TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

World Bank, Penolong atau Penyolong?


Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menyetujui pendanaan senilai 700 juta dolar AS (sekitar 10,5 triliun) untuk Indonesia dalam mengatasi dampak Covid-19 di Indonesia. Dana tersebut untuk meningkatkan sistem perlindungan sosial maupun memperkuat sektor keuangan (Republika.co.id, 16/5/2020).

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Satu Kahkonen mengatakan bantuan ini dibutuhkan karena sifat dan jangkauan Covid-19 belum pernah terjadi sebelumnya. "Untuk Indonesia, kami mendukung pemerintah terus fokus pada perlindungan penduduk yang paling rentan dan berisiko tinggi serta meningkatkan kesiapsiagaan darurat untuk sektor-sektor prioritas," katanya, Sabtu (16/5).  

Ia melanjutkan, dalam jangka panjang, kesiapan dan kemampuan untuk meminimalisasi dampak tersebut sangat penting bagi upaya berkelanjutan untuk mengurangi kemiskinan dan melindungi sumber daya manusia.

Mencermati apa yang disampaikan oleh Satu Kahkonen bahwa  adanya utang dimaksudkan untuk mengurangi kemiskinan dan melindungi SDM. Benarkah  utang luar negeri  mampu mengatasi  kemiskinan dan  melindungi SDM?

Entah apa yang menjadi dasar  untuk mempercayai bahwa Bank Dunia  berbaik hati untuk membantu mengatasi pandemi dan kesulitan negari ini.  Apakah tak pernah kita pikirkan bahwa dibalik Word Bank ada negara-negara besar seperti Amerika Serikat?  Amerika tak pernah puas dengan imperialismenya, termasuk imperialisme ekonomi.  Faktanya,  utang luar negeri  telah dijadikan strategi imperialisme  gaya baru. 

Betapa tidak?  Lazimnya, Bank Dunia   tak akan memberi pinjaman sebelum  mengetahui kemampuan ekonomi suatu negara.   Melalui ahli-ahli keuangan yang dikirimnya,  mereka menentukan jumlah pinjaman yang diberikan.  Selain itu, mereka pun memberikan syarat-syarat yang ketat sebelum menyetujui pinjaman tersebut. Disinilah pintu penjajahan  ekonomi menjadi terbuka.  Mereka bebas  turut campur dalam urusan dalam negeri negara yang berutang. 

Kita  menyaksikan betapa negeri ini tak berdaulat dalam mengatur kebijakan ekonominya sendiri. Pencabutan subsidi, liberalisasi bidang  kesehatan , pendidikan, energi, pariwisata, kerja sama dagang adalah sederetan racun  pahit yang harus di telan rakyat akibat terjerat utang.  

Alih-alih rakyat makin sejahtera , justru makin sengsara akibat kebijakan yang dipengaruhi  pihak pendonor  hutang.
Belum lagi,  pengembalian hutang harus berbentuk dolar dan ribawi.  Makin membuat APBN yang makin berat.  

Pengembalian cicilan  utang  berbentuk dolar ini tentu saja makin menguras devisa negara.  Bahkan cicilan hutang berikut bunganya lebih besar jumlahnya dari pinjaman baru.  Agar pemasukan negara bisa maksimal, negara pun  harus menjadi raja tega terhadap rakyatnya.  Negara mewajibkan pajak bagi yang  tak mampu sekali pun.  Baik berbentuk Pajak Bumi Bangunan (PBB), pajak kendaraan bermotor, pajak pertambahan nilai, serta pajak pajak lainnya.

Sungguh tak ada sedikitpun kebaikan yang diperoleh rakyat melainkan makin menjerumuskan rakyat dalam kesempitan hidup dan jurang kemiskinan.  Yang terjadi justru sebaliknya hutang telah membuka pintu bagi pendonor untuk menyolong kedaulatan politik, ekonomi bahkan harta kekayaan  negeri ini.  Tidakkah kita ingat dengan peringatan Allah SWT, dalam Al Qur’an:

 "Orang-orang   Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu, hingga kamu mengikuti agama mereka”  (TQS Al Baqarah 120).

Selama berabad-abad lamanya, Islam sudah menunjukkan keunggulannya dalam menyejahterakan rakyat dengan sistem ekonominya.  Namun sejak umat ini meninggalkan sistem ini, umat islam menjadi tergantung belas kasihan negara-negara lain.  Bahkan menjadi obyek imperialisme Barat.

Sungguh, tak ada jalan lain bagi negeri ini untuk melepaskan diri dari jeratan imperialisme negara penjajah melainkan dengan kembali menerapkan Islam secara Kaffah.  Penerapan  sistem ekonomi Islam  akan mampu mensejahterakan rakyat tanpa harus mengharap iba dari negara kafir penjajah.[]

Oleh : Desi Yunise, S.TP
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Posting Komentar

0 Komentar