TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ramadhan Telah Usai, Ibadah Tak Boleh Lalai



Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaa Ha ilaallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd. Takbir yang indah berkumandang, tanda hari kemenangan t’lah tiba. Kemenangan melawan hawa nafsu, tunduk pada titah Sang Maha Suci, menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan yang penuh kemuliaan.

Meskipun, tahun ini kemenangan kaum muslimin harus dilalui dengan rasa dan suasana yang sangat berbeda. Rasa dan suasana kemenangan ditengah kegelisahan, kekhawatiran, kepasrahan, wujud ketidakberdayaan manusia, atas segala kuasa Allah S.W.T. dalam mengatur alam semesta yang DIA ciptakan. Kekalutan juga ketakutan akan sebuah pandemi covid-19 yang berhasil melumpuhkan sendi-sendi kehidupan seluruh negeri. 

But life must go on... Hidup harus terus berjalan... Salah satu hikmah dari ramadhan di tengah pandemi ini adalah, kita menjadi lebih sering mengingat mati. Sungguh maut itu bisa datang kapan saja. Bisa jadi virus ini menjadi jalan kita dipanggil pulang ke kampung abadi.

Apa yang telah kita persiapkan untuk menyambut kematian? Setelah selama ramadhan kita memaksimalkan ibadah, memperbanyak amalan sunnah, meluaskan sedekah, mengurangi memejamkan mata demi shalat malam dan melantunkan ayat-ayat suciNya, kini, setelah ramadhan usai, apakah semangat mengejar ibadah itu masih sama? 

Sebelas bulan kedepan adalah waktunya pembuktian diri, sejauhmana kita memaknai bulan suci. Apakah sebatas ritual ibadah tahunan tanpa makna, dimana setelah ramadhan usai, kita akan kembali pada rutinitas duniawi? Ataukah benar-benar menjadi momentum, menjadi cambuk, jangan-jangan ini adalah ramadhan terakhir. Sehingga, ghirah atau semangat dalam beribadah menjadi sama kuat bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya. 

Dan tentu tak sebatas pada ibadah ritual semisal dzikir, sedekah, shalat, zakat, dan haji. Namun beribadah dalam arti yang sesungguhnya, yaitu ketundukan dan kepatuhan kita pada perintah dan larangan Allah, dalam segala perkara kehidupan, tanpa terkecuali, dari bangun tidur, hingga tidur lagi. 

Menuntut ilmu adalah ibadah. Hukumnya wajib bagi kaum muslimin, laki-laki maupun perempuan, dalam hal ini ilmu agama. Rasulullah bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Sehingga menjadi berdosa jika meninggalkannya. Karena dengan ilmulah kita tahu bagaimana menjalan perintah dan menjauhi laranganNya. Bahkan dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga” (HR. At Tirmidzi & Abu Daud).

Ilmu Allah sungguh luas tak bertepi. Ibarat pohon dijadikan pena dan air laut sebagai tintanya kemudian habis dan diisi sebanyak tujuh kali, maka tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah. Dari sini kita sadar bahwa rasanya tak pernah ada kata cukup untuk belajar, bahkan seumur hidup kita. Sebuah uangkapan “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liah lahat” adalah gambaran bahwa perjalanan yang ditempuh dalam rangka menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut kerja keras dan kesabaran. 

Kemunduran umat muslim hari ini juga berawal dari mulai ditinggalkannya ilmu agama secara keseluruhan. Hingga akhirnya pikiran-pikiran kaum muslimin berhasil disusupi paham kufur sekulerisme. Paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Dimana manusia merasa mampu mengatur diri dan hidupnya, merasa punya hak dan kuasa memilih dan memilah hukum Allah, mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. 

Umat muslim secara sistematis sengaja dijauhkan dari agamanya, dibuat bodoh bahkan takut dengan sebagian ajarannya. Karena para musuh Islam paham betul, saat umat muslim kembali bangkit pemikirannya, mereka tak akan bisa lagi merampok dan menguasai dunia. Untuk itulah menuntut ilmu agama saat ini menjadi semakin urgen, agar kita bisa bangkit, tak lagi terjebak pada kebodohan dan kemunduran, yang menjadikan kita mudah ditindas dan dipecah belah. 

Selain menuntut ilmu, dakwah juga adalah ibadah. Dakwah diwajibkan bukan hanya pada para alim ulama, ustadz ustadzah. Tapi dakwah adalah seruan, perintah Allah S.W.T. kepada seluruh orang-orang yang beriman. Dakwah adalah kewajiban mulia karena meneruskan tugas Rasulullah S.A.W. dalam menyampaikan Islam ke seluruh dunia. Allah berfirman: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali Imran:110)

Dakwah adalah wujud cinta. Karena dengan dakwah kita ingin orang yang kita sayangi selamat dari siksa neraka dan mendapatkan surga. Dakwah adalah saling mengingatkan, agar tak terjebak pada perkara dunia yang tak mendatangkan pahala, agar tak terjerumus pada perbuatan dosa. 

Allah memperingatkan kita dalam Al Quran Surat Al Anfal: 25 “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. Ayat ini dengan tegas menyampaikan bahwa azab tidak hanya menimpa orang yang zalim saja, melainkan menimpa semuanya. Hal itu akan terjadi manakala kezaliman merajalela dan tidak ada yang berusaha mengubahnya. Dan yakinlah bahwa Allah sangat kuat hukuman-Nya bagi orang yang durhaka kepada-Nya.

Dengan dakwah kita bangkitkan pemikiran umat yang sudah terlalu lama tertidur dan terlena dalam kehidupan kufur sekulerisme. Yang tak lagi tergetar mendengar ayat-ayat tentang siksa neraka. Yang sibuk mengejar dunia, menumpuk harta, tak lagi peduli pada nasib sesama. Halal-haram tak lagi jadi pegangan, yang penting nafsu terpuaskan. 

Hanya dengan dakwahlah pemikiran kufur umat bisa berubah, dan ini adalah tugas bersama, apapun profesinya. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya dia merubah dengan tangannya, kalau tidak bisa hendaknya merubah dengan lisannya, kalau tidak bisa maka dengan hatinya, dan yang demikian adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)

Jadikan ramadhan yang spesial kali ini, karena kita jalani ditengah pandemi, menjadi pelecut diri, bahwa memaksimalkan ibadah tak terkhusus hanya di bulan suci. Tapi setiap saat adalah ibadah. Setiap tarikan nafas adalah ibadah melalui dzikir-dzikir kita. Setiap gerak kaki adalah ibadah, karena kita langkahkan menuju majelis-majelis ilmu. Setiap lisan kita adalah ibadah, karena kita gunakan untuk menyampaikan Islam, dalam bingkai dakwah. 

Hingga kita benar-benar layak menjadi khairu ummah, umat terbaik yang memiliki landasan aqidah yang kuat dan kokoh, tsaqofah islam serta wawasan yang luas dan dalam. Sehingga tak mudah terpengaruh dengan ide kufur dari luar Islam. Bahkan sebaliknya, mampu mengopinikan Islam kaffah ke tengah-tengah umat melalui dakwah. Terus berjuang hingga Allah turunkan pertolongan, yaitu sebuah kemenangan, dimana syariat Islam ditegakkan secara sempurna, menaungi bumi membawa rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu’alam bishawab.

Oleh: Anita Rachman  (Pemerhati Sosial Politik)

Posting Komentar

0 Komentar