TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ajaran Baru di Tengah Corona?


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia telah menyatakan, Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020. Meski Indonesia sedang menghadapi Pandemi, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kemendikbud, Hamid Muhammad, menegaskan  pihaknya  tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari (kumparan.com, 01/06/20).

Pernyataan tersebut tentu membuat polemik dimasyarakat. Sebagaimana kita ketahui, saat ini kita masih berperang melawan COVID-19. Wabah yang telah menyerang negeri ini sejak awal Maret kemarin. Hampir tiga bulan lebih wabah tersebut masih menghantui negeri ini. Selama itu juga, berbagai pelayanan publik terkendala. Seperti halnya sekolah. Semenjak wabah ini ada, sekolah tidak lagi mengadakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka, tapi berpindah secara online. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyebaran wabah dimasyarakat terutama dilingkungan sekolah.

Namun disaat kasus terus meningkat setiap harinya, Kemendikbud berencana untuk melaksanakan tahun Ajaran Baru 2020/2021 pada 13 Juli 2020 mendatang. Sebelumnya Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kemendikbud dan Kemenag terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020. Langkah pembukaan sekolah dikhawatirkan mengancam kesehatan anak karena penyebaran virus corona (covid-19) belum menurun. Bahkan kasus covid-19 pada anak di Indonesia cukup besar dibandingkan Negara lain (okezone.com, 27/05/20).

Menurut data IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), hingga tanggal 18 Mei 2020 jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) anak sebanyak 3.324 kasus. Sedangkan jumlah anak yang berstatus PDP meninggal sebanyak 129 orang dan 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19, dan 14 anak dinyatakan meninggal dunia akibat COVID-19 (kumparan.com, 01/06/20). Data ini tentu akan terus bertambah hingga hari ini.

Andai pun sekolah tetap dibuka pada Juli mendatang dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat oleh pihak sekolah, tapi kita tetap tidak bisa menjamin keselamatan anak-anak. Kelalaian dapat saja terjadi, entah itu dari pihak sekolah ataupun dari anak-anak itu sendiri yang tidak terbiasa dengan penggunaan masker selama berjam-jam. Sebagai orang tua, tentu kita tidak mau anak-anak kita harus menjadi korban akibat wabah ini. Wajar bila orang tua sangat menyanyangkan pernyataan Kemendikbud tersebut. Apalagi disaat kasus COVID-19 terus meningkat setiap harinya.

Inilah kebijakan yang dinilai kurang tepat dan kurang bijak. Kebijakan ini pun juga dinilai sebagai bentuk pemulihan ekonomi akibat COVID-19. Inilah watak dari rezim kapitalisme, dimana lebih mementingkan materi daripada urusan keselamatan nyawa manusia. Ini berbeda jauh dari apa yang diharapkan islam dalam menangani wabah. Ketika islam sebagai jalan alternatif untuk pemecahan masalah hari ini, ia menghadirkan berbagai paduan hidup yang membawa manusia pada kemaslahatan.

Ketika wabah menyerang suatu wilayah, maka hal pertama yang dilakukan oleh khalifah adalah menyelamatkan nyawa rakyatnya dengan melakukan lockdown atau karantina wilayah. Selanjutnya khalifah akan menjamin kebutuhan hidup rakyatnya selama lockdown. Khalifah juga akan menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas untuk mengobati para pasien yang terkena wabah. Selain itu, khalifah juga akan berusaha mencari vaksin dengan alat kesehatan yang berkualitas. 

Dalam islam nyawa manusia adalah sesuatu yang berharga, sehingga khalifah benar-benar serius dalam  melindungi rakyatnya. Tidak seperti hari ini, yang tanpa sadar kebijakannya membawa pada penderitaan bagi rakyatnya. Wallahu’alam.

Oleh Sarinah A.
Penggiat Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar