TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Sudahkah Kita Mendapatkan Kemenangan Hakiki?



Tidak terasa Bulan Ramadhan telah berlalu. Kalimat takbir, tahlil dan tahmid serentak terdengar hampir di seluruh rumah-rumah kaum muslimin. Tidak ada takbir keliling ataupun berkumpul di masjid-masjid untuk mengumandangkannya. Karena suasana lebaran tahun ini istimewa, yaitu berlebaran di saat pandemi wabah Corona melanda.

Terbesit rasa sedih di hati kita, sebab kita tidak mengetahui apakah tahun depan kita masih bisa merasakan nikmat Ramadhan. Bulan di mana Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri. Bulan di mana Allah SWT memberikan banyak kasih sayang-Nya kepada kaum muslim. Bulan di mana Allah SWT menjanjikan ampunan terhadap dosa-dosa kita sebelumnya. Bahkan Allah menghapus dosa kita hingga bersih seperti manusia yang baru dilahirkan. Tentu saja ampunan Allah bukannya tanpa perjuangan namun ampunan Allah itu hanya diberikan kepada orang-orang yang beribadah karena dorongan iman dan kesungguhan hati.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Selain berpuasa menahan lapar, dahaga dan segala nafsu dunia, di bulan ramadhan banyak umat islam yang berlomba lomba mengkhatamkan Al quran demi mengejar pahala yang berlipat lipat. Juga mengejar rahmat Allah, terlebih di malam lailatul qadar. Namun membaca Alquran saja tanpa mengamalkan isinya terasa tidak lengkap karena apa saja yang diperintahkan oleh Allah melalui Alquran belum juga kita terapkan di seluruh kehidupan kita. 

Ketika, perhatian publik tercurah pada urusan Covid-19, DPR dan pemerintah justru mengesahkan revisi Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang sarat masalah. Tidak masalah yang menyangkut kepentingan masyarakat dan lingkungan hidup.

Dengan mengesahkan rancangan undang-undang yang ditolak publik pada pemerintahan  periode yang lalu, DPR dan pemerintah seperti menggelar karpet merah bagi korporasi untuk menguasai lahan lebih luas dan lebih lama. Penambangan di area sungai diperluas dari 25 hektare menjadi 100 hektare. Perusahaan pun dapat mengajukan area penunjang pertambangan di luar izin konsesinya. Masa eksplorasi yang sebelumnya dua tahun menjadi hingga delapan tahun.(kolom.tempo.co, 20/5/2020)

Dalam hal penguasaan terhadap aset dan investasi sebagian besar dikuasai asing hal itu bisa dilihat dari penguasaan tambang PMA  (penanaman modal asing) menguasai US$ 4,8 miliar   atau sekitar Rp.57,6 triliun sementara PMDN hanya 18,8 triliun.(Republika, 20/10/2014). 

Artinya penguasaan asing atas pertambangan mencapai 73,39% sementara nasional hanya menguasai 24,601% begitu pula pengusaha asing pada sektor Migas. Ini baru sebagian dari fakta penguasaan asing atas sumber daya kekayaan dan perekonomian negeri ini. Jika konstitusi mengamanatkan bahwa tanah, air dan segala isinya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat fakta yang ada ternyata sangatlah jauh panggang dari api.(al-wa'ie, sya'ban, 1-30 April 2020)

Dalam sistem kapitalis hanya pengusaha yang sejahtera sedangkan rakyat tak sejahtera. Rakyat merasakan sulit meraih bahagia apalagi kemenangan dengan adanya kebijakan pemerintah yang tidak pernah berpihak kepadanya.

Namun kebahagiaan itu bisa dirasakan rakyat dengan sempurna yaitu dengan adanya pemimpin yang adil dan juga melindungi rakyatnya serta menciptakan kesejahteraan dialah pemimpin yang terlahir dari sistem khilafah islamiyah. Tanpa adanya Khilafah maka kebahagiaan kita di negeri ini akan terganggu oleh adanya kebijakan yang dzalim, sehingga menyulitkan teraihnya kebahagiaan.

Pada satu sisi kita telah selesai melaksanakan ibadah kepada Allah. Pada sisi lain rakyat begitu mengalami kesulitan untuk berbuat kebaikan terhadap keluarga, bersilaturahim, mudik dan lain-lain. Dengan adanya tarik ulur aturan mudik, serta pulang kampung yang membingungkan, dibukanya moda transportasi di tengah pandemi Corona, ajakan hidup normal di tengah wabah, kebijakan naiknya listrik dan naiknya iuran BPJS, harga kebutuhan pokok yang mahal dan tidak bisa terjangkau dan lain lain.

Oleh karena itu di moment idul Fitri saat ini, kita wajib mempersiapkan diri untuk mengembalikan posisi hakiki kita sebagai pemimpin peradaban. Pemimpin umat manusia dan mengembalikan sifat asli umat Islam yaitu mewujudkan dan memantaskan diri mendapatkan predikat sebagai umat terbaik.Dalam Q.S Al imran : 110

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ


Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Sesungguhnya sifat asli kita sebagai Khoiru ummah dan posisi kita sebagai pemimpin peradaban hanya bisa kita raih tatkala kita mempunyai kekuatan yaitu dengan adanya persatuan.

Mari kita tinggalkan segala identitas, kelompok, golongan, madzhab, partai dan lain-lain. Kita ekspresikan diri sebagai seorang muslim yang menunjukkan komitmen untuk menegakkan hukum-hukum Allah SWT. Karena tanpa tegaknya hukum hukum Allah  tersebut saat ini fakta Menunjukkan kita dipecah-belah kita dipersalahkan, dituding sembarangan, difitnah terus menerus.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya :(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Maka, setelah kita menyempurnakan hitungan puasa kita di bulan Ramadhan. Maka kita diperintahkan untuk mengagungkan Allah SWT terhadap apa yang telah Allah hidayahkan kepada kita yaitu islam, agar kita bisa bersyukur. 

Kita bisa bersyukur atas segala nikmat Allah dan kita pun bisa meraih kebahagiaan dunia dan akhirat justru ketika kita berlomba-lomba untuk memenuhi seruan Allah dan ikut berjuang menegakkan syariat Allah melalui institusi Khilafah. Semua itu bisa kita lakukan manakala kita menjadi pribadi yang bertaqwa senantiasa istiqomah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran.Berjuang,berdakwah hanya mengharap ridho Allah semata.

Mudah-mudahan dengan komitmen ini ramadhan selanjutnya tidak hanya sekedar kita lewati sebagai ramadhan biasa dan juga idul fitri tidak hanya kita rayakan sebagai id, tetapi kita benar-benar meraih kemenangan yang telah Allah janjikan. Marilah kita berkontribusi dalam perjuangan penegakan Khilafah Islamiyah agar kemenangan Hakiki segera kita dapatkan.[]

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar