TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Seruan Damai Bukti Negara Abai


Kurva Corona Indonesia menanjak terjal. Rabu, 13 Mei tercatat  689 kasus baru Covid-19 yang dikonfirmasi pemerintah. Angka kasus baru  adalah yang tertinggi sejak Indonesia mengumumkan kasus pertama Corona pada 2 Maret lalu. Sebagaimana disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, lewat siaran langsung kanal YouTube BNBP Indonesia, Rabu (13/5/2020) sore, ada 15.438 kasus positif Covid-19 (detiknews.com 13/5/2020).

Namun sayang, di tengah situasi penyebaran virus corona yang masih terus naik, Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Melalui akun resmi media sosialnya pada Kamis (7/5), Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan corona hingga vaksin virus tersebut ditemukan (cnnindonesia.com 7/5/2020)

Pernyataan Jokowi itu pun lantas menjadi sorotan di media sosial, lantaran hal itu bertentangan dengan apa yang disampaikannya dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu. Kala itu Jokowi secara terbuka mendorong agar pemimpin negara-negara dalam G20 menguatkan kerjasama dalam melawan Covid-19 terutama aktif dalam memimpin upaya penemuan anti-virus dan juga obat Covid-19, bahasa Jokowi kala itu 'peperangan' melawan Covid-19.

Anggota Komisi IX DPR RI, Muchamad Nabil Haroen menilai, ada dua perspektif yang dapat dilihat dari pesan Presiden Jokowi yang mengajak masyarakat Indonesia untuk berdamai dengan Covid-19 sampai ditemukannya vaksin. “Pertama pemerintah harus lebih serius dan fokus dalam penanganan Covid-19. Kita masih melihat ada beberapa hal yang masih inkonsisten dan tidak terkoordinasi misal kebijakan antar kementerian yang tidak sinkron masyarakat menjadi bingung,” kata Gus Nabil sapaan karibnya, Senin, (11/5/2020) (kedaipena.com). Kedua, lanjut Gus Nabil, Presiden Jokowi menyampaikan itu dalam konteks agar masyarakat Indonesia bersiap pada tahapan-tahapan yang lebih luas, dari penanganan Covid-19.

Seruan untuk berdamai dengan corona pada kondisi saat ini tentu sangat tidak tepat. Apalagi tidak ada penjelasan secara spesifik bagaimana langkah nyata berdamai dengan corona. Hal ini tentu akan menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat. Istilah damai ini justru akan membius masyarakat untuk meremehkan penyebaran virus ini. Bahayanya ketika istilah damai dimaknai kendornya kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokoler kesehatan.  Saat PSBB saja banyak yang membandel, apalagi dengan seruan berdamai dengan corona, tentu akan berpotensi banyaknya pelanggaran. Apalagi sebentar lagi lebaran.

Maka dengan pernyataan berdamai dengan corona justru terkesan pasrah dengan keadaan yang mencekam saat ini, tidak peduli pada kondisi warga negara, tenaga medis dibiarkan maju ke medan perang dan rakyat dilepaskan ke rimba belantara tanpa perlindungan.

Hal ini sangat berbeda dengan Islam. dalam negara Islam atau biasa disebut khilafah ketika terjadi wabah di suatu wilayah, maka dengan cepat kholifah selaku kepala negara mengeluarkan kebijakan karantina wilayah atau  lockdown. Melarang masyarakat di dalam wilayah tersebut keluar, pun melarang warga lain untuk memasuki wilayah yang terkena wabah. 

Dalam kondisi ini negara memberikan bantuan secara Cuma-Cuma untuk memenuhi kebutuhan warganya secara merata  hingga per individu. Memberikan berbagai fasilitas kesehatan yang memadai, pasokan pangan, dan kebutuhan lainnya sebagai penunjang keberlangsungan hidup selama wabah.
Selanjutnya pada warga yang sakit terkena wabah akan ada pengisolasian, pasien ditangani dengan serius serta dirawat sampai benar-benar kembali sehat. Memastikan rumah sakit cukup menampung warga yang sakit dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Sehingga warga yang sakit tidak berkeliaran dan menyebarkan wabah ke masyarakat yang sehat.

Dengan demikian, dalam Islam peran negara sangat besar dalam mengatasi wabah, karena negara memiliki kekuasaan untuk mengatur masyarakat. Kholifah memimpin langsung, mengarahkan dan membuat berbagai kebijakan yang diikuti seluruh staf pemerintahan. Dengan begitu kebijakan yang dikeluarkan akan konsisten tidak berubah-berubah , serta tidak terjadi perbedaan kebijakan diantara staf pemerintahan, karena semua kebijakan berasal dari satu komando yang sama. Sehingga wabah dapat segera diatasi tidak berkepanjangan. Waallahu'alam.

Oleh : Titi Ika Rahayu, A. Ma. Pust.
Editor: SM


Posting Komentar

0 Komentar