TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Untuk Siapa Wacana PSBB Dilonggarkan?

sumber foto: instagram.com akun hanyaive

Masyarakat kian panik, berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah guna meredam gejolak meluasnya penyebaran covid-19 belum juga menampakkan hasil. Dibutuhkan rencana dan strategi yang jitu,bukan sebatas solusi tambal sulam sehingga nampak tak konsekuen dan inkonsisten terbaca oleh rakyat. 

Sebagaimana baru-baru ini, pemerintah telah memberlakukan relaksasi kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Kebijakan ini  sepertinya terlalu terburu-buru dan memaksa, melihat perkembangan penyebaran virus ini masih sulit dikendalikan. Di Jawa Timur misalnya masih menjadi penyumbang terbanyak kasus penyebaran covid-19. (Jawa Pos.com, 22/5/2020) 

Banyak yang mempertanyakan bahwa upaya relaksasi PSBB adalah bertujuan untuk kepentingan bisnis semata. Semenjak pemberlakuan PSBB, ratusan perusahaan  terpaksa gulung tikar yang pastinya menyebabkan PHK semakin banyak, inilah salah satu yang menyebabkan kondisi perekonomian negeri ini semakin terpuruk. 

Belum lagi adanya kebijakan pemerintah yang mengizinkan pulang kampung, mudik lokal, membuka bandara dan kereta jarak jauh yang pada awalnya hanya diberlakukan untuk para pebisnis. Namun sekarang bisa di akses oleh masyarakat umum. 

Sikap inilah yang menampakkan bahwa pemerintah inkonsisten dan tak konsekuen terhadap kebijakan yang dibuatnya. 

Akibat Pelonggaran PSBB

Jika ini diberlakukan, maka akan berakibat memperpanjang masa pandemi dan hal-hal yang menjadi akibatnya. Serta semakin mempersulit upaya memutus rantai penyebaran virus bahkan akan memicu gelombang kedua derita Corona. 

Beberapa negara yang telah melonggarkan PSBB juga tak luput dari bahaya gelombang ke dua pandemi ini sebagaimana China, Korea Selatan, Jerman, Orang dan India. (Detik.com, 12/05/2020) Sebagaimana yang terjadi di Finlandia, saat sekolah dibuka kembali paska kebijakan karantina wilayah, siswa dan guru terkena covid-19 dan jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya. (Mediaindonesia.com, 23/5/2020) 

Aroma Tekanan Para Pebisnis Dibalik Kebijakan PSBB

Sangat berasa, para oligarki dan elit di Indonesia sudah menguasai sistem Demokrasi dan mengontrolnya, sehingga Indonesia kini milik oligarki Demokrasi. 

Sistem Kapitalis Demokrasi meniscayakan kepentingan para kapitalis. Pemerintah bekerja untuk kepentingan bisnis, bahkan semakin nampak upaya berlepas tangan negara dari kewajibannya sebagai pelayan rakyat. 

Keberpihakan pemerintah pada para pengusaha yang menjadi penyokong dana untuk kampanye mereka, telah mencabut urat peduli negara pada rakyatnya. Kepentingan korporasi adalah konsentrasi penguasa saat ini ditengah jeritan rakyat meminta empati. 

Islam Memiliki Solusi Yang Solutif. 

Dengan memahamkan bahwa semua musibah yang terjadi adalah bagian dari qodarullah, namun islam juga memerintahkan kepada manusia harus tetap berikhtiar mengatasinya dan melarang manusia untuk berputus asa. 

Solusi yang diambil harus berbasis Islam. Diantaranya terkait mekanisme anggaran harus fleksible dan cepat dalam upaya penanganan. Kebijakan yang praktis harus segera dilakukan oleh negara, seperti melakukan tes dan tracing secara cepat. Menjaga ketat wilayah wabah,bagi yang tidak terdampak perlu dijaga agar tetap produktif tanpa khawatir tertular. 

Negara menjamin segala kebutuhan rakyat selama karantina wilayah agar tidak terjadi kasus kemiskinan dan kelaparan. Meningkatkan sistem kesehatan, fasilitas, obat-obatan dan mendorong para ilmuwan menemukan vaksin/obat secara tepat. Serta memotivasi rakyat untuk mentaati peraturan kesehatan,saling membantu atas dasar taqwa dan keimanan. InsyaaAllah masalah covid akan berahir dan semua akan mendapatkan ridho Allah SWT. 

Sungguh islam nampak sangat mensolusi, setiap bentuk kebijakan yang diterapkan negara adalah yang dibutuhkan untuk melihara urusan rakyat bukan seperti solusi di sistem Demokrasi, kepentingan korporasi diutamakan, kebutuhan rakyat cenderung diabaikan. Saatnya kembali merujuk pada sistem islam yang mensejahterakan.[]

Oleh: Nayla Mujahidah (Muslimah Peduli Generasi) 

Posting Komentar

0 Komentar