TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Tidak Akan Pernah Sebuah Kehidupan Yang Normal, Kecuali Kehidupan Yang diatur Dengan Syariah Islam


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dapat kita ketahui bahwa kata Normal itu diantaranya bermakna :

menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa [https://kbbi.web.id/normal]

Dari definisi diatas, maka seharusnya kita bisa menilai bahwa kehidupan yang sedang kita jalani sekarang adalah sesuatu yang tidak normal. Kenapa? Karena kita hidup tidak mengikuti aturan.

Aturan dari siapa? Yakni aturan dari Sang Khaliq, bukan mengikuti aturan dari sesama makhluq.

Karena aturan yang dibuat oleh sesama makhluq tidak sesuai dengan fitrah manusia. Fitrah manusia yang serba lemah, terbatas dan kurang, tentu tidak bisa membuat aturan bagi makhluq yang lain, karena ada nya sifat lemah, terbatas dan kurang tadi.

Jika aturan itu tetap dibuat, maka yang terjadi adalah adanya rasa ketidakadilan terhadap aturan yang dilakukan. Karena aturan yang dibuat cenderung untuk memenuhi kepentingan diri sendiri atau suatu golongan.

Berbeda jika aturan itu datang dari Sang Khaliq. Dimana Sang Khaliq tentu tidak bersifat terbatas, lemah ataupun kurang. Dia pun tidak memiliki kepentingan apa-apa kepada makhluq-Nya.

Jika makhluqnya mengikuti aturan, maka itu untuk makhluqnya itu sendiri, pun ketika makhluq tersebut tidak mau mentaati aturan, maka Sang Khaliq tidak mengalami kerugian apa-apa, malahan yang mendapatkan kerugian adalah makhluq yang tidak mau taat itu sendiri.

Manusia, saat ia menyadari dirinya adalah makhluq (diciptakan), tentu ia memiliki kesadaran sekaligus bahwa jika ada makhluq, maka tentu ada Sang Khaliq (Sang Pencipta).

Saat ia menyadari bahwa ada Sang Khaliq, tentu ia akan tunduk dan patuh terhadap apa yang diminta oleh sang Pencipta, yakni Allah Swt.

Dan sikap tunduk dan patuh terhadap Sang Khaliq ini adalah sesuatu yang normal. Dan inilah tujuan manusia itu diciptakan, yakni untuk beribadah kepadaNya. Karena ibadah itu sendiri makanya adalah :

 طاعة الله والخضوع له والإلتزام بما شرع من الدين

Taat kepada Allah dan tunduk kepadaNya, dan terikat dengan apa yang disyariatkan oleh agama.

Akan menjadi Abnormal kemudian, jika ada manusia telah sadar bahwa dirinya adalah makhluq, namun dirinya enggan dan tidak mau diatur dengan aturan dari PenciptaNya.

Lagipula, menetapkan hukum itu memang adalah hak-Nya Allah. Sebagaimana firman-Nya :

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (Al An’am :57)

أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al A’raaf: 54)

Dan kehidupan yang diatur dengan syariah Islam (hukum-hukum Allah) tersebutlah yang kemudian akan menjadikan seluruh kehidupan manusia di muka bumi ini menjadi normal.

Kehidupan yang diatur dengan syariah tersebut kemudian akan melahirkan berbagai macam bentuk keadilan dan kesejahteraan. Karena memang saat suatu negeri itu beriman dan bertaqwa, maka keberkahan akan Allah berikan, baik dari langit ataupun dari Bumi.

Sebagaimana Firman-Nya :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96).[]


Oleh : Adi Victoria (Penulis & Aktivis Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar