TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Ramadhan Bulan Mulia, Ramadhan Tetap Istimewa


Ramadhan sudah beberapa hari kita jalani. Bulan yang sejatinya dinanti-nanti oleh jutaan bahkan milyaran umat Islam. Sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah SAW, memang sudah sepantasnya kaum Muslimin menyambut bulan Ramadhan dengan rasa suka cita dengan penuh keimanan. 

Meskipun untuk Ramadhan kali ini, berbeda dengan sebelumnya. Saat ini hampir di 200 negara, umat Islam menyambut Ramadhan dalam kondisi prihatin karena sedang menghadapi wabah Covid -19. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat kaum Muslimin untuk menyambutnya, karena di dalam bulan Ramadhan ada ibadah yang sangat mulia dengan banyak pahala yang akan diraih.

Ramadhan Bulan Dibukanya Pintu Surga dan Ditutupnya Pintu Neraka 
Sebagai Muslim yang taat dan patuh, momentum Ramadhan jelas tidak akan disia-siakan. 

Sebagaimana ditunjukkan oleh semangat Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menyambut bulan Ramadhan, mereka sangat serius mempersiapkan diri agar bisa memasuki bulan Ramadhan dan mengisinya dengan banyak amalan dan penuh keimanan, keikhlasan, semangat juga kesungguhan. Meskipun tidak dipungkiri dampak wabah Covid 19  banyak membuat saudara-saudara kita terbelit masalah ekonomi dan  kesehatan. Tetapi sebagai seorang Muslim sejati layaknya kita tetap menyambut Ramadhan dan mengisinya dengan penuh kebahagiaan.

Ramadhan Bulan Istimewa
 
Semangat menyambut Ramadhan karena semua memahami  makna yang termaktub dalam sebuah hadits “ Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah maghfiroh dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan hamba sahayanya, Allah swt akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada bulan Ramadhan empat perkara, dua perkara yang Allah ridhoi dan dua perkara yang kalian butuhkan. Dua perkara yang Allah ridhoi adalah kesaksian La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah dan permohonan ampunan kalian kepadaNya. Adapun dua perkara yang kalian butuhkan adalah kalian meminta kepada Allah surga dan berlindung kepadaNya dari api neraka” (HR Ibn Khuzaimah dalm Shahih Ibn Khuzaimah dan al Baihaqi di dalam Syu’ab al Iman).

Taqwa adalah Puncak Hikmah dari Puasa Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan, bulan muroqobah dan bulan pengorbanan di jalan Allah swt. Di bulan mulia ini setiap muslim dituntut untuk berkorban menahan rasa lapar, dahaga dan hawa nafsu demi derajat taqwa. Karena taqwa adalah puncak hikmah dari ibadah shaum di bulan Ramadhan. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (Q.S al-Baqarah : 183)

Imam Ali ra menggambarkan bahwa taqwa adalah 1. al khauf minal jalil (perasaan takut kepada Allah swt), 2. wal 'amal bit tanzil (ketaatan untuk melaksanakan hukum-hukumNya), 3. wal qana'ah bil qolil (perasaan cukup dan puas atas rezekiNya meski sedikit) dan 4. walisti'dad liyaumir rohil (persiapan untuk menghadapi kematian atau akhirat) sebagaimana disampaikan oleh Sulaiman Bin Muhammad, Syahrul Arba'in an Nawawiyyah lil Imam an Nawawiy hal 45.

Seperti apa perwujudan taqwa secara individu, tidak lain adalah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya. 

Adapun perwujudan taqwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena itu, puasa Ramadhan tentu kurang bermakna jika tidak ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara kaffah dalam kehidupan, karena justru itulah sesungguhnya wujud ketaqwaan secara hakiki.

Yang selalu menjadi pertanyaan kita semua, kenapa selama Ramadhan kita masih berleha-leha dalam melaksanakan perintah Allah.  Segala amal ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan sering tak lebih sekedar rutinitas tahunan. 

Selepas Ramadhan kemungkaran kembali dilakukan seolah Ramadhan tidak memberikan bekas apa-apa? Apa yang salah? Hal ini harus menjadi bahan renungan kita. Semua itu terjadi karena selama ini upaya membangun ketaqwaan masih berlangsung secara individu. 

Padahal membangun ketaqwaan merupakan kerja kolektif seluruh masyarakat Muslim dengan dukungan negara. Karena dengan adanya negara yang menerapkan syariat Islam kaffah merupakan pilar dasar pelaksanaan Islam itu sendiri.

Jelas, totalitas ketaqwaan hanya bisa terwujud dalam sistem kehidupan yang menerapakan syariat Islam secara total (kaffah). Juga dibutuhkan pemimpin yang benar-benar bisa mewujudkan ketaqwaan dalam dirinya, masyarakatnya juga negaranya. Untuk meraih taqwa tidak cukup dengan berpuasa Ramadhan saja. Tetapi harus dibarengi dengan penghambaan kita kepada Allah secara totalitas, dan istiqomah di jalan Islam kaffah.

Kemudian, bagaimana cara negara dalam masa pemerintahan Islam (kekhilafahan) mewujudkan ketaqwaan kolektif secara efektif dan bisa menjadikan bulan Ramadhan benar-benar berpengaruh : 

Pertama, terus melakukan pembinaan terhadap masyarakat dalam rangka menanamkan aqidah dan kepribadian Islam pada diri mereka. 

Kedua, membentuk lingkungan yang kondusif dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah swt dengan mendorong masyarakat melakukan amar ma’ruf nahi munkar. 

Ketiga, penerapan hukum-hukum Islam dalam seluruh aspek, termasuk pemberlakukan sistem sanksi bagi pelaku pelanggaran. Dan Keempat, meningkatkan aktifitas penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

Demikianlah cara negara khilafah Islam dalam menumbuhsuburkan ketaqwaan di bulan Ramadhan. Sejatinya, ketaqwaan harus diwujudkan secara kolektif dengan tetap melibatkan komitmen individu, juga adanya kontrol masyarakat dan adanya peran negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh dan menyebarkan ajaran Islam ke seluruh alam.

Hanya dengan cara-cara itulah pelaksanaan puasa Ramadhan akan memberi bekas dalam kehidupan umat Islam. Hanya dengan totalitas ketaqwaan semacam itulah kita akan mendapatkan jaminan Allah swt agar keluar dari segala kesulitan, mendapatkan rezeki halal dari arah yang tidak terduga dan dimudahkan dalam segala urusan kita dan juga permaslahan yang dihadapi bangsa ini. 

Karena Ramadhan Bulan Mulia, karena Ramadhan  Istimewa, mari isi Ramadhan kita dengan banyak amal sholih termasuk dakwah ilal Islam. Wallahu a’lam.[]

Oleh : Naning Hadiningsih, S. Tp, M.Si

Posting Komentar

0 Komentar