Save HBS, Daging Ulama Beracun

sumber foto: republika.co.id

Wabah corona membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan membebaskan Narapidana (Napi) dengan proses asimilasi. Tujuan pembebasan Napi ini adalah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). 

Langkah ini bukan menyelesaikan masalah, justru menimbulkan masalah. Napi yang dibebaskan ke masyarakat membuat ulah lagi dengan melakukan kriminalitas. 

Hal ini sontak membuat masyarakat menjadi was-was. Napi berulah lagi ini disinyalir ada dua kemungkinan, pertama dia tidak mempunyai pekerjaan setelah kelura dari Lapas. Kedua, karena tuntutan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari.

Hal ini tidak terkecuali dengan Habib Bahar Bin Smith. Beliau juga di bebaskan dari Lapas dengan proses asimilasi. Namun Habib Bahar tidak lama menghirup udara bebas. Beliau dijebloskan lagi ke dalam penjara. Hal ini sebagaimana di lansir dari Detiknews.com 16/5/2020. 

Habib Bahar bin Smith hanya 3 hari bisa menghirup udara bebas. Dia dijebloskan lagi ke bui gegara ceramah provokatif serta melanggar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena mengumpulkan massa. Bahar bebas dari penjara pada Sabtu (16/5) sore. 

Dia bebas karena mendapatkan program asimilasi sesuai Permenkum HAM nomor 10 tahun 2020. Usai bebas, Bahar nyatanya disambut oleh massa pendukungnya. Bahkan Bahar sempat melalukan ceramah di hadapan kerumunan. 

Kegiatan itulah yang kemudian menjadi masalah. Bahar dianggap telah melanggar asimilasi sehingga Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) menjebloskan lagi Bahar ke dalam bui. "Ya (kembali ke lapas). Yang bersangkutan dikembalikan ke Lapas Gunung Sindur," ucap Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkum HAM Jabar Abdul Aris saat dikonfirmasi, Selasa (19/5/2020).

Ditjen Pemasyarakatan (Pas) Kemenkum HAM menjelaskan kesalahan Bahar hingga akhirnya mencabut proses asimilasi dan kembali memenjarakan habib Bahar bin Smith. Alasannya, Bahar melanggar syarat asimilasi sehingga ia harus melanjutkan proses pemidanaan di penjara karena kasus penganiayaan. "Izin asimilasi di rumah dicabut berdasarkan penilaian dari Petugas Kemasyarakatan Bapas Bogor (PK Bapas Bogor) yang melakukan pengawasan dan pembimbingan," kata Dirjen Pemasyarakatan Reynhard Silitonga dalam siaran pers yang diterima detikcom. (Detiknews.com 19/5/2020)

Jika kita melihat fakta di atas hal ini sungguh tidak “fair”. Pelanggaran PSBB terjadi dimana-mana dan hal itu dilakukan dari kalangan pajabat negara sampai rakyat biasa. 

Sebagai contoh  Konser yang digelar MPR bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu diselenggarakan pada Minggu (17/5/2020) malam. Konser tersebut mengumpulkan banyak orang. 

Sebagai bukti foto-foto konser amal tersebut tersebar di beberapa sosial media. Tampak konser tersebut mengindahkan protokoler kesehatan. 

Kritik itu bermula dari foto Bambang bersama grup musik Bimbo dan sejumlah tokoh lainnya di atas panggung yang viral di media sosial. 

Dalam foto itu, mereka berpose sambil berdiri berjajar tanpa menjaga jarak. Menanggapi hal itu, Ketua MPR Bambang Soesatyo meminta maaf atas penyelenggaraan konser penggalangan dana untuk korban Covid-19 yang menjadi sorotan publik. 

Jelas apa yang dilakukan oleh para tokoh ini melanggar Undang-Undang yang ditetapkan pemerintah terkeit pemberlakukan PSBB. Mereka melaksanakan konser ini dengan rencana yang cukup matang. 

Namun sayangnya hal ini tidak ada tindakan yang tegas baik dari negara maupun dari pejabat terkait. Ucapan maaf sudah menghapus kesalahan dari pelanggaran Undang-Undang.

Selain itu pelanggaran PSBB juga dilakukan oleh masyarakat. Dengan dibukanya fasilitas umum seperti bandara, stasiun, maal pasar dan lainnya mengundang orang untuk berkerumun. 

Meski pemerintah telah memberlakukan sosial distancing lagi-lagi pelanggaran dilakukan oleh masyarakat. Mall penuh dengan ribuan manusia yang mencari kebutuhan untuk lebaran. 

Bandara juga manjadi tujuan utama bagi para pemudik menuju kampong halaman bertemu sanak saudara. Tak terkecuali terminal bus dan stasuin ribuan manusia berkumpul disama. 

Lagi-lagi kebijakan pemerintah yang tidak tepat dapat mengancam keselamatan nyawa masyarakat. Namun hal ini dianggap hal yang biasa.

Kriminalisasi ulama-ulama kembali lagi terjadi di negeri ini. Pencekalan ulama terjadi dimana-mana, dengan mencegah alasan radikalisme dan mencegah terjadinya kekerasan menjadi dasar untuk pencekalan para ulama.  Kali ini yang menjadi korban kriminalisasi ulama adalah Habib Bahar Bin Smith. 

Beliau adalah salah satu ulama Indonesia yang kiprahnya tidak diragukan lagi. Perlu kita ingat bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah, "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. al-Imam at-Tirmidzi). 

Para ulama mewariskan ilmu kepada ummat dan mengajarkannya kepada ummat. Ilmu inilah yang akan menjadi bekal bagi ummat dalam mengarungi bahtera kehidupan. Inilah peran ulama yang sangat penting bagi ummat. Merekalah pelita di tengah kegelapan.

Selain itu daging ulama beracun. Hal ini  sebagaimana dalam hadits Rasulullah, 
Nasihat Ibnu Asakir, “Saudaraku, ketahuilah bahwa daging para ulama itu beracun.” Maksudnya, siapapun yang memfitnah ulama hendaknya takut bernasib buruk. 

Surah al-Hujurat ayat 12 mengibaratkan perbuatan menggunjing sebagai, “memakan daging saudara yang telah mati.” Maka pelaku fitnah terhadap ulama tak hanya “memakan bangkai”, tetapi juga terkena racun. 

Rasulullah Muhammad SAW telah berpesan kepada umatnya supaya selalu berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah beliau. Sepeninggalan Nabi SAW, orang-orang yang menjadi rujukan diberi gelar ulama.

Itulah keistimewaan ulama. Rasulullah sendiri memberikan keistimewaan kepada para ulama. 

Inilah yang seharusnya kita lakukan saat ini. Jangan sampai kita menyakiti ulama apalagi mengkriminalisasi ulama. 

Wahai penguasa saat ini berhentilah untuk mengkriminalisasi ulama. Mereka berjasa untuk pembangunan bangsa kita dan ulama berjasa menyelamatkan manusia dari kebodohan. Banyak penjahat-penjahat yang “menggarong” uang negara namun kalian hanya diam saja. Namun di saat para ulama menyampainya kebenaran kalian kepanasan.

Oleh: Siti Masliha, S.Pd   (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Editor: AM

Posting Komentar

0 Komentar