Sejak Kapan Mendakwahkan Khilafah Ajaran Islam Berbahaya?

sumber foto: mediaumat.news

Muslim di Indonesia rasanya paling menderita dengan wabah Covid-19. Namun keimanan menjadi pelipur lara atas kondisi yang memprihatinkan ini. Bahwa Allah Swt. takkan memberi beban yang melebihi kemampuan kita. 

Masjid yang ditutup, dilarang sholat berjama'ah, sungguh membuat nelangsa hati ini. Belum lagi dengan kesempitan hidup yang lain, sulitnya mencari pekerjaan bagi korban PHK, bantuan dari pemerintah yang tak kunjung datang, harga sembako yang meroket. Pembebasan 30.000 napi membuat suasana semakin mencekam. Iuran BPJS dinaikkan. TDL katanya gratis, ternyata subsidi silang, yang 900 VA dinaikkan tarifnya.
 
Abainya penguasa dalam melayani rakyat bahkan menjerumuskan rakyat ke lembah kesengsaraan yang tiada bertepi. Di tengah pandemi, bukannya fokus menangni covid-19, tapi mengesahkan UU yang berdampak buruk pada kehidupan rakyat. UU Minerba, legitimasi perampokan SDA milik rakyat oleh swasta. UU Penanganan Covid, imunitas hukum bagi oknum penguasa yang korup dalam mengelola keuangan negara. 

Inkonsistensi kebijakan akibat hendak menyelamatkan ekonomi dibanding nyawa rakyat. Mudik dilarang tapi pulang kampung boleh, pusing jadinya. Mudik lokal boleh, keluar kota dilarang, tapi semua moda transportasi dibuka. Masjid ditutup tapi pasar, mal, bandara dibuka. 

Dan masih banyak lagi fakta kesempitan hidup yang kita rasakan. Pangkal persoalannya yaitu penggunaan aturan buatan manusia dan pengabaian aturan Allah Swt. Padahal aturan buatan manusia ini jauh dari rasa kemanusiaan dan keadilan. Sementara aturan Allah sudah mendapat garansi dari Allah Swt. langsung, yaitu rahmat bagi semesta alam. 

Maka Maha Benar Allah Swt. dengan kalamNya dalam Al-Qur'an surah Thoha ayat 124: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Jika demikian, sudah sepatutnya kita kembali kepada aturan Allah. Karena sistem kapitalisme yang diterapkan dalam kehidupan kita saat ini hanya mendatangkan kesempitan dan kesengsaraan hidup.  

Pasalnya, hanya ada satu sistem yang bisa dan mau, menjadikan aqidah Islam sebagai pondasi serta menerapkan syariat Islam secara kaffah. Itulah sistem Khilafah. Khilafah didefinisikan sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia (wikipedia). 

Lebih dari itu, keberadaan Khilafah sebagai institusi yang menerapkan syariat Islam kaffah, merupakan hal fundamental bagi seorang muslim. Sebagai konsekuensi logis dari ikrar syahadat juga relasi dirinya dengan Allah Swt. Wajar, jika para sahabat menunda pemakaman Rasulullah demi mencari Khalifah yang akan memimpin Khilafah. Dan seluruh ulama mazhab sepakat tentang pentingnya mengangkat imam/khalifah yang akan menerapkan syariat Islam kaffah dalam seluruh sistem kehidupan. Ini artinya, Khilafah adalah ajaran Islam. 

Menjadi pertanyaan besar bagi kita jika ada yang berpendapat bahwa Khilafah itu membahayakan. Apalagi jika pendapat itu disampaikan pada saat pandemi. Saat dimana kita melihat kegagalan sistem kapitalisme mengatasi wabah. Tidakkah kita mencoba beralih pada sistem Islam yang terbukti mampu menyelesaikan wabah dengan cara manusiawi serta penuh keberkahan? 

Simak pernyataan dari Deputi IV Bidang Pertahanan Negara Kemenko Polhukam, Mayjen TNI Rudianto saat Diskusi Publik Virtual, bertema Menjaga Stabilitas Keamanan Nasional di Tengah Covid-19, yang digelar Majelis Nasional KAHMI, di Jakarta, "Dalam situasi nasional kita, masih ada yang menyuarakan khilafah, radikal dan teror. Bahkan, mereka saat ini melakukan konsolidasi dan menyiapkan amaliyah-amalIyah di tengah pandemi ini," (republika.co.id, 20/05/2020). 

Menyandingkan kata khilafah dengan radikal dan teror, maka memberi makna yang sama pada ketiga kata itu. Sungguh suatu tuduhan dan fitnah yang tanpa dasar, kecuali dari Islamofobia yang dihembuskan oleh Barat. Isu yang dihembuskan sejak peristiwa runtuhnya gedung WTC 11 September 2001.

War of terorism (WoT) bergeser ke war on radicalism (WoR) yang akan menghukumi sebuah pemikiran. Baru tataran ide pun sudah dijustifikasi dan dibunuh, tanpa mau mendalami terlebih dahulu kebenaran ide tersebut. 

Khusus khilafah, Barat sudah membentuk dan membiayai ISIS sebagai representatif buruk tentang Khilafah. Generalisasinya ditarik hingga ke seluruh dunia untuk membunuh ide Khilafah ala minhajin nubuwah beserta kelompok pengusungnya dan pendukungnya. 

Stereotip buruk ini wajib dilakukan Barat dalam rangka membendung prediksi tegaknya Khilafah. Prediksi yang mereka buat sendiri dalam dokumen NIC Corporation tahun 2004 silam. Bahkan, RAND Corporation telah membuat strategi adu domba untuk umat muslim. Agar Barat tak banyak berkeringat. Cukup memberi dana atas nama mencegah radikalisme, selebihnya tinggal menonton dari jauh perseteruan antar kelompok muslim. Ironis. 

Jadi, mendakwahkan Khilafah adalah salah, di mata Barat yang takut akan kebangkitan Islam. Karena secara alamiah, jika Khilafah tegak maka kekuasaannya akan runtuh dan tak bisa lagi menguasai negeri muslim yang kaya akan SDA dan SDM. 

Dengan demikian, penting untuk kita menyatukan langkah bersama, agar tidak mudah dipecah belah dan termakan fitnah. Khilafah adalah agenda bersama umat muslim dalam rangka menjemput janji Allah dan bisyarah Rasulullah. Wallaahu a'lam. []

Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd*
*)Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar