Spirit Idul Fitri, Wujudkan Generasi Emas

Idul Fitri adalah hari  kemenangan yang dinanti oleh umat Islam. Allah mewajibkan kaum Muslim berpuasa agar setelah menjalankan ibadah puasa meraih takwa (QS Al-Baqarah: 183). Apakah takwa itu? Banyak definisinya. Betapa pentingnya lafaz takwa sampai dalam Al-Qur'an diulang dari kata dasar hingga derivatnya lebih 240 kata. Para sahabat, salafus saleh dan fuqaha terus mengkaji apa yang dimaksud dengan takwa sebagaimana yang dijelaskan dalam nash syariat. Demikian juga mereka terus mengkaji bagaimana mengimplementasikan takwa dalam kehidupan. 

Salah satunya dikemukakan oleh Imam Ath-Thabari. Saat menafsirkan QS Al-Baqarah ayat 2 pada kata Al-Muttaqin, beliau antara lain mengutip pernyataan Imam al-Hasan, "Mereka-kaum yang bertakwa- adalah yang takut atas apa saja yang telah Allah haramkan atas mereka dan menunaikan apa yang telah Allah wajibkan kepada mereka."
Beliau juga mengutip pernyataan Ibnu Abbas, "(Kaum yang bertakwa adalah) kaum Mukmin yang takut untuk untuk menyekutukan Allah dan mereka selalu mengerjakan ketaatan kepada-Ku." (Tafsir Ath-Thabari, _Jami al-Bayan fi Ta'wil Al-Qu'ran,_ I/232/-234)

Takwa yang diwujudkan dalam semua lini kehidupan akan menghasilkan masyarakat yang sukses berjaya di dunia dan di akhirat.

Suatu bangsa dikatakan berjaya dan bangkit jika memiliki peradaban cemerlang dan pemikiran yang tinggi. Salah satu indikator melihat ketinggian berpikir masyarakat adalah dari output pendidikan dan profile generasinya.

Potret buram generasi Indonesia masih menghiasi lembaran kelam keberlangsungan pendidikan hari ini.

Kasus demi kasus mengusik nurani terus menyeruak. Kasus narkoba, gaul bebas, pornografi, tawuran, geng motor, LGBT remaja, bullying, penganiayaan, kerap mewarnai dunia pendidikan kita. Para generasi yang  diharapankan menjadi estafet kepemimpinan negeri malah bertindak merendahkan diri.  Sumber daya pemuda yang merupakan asset negara ini  melakukan perilaku yang belum  bermartabat.

Lupakah mereka bahwa mereka adalah generasi mulia yang pernah berjaya? Kenalkah mereka dengan Muhammad Al-Fatih di usia 21 tahun telah berhasil menaklukkan kota Konstantinopel? Muhammad Al-Fatih juga seorang pakar dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa.

Apakah mereka membaca kisah Mush'ab bin Umair? Pemuda tampan, kaya-raya yang tak pernah hidup susah dan selalu bergelimang harta. Rela meninggalkan kesenangan dunia semata untuk mencari ridho Allah saja.
Masa muda yang dimiliki bukan dihabiskan untuk kesenangan semu. Tak sedikitpun waktunya dibuang dengan sia-sia apalagi jika itu perbuatan yang diharamkan. Yang terpikirkan hanyalah bagaimana menyebarkan Islam sehingga bisa tersebar ke seluruh negeri. Mush'ab memang seorang pemuda yang cerdas sehingga dengan kejeniusannya ini pula ia diutus menjadi juru dakwah di Madinah.

Begitupun dengan Zaid bin Harits yang menginginkan ikut berperang ke medan perang di usia yang masih belia. Usianya yang masih sangat muda justru menjadi orang terdepan yang menghibahkan dirinya di jalan Islam. Nyawa tak segan dipertaruhkan demi kemuliaan agama Allah SWT.

Adalagi perempuan tangguh bernama Nusaibah binti Ka'ab dengan senang hati turun ke medan perang melawan musuh untuk melindungi sayyidina Rasulullah SAW. Bentuk kecintaan yang mendalam terhadap Rasulullah dan ajaran Islam yang dibawanya. Status sebagai perempuan tidaklah menjadikan penghalang untuk mengambil peran dalam perjuangan Islam.

Kemudian ditambah lagi para ilmuwan muslim yang berperan penting terhadap sains dan teknologi masa kini seperti Ibnu Sina yang ahli biologi, farmasi dan kedokteran; Al khawarizmi ahli matematika; Jabbir Hayyan ahli kimia; Ibnu Rusydi ahli astronomi; empat imam ahli hukum Islam yakni Imam Syafi'i, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Maliki, dan Imam Abu Hanifah. Masih banyak lagi para pemuda-pemudi muslim di masa lalu yang menorehkan namanya dalam catatan sejarah peradaban Islam.

Mereka adalah generasi terbaik yang hadir dalam sejarah dunia. Mereka adalah generasi emas  yang telah menorehkan karya bagi kegemilangan peradaban. Generasi emas peradaban itu setidaknya memiliki beberapa indikator :

1) Kecintaan mereka kepada Allah SWT di atas segalanya. Rasa cinta kepada Allah membuat mereka yakin, optimis dan memiliki keberanian yang tinggi. Generasi ini mempersembahkan hidupnya untuk membela agama Allah. Hanya satu hal yang ditakutkan oleh generasi semacam ini yaitu kemurkaan Allah.

2) Kecintaan mereka kepada Rasulullah Muhammad SAW melebihi semua orang. Dan kecintaan kepada Al-Qur'an yang diwahyukan kepada Rasulullah melebihi segala bentuk hukum yang ada di dunia ini. Generasi emas menjadikan Rasulullah SAW teladan utama. Sementara gaya hidup mereka harus diwarnai oleh cahaya Al-Qur'an.

3) Perilaku berbakti kepada orang tua dan guru sangat istimewa. Generasi emas bukanlah generasi yang cuek dan egois. Mereka juga bukan generasi yang membanggakan kepintaran, kesuksesan, kekayaan, jabatan orangtuanya. Tapi generasi emas adalah mereka yang menyayangi orang tuanya sebagai rasa syukur kepada Allah. Juga menghormati guru karena guru adalah orang yang memberikan ilmu dan  guru merupakan pengganti orangtua jika ananda berada di sekolah.

4) Memiliki kepribadian Islam yang tinggi. Identitas ini tampak pada dua aspek yang fundamental, yaitu pola berpikirnya (aqliyah) dan pola sikapnya (nafsiyah). Mereka senantiasa terikat dengan syariat Islam dalam semua aspek kehidupan. Kemampuan intelektualnya dipersembahkan untuk kemajuan peradaban Islam.

5) Berjiwa pemimpin. Generasi yang berjiwa pemimpin memiliki rasa tanggung jawab dan peka terhadap setiap permasalahan yang dihadapi serta mampu memberikan solusi berdasarkan sudut pandang Islam. Dia juga bisa memberikan keteladanan dan mengajak orang lain mengambil jalan sesuai dengan Islam.
Allah berfirman :

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa"
(QS Al-Furqon: 74)
 
Menurut tafsir Ibnu Katsir,  lil muttaiina imaama berarti para pemimpin yang mengikuti dalam kebaikan, para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk dan para penyeru kebaikan. Tugas orangtua tidak hanya sekedar menjadikan anaknya bertakwa untuk diri sendiri namun juga ketakwaannya itu akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya dan seluruhnya. Dengan kata lain generasi yang bertakwa itu akan menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Generasi emas semacam inilah yang sanggup menegakkan peradaban Islam dan menjadi pembela Islam. Generasi yang siap mengorbankan diri dan apa saja saja yang dimiliki untuk kejayaan Islam.

Mengapa generasi masa lalu begitu luar biasa dibandingkan dengan generasi millenial yang terus menerus mengalami krisis moral dan kepribadian?
Padahal Allah memberikan predikat yang sama antara generasi milenial  dengan pemuda masa lalu. Seperti yang difirmankan Allah : 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ


"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."
(QS Ali Imran; 110).

Sejarah mencatat bahwa para pahlawan dan ilmuwan muslim ini lahir pada masa puncak keemasan peradaban Islam. Dimana mereka hidup dengan suasana pemikiran, perasaan, peraturan yang satu yakni Islam. Al-Qur'an dan As-Sunnah menjadi pedoman dan menjadi standar dalam perbuatan.
Sistem Pendidikan Islam dijalankan dengan maksimal oleh negara. Peran orangtua, kontrol masyarakat dan kebijakan negara begitu sinergis. Keimanan dan takwa menjadi pondasi yang utama senantiasa dijaga agar tetap kokoh.
Masyarakat sangat peka terhadap satu sama lain sehingga tak membiarkan terjadi perilaku pelanggaran syariat. Juga negara sebagai institusi dan elemen terkuat mengerahkan perhatiannya untuk senantiasa memelihara akidah umat. Melakukan upaya pencegahan pelanggaran hukum dan ketika sudah terjadi pelanggaran akan cepat bertindak dan memberikan keputusan hukum dengan bekal syariat.
Alhasil terbentuklah generasi yang unggul dan bermartabat yang tidak hanya unggul dalam keahlian duniawi tapi juga menguasai ilmu akhirat. Generasi unggul yang tak hanya sebagai pemuda biasa tetapi pemuda berilmu yang siap berkontribusi untuk perjuangan Dien dan bangsa.
Mereka bukanlah generasi yang mahir dalam akademik tetapi miskin akhlak dan adab. Karena sesungguhnya Islam mengajarkan bagaimana ilmu kehidupan dan ilmu agama haruslah seimbang. Ilmu agama bukan teori yang tak berbekas. Melainkan mereka berilmu untuk diamalkan dan berbuah amal saleh. Begitulah sepanjang sejarah Islam menggambarkan begitu hebatnya generasi yang dilahirkan pada masa itu.

Apakah mustahil bagi kita untuk mencetak kembali generasi bertakwa, generasi emas peradaban?  Insyaa Allah bisa asalkan kita mengetahui cara mewujudkannya.

Bagaimana caranya?
Untuk mewujudkan hal ini kita harus merujuk kepada Al-Qu'ran. Kita harus melihat bagaimana Islam mampu melahirkan generasi-generasi emas. Jika kita kembali kepada predikat yang Allah berikan untuk Islam yaitu dalam Quran surah Ali Imran ayat 110, kita temukan rahasia kejayaan umat Islam. Apa yang membedakan umat Islam dengan umat yang lain? Apa yang menjadikan umat Islam mulia di antara umat yang lain? Jawabnya karena umat Islam mewarisi aktivitas para nabi untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar di tengah-tengah manusia yang tidak dibebankan kepada umat yang lain. Inilah yang menjadikan generasi umat Islam memiliki kedudukan yang istimewa dan mulia di sisi Allah. Mereka punya misi untuk menjaga dan menyebarkan al-khayr (kebaikan/Islam) di tengah-tengah manusia.

Hari ini kita melihat Islam ditinggalkan sebagai sebuah sistem pengatur kehidupan. Kita juga melihat Islam hanya dianggap sebagai agama ritual yang mengatur salat, zakat, haji, puasa. Padahal sesungguhnya Islam adalah way of life, aturan yang harus diterapkan dalam semua aspek kehidupan sebagai konsekuensi keimanan. Hari ini kita melihat berbagai krisis multidimensi yang menimpa bangsa ini, hal itu akibat Islam tidak diterapkan dalam semua aspek kehidupan. Maka siapapun kita, apapun profesi kita, ada kewajiban dan tanggung jawab dipundak merubah keadaan ini. Tentu kita tidak ingin anak dan keluarga kita menjadi korban ataupun pelaku dari kerusakan ini. Untuk itu kita berupaya agar kerusakan ini bisa dihentikan. Upaya yang dilakukan berupa  amar ma'ruf nahi mungkar seperti yang Allah serukan dalam surat Ali Imran 110.

Karena ini adalah kerja yang luar biasa berat, karena yang ingin kita obati adalah masyarakat yang sedang sakit maka kita tidak bisa melakukan sendirian. Allah perintahkan untuk melakukannya dengan kerja jamaah/berkelompok. Seperti yang Allah serukan dalam surat Al Imran ayat 104 :
 وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Maka ketika kita menginginkan kegemilangan generasi, kunci untuk meraihnya hanya satu yakni membumikan Al-Qur'an dengan sempurna, dengan dakwah menyebarkan kandungan Al-Qur'an   bersama kelompok dakwah Islam yang menyampaikan Islam kaffah baik dengan lisan ataupun tulisan.

Sebagai orangtua kita juga harus terus membina diri dengan belajar Tsaqofah Islam sebagai bekal untuk mendidik anak. Tidak hanya untuk mendidik anak kita sendiri tapi juga anak-anak generasi.

Sikap takwa akan menghasilkan kerinduan hidup untuk diatur oleh hukum Allah bukan hanya ada pada diri dan keluarga kita, tetapi juga pada masyarakat dan negara. Maka kita akan berjuang untuk mewujudkan takwa itu secara totalitas dalam semua aspek kehidupan, dengan metode perjuangan  yang mengikuti manhaj Rasulullah sebagai suri tauladan dalam seluruh pemikiran dan perilaku.

Jika demikian maka akan terwujudlah generasi takwa, generasi  Qur'ani yang berprestasi dan meraih kembali predikat umat terbaik.

Wallahu a'lam bish-shawab

Oleh : Zahida Arrosyida (Pegiat Opini Islam, Revowriter Malang)

Posting Komentar

0 Komentar