TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

The New Normal Pariwisata, Kenapa Tidak?

sumber foto: tempo.co

Belakangan ini muncul Istilah the new normal yang digelorakan pemerintah di tengah penyebaran virus corona yang belum usai. The new normal bermakna masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa meskipun Covid-19 belum selesai.

Meski Jokowi belum resmi memutuskan pembukaan kembali aktivitas, namun sejumlah sektor mulai bersiap. Salah satunya, sektor pariwisata dan pendukungnya, yakni perhotelan dan restoran. 

Menanggapi rencana the new normal tersebut, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai saat ini belum tepat untuk membuka kembali aktivitas masyarakat pada umumnya, maupun sektor pariwisata dan pendukungnya secara khusus. 

Senada, Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan jika pemerintah ingin membuka kembali aktivitas, maka sebaiknya mempertimbangkan kurva tambahan pasien positif. Pemerintah, hendaknya juga berkaca dari pengalaman negara lain yang sudah terlebih dulu melonggarkan lockdown. (CNNIndonesia.com, 20/5/2020)

Peluang Bangkitnya Pariwisata di Saat Pandemi

Di tengah minimnya resolusi pemimpin negeri ini  menghadapi wabah covid-19  baik jangka panjang maupun jangka pendek. Malah terus meleburkan diri dengan berbagai istilah. Resolusi tanpa perencanaan dan solusi yang tepat.  Keputusan the new normal untuk pariwisata, patut dipertanyakan. 

Sektor pariwisata selalu jadi primadhona dan anak kandung di negeri ini. Sebab, sektor ini dianggap sebagai salah satu penyumbang devisa negara yang cukup tinggi.  Jadi  wajar, jika  pemerintah  pun mati-matian mencari jalan agar pariwisata  segera bangkit. Pemerintah pun sangat optimis,  jika akhir tahun nanti situasi akan kembali normal.

Rasa percaya diri pemerintah jika di ukur dengan hitungan  kerugian pariwisata disaat pendemi sampai  90% - 100% per bulan, cukup  diragukan. Sebab,  pemerintah  nantinya pasti akan membutuhkan suntikan modal yang sangat besar. Jangan sampai pemerintah membuka pintu utang baru, yang makin memberatkan rakyat. 

Maka, selain memperhatikan masalah biaya pemerintah mestinya memperhatikan  masalah berikut :

Pertama, jika berpedoman dengan angka perkembangan  kurva  covid-19, masih banyak mengalami kenaikan.  Apalagi, disaat menghadapi situasi mudik  lebaran kali ini , bisa saja akan terjadi ledakan ODP, PDP maupun OTG di sejumlah daerah. 

Kedua,  keterbatasan pemerintah menyediaan sejumlah tes corona yang masih diragukan keakuratannya.  Contact tracing yang masih berjalan lambat, rasanya tidak mungkin dalam waktu dekat pemerintah bisa menyiapkan pemetaan  zona hijau dan merah dari corona.

Ketiga,  pemerintah juga harus  mengevaluasi ulang bagaimana kesiapan dan kesiagaan layanan kesehatan dan rumah sakit, termasuk alkes serta tenaga medis. Agar mampu menghadapi kemungkinan terburuk yang ditimbulkan jika new normal pariwisata ini tetap dilakukan.

Keempat ,  kurangnya edukasi dan keteladanan pemimpin negeri ini dalam menghadapi wabah.  Membuat masyarakat   cuek  dan semaunya tanpa mempedulikan protokol kesehatan di tengah pendemi.  Sampai  ungkapan Indonesia Terserah  muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap penanganan pencegahan penyebaran covid-19 di negeri ini.

Inilah saatnya pemerintah berkaca diri. Jangan sampai solusi  yang diberikan basi ditengah jalan. Pemerintah harus jelas menetapkan skala prioritas sektor manakah yang  mesti  diselamatkan agar bisa menopang  roda perekonomian.  Apakah  memang harus sektor pariwisata?

Pariwisata Mesti Berbenah

Jika pemerintah  masih  ingin membenahi pariwisata  dengan cara-cara kapitalisme dan sekularisme. Maka prediksi pandemi covid-19 ini tidak  akan pernah  berakhir, bisa jadi kenyataan .

Persoalan negeri ini bukan hanya sebatas angka dan hitungan grafik belaka. Bukan sebatas hitungan rupiah yang semakin tak bernilai. Juga, bukan saling mencari kelemahan  antara pemimpin dan rakyat. Tapi ini soal keberkahan dan keridhonaan Sang Khaliq. 

Jika memang sektor pariwisata harus dibuka, mustinya kita semua harus berbenah diri. Karena Islam tidak mengharamkan kita untuk berwisata, yang penting sesuai syariat.

Yaitu selama berwisata kita  hendaknya mentadaburi segala yang kita lihat dan rasakan agar semakin dekat dengan Sang Khaliq. 

Bukan dengan cara-cara kapitalisme dan sekularisme yang menjadikan wisata sebagai  ladang kemaksiatan dan keuntungan materi semata. 

Allah SWT juga telah  mengingatkan dalam surah al-Hajj ayat 46 yang artinya;

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai teliga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.

Jadi,  selayaknyalah  kita bangun pariwisata sesuai syariat dan menyempurnakannya dengan penerapan Islam secara kaffah. Agar sektor pariwisata yang kita bangun mengalirkan pahala dan keberkahan bagi kita semua. Aamiin YRA.

Oleh: Sri Nova Sagita

Posting Komentar

0 Komentar