TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Rakyat Bingung, Dampak Kebijakan 'Mencla Mencle'

sumber foto: cnbcindonesia.com

Dai Kondang Abdullah Gymnastiar, yang akrab dipanggil Aa Gym, prihatin terhadap masyarakat yang masih memenuhi bandara maupun pusat perbelanjaan menjelang Idul Fitri di tengah pandemi Corona. Aa Gym menyebut mereka seolah mengkhianati perjuangan bersama melawan Corona. Di mana rakyat sudah hampir tiga bulan berada di rumah, melihat kerumunan di airport (bandara), di pasar-pasar, dan di jalan-jalan, seakan-akan perjuangan dan pengorbanan rakyat terkhianati oleh mereka.Terutama, bagi para dokter dan perawat yang mempertaruhkan nyawa, aparat yang siang-malam berjaga, lembaga pendidikan yang tutup, dan masjid maupun tempat ibadah yang menjadi sepi, lanjut beliau.(detik.com, 20/5/2020).

Sebenarnya itu semua bukanlah murni kesalahan rakyat, namun lebih tepatnya salah kebijakan pemerintah yang terkesan mencla mencle. Pemerintah terlalu berani mengambil keputusan untuk melonggarkan PSBB dan membuka moda transportasi di saat pasien kasus corona masih tinggi, belum ada penurunan jumlah korban covid19, bahkan korban meninggal terus bertambah pertanggal 20 Mei 2020 menurut pusatkrisis.kemkes.go.id tercatat 19.189 kasus, 4.757 sembuh dan 1.242 meninggal dunia.

Melihat semua itu bukan hanya Aa' Gym yang kecewa dan merasa isolasi mandiri sia-sia, tapi hampir seluruh rakyat Indonesia termasuk juga para pejuang medis yang berani mengungkapkan kekecewaannya atas kebijakan baru tersebut. Sehingga #Indonesiaterserah sempat menjadi trending topik di dunia maya.

Wajarlah, para pejuang medis melalui dewan pimpinan pusat persatuan perawat nasional Indonesia mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemangku kebijakan negeri ini. Awal kekecewaan mereka terutama terkait terjadinya antrian panjang calon penumpang di bandara soekarno-hatta pada Kamis 14 Mei lalu. Terjadinya antrian Ini bermula dari kebijakan pemerintah yang mengizinkan kembali operasional moda transportasi udara.

Di bandara tersebut rakyat dan petugas bandara tidak mengindahkan protokol kesehatan terutama menjaga jarak. Terlihat antrean penumpang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (14/5) pagi. Sebuah foto yang menampilkan penumpukan antrean calon penumpang tanpa mengindahkan jaga jarak sosial kala pandemi Covid-19 beredar viral di media sosial. Dampak dari antrian yang tidak memperhatikan protokol kesehatan tentu sangat beresiko dan berpotensi besar dalam penyebaran dan penularan virus covid19.
(republika.co.id, 15/5/2020)

Seperti diketahui Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandara Internasional soekarno-hatta menyatakan terdapat lebih dari 40 penumpang yang terindikasi positif virus korona baru atau Covid-19 sejak April hingga Mei 2020.Kebijakan pelanggaran moda transportasi akhirnya berakibat melonggarkan pertahanan tiap individu.

Sebagai Garda terdepan dalam melawan covid-19, para tenaga medis banyak yang tumbang atau meninggal dunia karena banyaknya pasien baru positif Covid-19 yang tak kunjung berkurang. Jika pertahanan Garda terdepan runtuh, maka sangat dimungkinkan pasien positif terpapar akan bertambah banyak, yang tentu akan menambah beban kerja pada perawat yang bertugas.

Demikianlah, cara pemimpin negeri ini menyelesaikan persoalan wabah. Pemerintah lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi dibandingkan keselamatan rakyatnya. Penyelesaian seperti ini adalah buah dari penerapan sistem kapitalisme. Yang diadopsi dari sistem ini meniscayakan Pemerintah lalai dalam menyelamatkan nyawa rakyat dan memenuhi kebutuhan pangan rakyat di tengah pandemi. Adapun kelalaian pemerintah yang begitu nyata nampak dari persoalan penguncian atau lockdown, sedangkan lockdown adalah satu-satunya cara efektif pemutusan rantai wabah. 

Namun, pemerintah hanya mencukupkan dengan kebijakan pembatasan sosial berskala besar. Berbeda jauh dengan sistem pemerintahan atau kepemimpinan islam yakni Khilafah. Dalam Islam rakyat dipandang sebagai amanah yang harus diurus dan dijaga. Khalifah wajib menjaga harta rakyat, akal rakyat , kehormatan rakyat, agama rakyat, bahkan nyawa rakyat. Semuanya menjadi tanggung jawab siapa pun yang berani menerima amanah kekuasaan.

Ada tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah 

Pertama, penguncian areal wabah(lockdown).

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Apa bila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.“ (HR Imam Muslim).

Kedua, pengisolasian yang sakit.

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, ”Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR. Imam Bukhari); ”Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR. Abu Hurairah).

Ketiga, pengobatan hingga sembuh.

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.” Juga sabda beliau yang artinya, "Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapati keadaan aman kelompoknya, sehat badannya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya".(HR Bukhari). (HR Abu Daud).

Kendali mutu berpedoman pada tiga strategi utama. Yaitu: a. Kesederhanaan aturan; b. Kecepatan layanan; c. Dilakukan individu yang kompeten dan kapable.

Dengan izin Allah, di bawah naungan Khilafah, dalam peradaban Islam, pandemi benar-benar dapat berakhir tanpa harus berlama-lama masyarakat hidup dalam ancaman wabah, bahkan dengan zero kesakitan dan kematian. Sulit dibayangkan akan terjadi second wave pandemi jika rakyat terus dibiarkan berkeliaran, berkumpul, berdesak desakan seakan-akan negeri ini tidak sedang terjadi wabah. Berapa banyak lagi jumlah korban yang akan tumbang 14 hari kedepan? Astaghfirullah.


Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar