang menjadikan penguasa mencintai jabatan dan harta melebihi dari rasa takut akan hari pertanggungjawaban. Peradaban yang melahirkan pemimpin ruwabidhoh dan tak mampu menyelesaikan masalah. Sibuk mengangkat citra diri namun urusan rakyat terbengkalai. 

Sungguh, jika peradaban kapitalisme ini terus bercokol, bukan tidak mungkin manusia akan musnah ditelan virus Corona. Kapitalisme telah gagal mengatasi wabah. Dan membiarkan nyawa manusia melayang demi berputarnya roda ekonomi. 

Kita memerlukan sistem yang melahirkan pemimpin yang all out mengurusi rakyatnya. Pemimpin yang tidak memerlukan pencitraan. Karena baginya, amanah kepemimpinan teramat berat pertanggungjawaban di akhirat kelak. Namun jika ia mampu menjalankannya dengan amanah maka Allah akan memberikan naungan saat tak ada naungan selain Allah di hari kiamat kelak. 

Pemimpin amanah, adil, kompeten, dan bertanggung jawab adalah hasil dari peradaban Islam. Sebuah peradaban yang menerapkan syariat Islam kaffah. Penerapan syariat Islam akan membawa seluruh penduduk negeri kepada kesejahteraan dan keberkahan hidup. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-A'raf ayat 96. Wallahu'alam. []

Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd
Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar