TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Prospek Ekonomi Indonesia Pasca Pandemi Covid-19: Tantangan dan Peluang


Pada hari Kamis, tanggal 21 Mei 2020, Komunitas Intelektual Muslim Sidoarjo (KIMS) mengadakan Talk Show online dengan mengambil tema diskusi : PROSPEK EKONOMI INDONESIA PASKA PANDEMI COVID-19: TANTANGAN DAN PELUANG. 

Acara Bincang Intelektual Muslim (BIM) kali ini merupakan acara BIM yang spesial karena diselenggarakan oleh KIMS bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1441 H.  

Talk show kali ini, menghadirkan pembicara Dr. Sigit Hermawan, SE, M Si selaku Direktur DRPM UMSIDA dan Wakil Ketua Bidang Etika Usaha Kadin Sidoarjo, Dr Fahrur Ulum, S Pd, MEI selaku Pakar Politik Ekonomi Islam dan juga H. Dwi Tjondro Triono, Ph D sebagai Pakar Ekonomi Islam.

Acara yang pertama dibuka dengan pembacaan Surat Al Fatihah, diteruskan dengan pembacaan ayat suci Alquran. Acara yang ketiga sambutan dari koordinator BIM Sidoarjo. Acara keempat adalah acara inti. Acara kelima doa dan penutup.

Berikut ini diskusi pada acara inti BIM edisi spesial Ramadhan:

Kepada Dr. Sigit Hermawan ditanyakan, bagaimana dampak Covid-19 terhadap ekonomi di Indonesia? Apakah tertekan karena Covid-19 atau memang sudah tertekan sebelum Vovid-19?

Menurut Dr. Sigit Hermawan, pandemi Covid-19 berdampak luas pada banyak sektor usaha baik perusahaan besar, menengah maupun UMKM. Perusahaan menjadi rentan sehingga banyak pekerja yang di PHK dan dicutikan.

“Pengusaha saat ini hanya mengandalkan cash flow yang mungkin hanya bisa bertahan 3 sampai 4 bulan ke depan, “ungkapnya.

"Bahasanya teman-teman di Kadin itu, MANTAB pak, Makan Tabungan karena tidak ada Cash in," lanjutnya.

Pandemi Covid-19 ini telah melanda 207 negara di dunia dengan penambahan kasus baru tiap harinya mencapai sekitar 100 ribu kasus. Di Indonesia pun penyebarannya makin masif.

Menurut Beliau, Pandemi Covid-19 telah berdampak pada sektor bisnis yaitu menurunnya Cash flow pada perusahaan sehingga sebagian perusahaan tidak mampu membayar gaji pekerjanya. Akibatnya banyak pekerja yang dirumahkan dan di PHK.

Sektor bisnis yang mengalami penurunan terutama di sektor Perhotelan, Manufacture, Elektronik, Makanan, Retail dan UMKM berkisar 40 hingga 60 %. 

Pemerintah sendiri memberikan stimulus dukungan fiskal sebesar 2,5 % dari PDB dalam rangka mengatasi dampak dari pandemi Covid-19. Stimulus ini akan terus bertambah seiring dengan prediksi berakhirnya pandemi ini.

Jika di negara-negara lain datanya akurat, up to date, valid, dan terkoneksi sehingga kebijakannya tepat sasaran, namun berbeda halnya dengan Indonesia. Indonesia data yang masih amburadul, terutama data kependudukan belum terkoneksi sehingga  menyebabkan bantuan masih belum tepat sasaran.

Ekskalasi penyebaran Covid-18 berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi global dan Indonesia. Pertumbuhan ekonomi global diprediksi akan menurun hingga -2,2 %. Sementara pertumbuhan ekonomi di Indonesia diprediksi menurun hingga - 3,5 %. 

Sektor bisnis potensial loser yang paling terdampak adalah sektor pariwisata, konstruksi, dan sektor transportasi. Sehingga diperlukan langkah antisipasi dalam menghadapi pandemi ini yaitu dengan mengembangkan potensial winner di sektor textile, kimia, farmasi, alat kesehatan, serta sektor makanan dan minuman. 

Dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi. Kemungkinan akan terjadi krisis ekonomi. Di samping itu kebijakan pemerintah yang labil dengan adanya pelonggaran PSBB akan mengarah pada herd immunity.  Herd immunity disini adalah melepaskan sektor kesehatan dan lebih memperkuat sektor ekonomi.

Sementara itu, Dr Fahrur Ulum ketika ditanya sudah tepatkah kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19?

Beliau menjawab, “Kebijakan merupakan derivasi dari peraturan. Peraturan ini yang ini yang harus kita lihat sebelum melihat kebijakan yang diambil.

“Pemerintah saat ini sedang dilematis. Mengatasi masalah kesehatan atau menyelamatkan ekonomi." lanjutnya.

Kebijakan yang diambil pemerintah cenderung parsial dan insidental. Pemerintah terlihat gagap dalam menghadapi pandemi ini sehingga kebijakan yang lahir belum mampu mengatasi pandemi. 

Oleh sebab itu, diperlukan kebijakan yang sistemik bukan sekedar parsial. Kebijakan sistemik yang dimulai dari peraturan paling mendasar yang kokoh dan tidak mudah goyah.

Sebenarnya kebijakan pemerintah saat ini secara parsial sudah sangat membantu, akan tetapi secara sistemik belum mampu menyelesaikan masalah.

Pasca pandemi ini, apakah ekonomi akan cepat bangkit atau pulih atau mungkin butuh waktu lebih lama?

Menurut Dr Fahrur Ulum, persoalan ekonomi tergantung goal settingnya. Apa yang hendak dituju dari ekonomi yang dikembangkan ini? Sekedar tumbuh atau sampai pada persoalan utama yaitu mewujudkan kesejahteraan yang riil, merata dan adil bagi masyarakat.

Jika sekedar tumbuh, maka mungkin akan lebih cepat. Karena tumbuh itu otomatis. Tumbuh itu alami. Jika covid ini pergi ada kemungkinan ekonomi tumbuh. 

Indikator ekonomi itu tumbuh jika pendapatan nasional naik, jumlah tenaga kerja bertambah dan kemiskinan berkurang.

Persoalan inti dari ekonomi itu bukan sekedar tumbuh akan tetapi menciptakan kesejahteraan yang riil, adil dan merata di tengah masyarakat. Jika ini yang menjadi tujuan akan butuh waktu yang lama. 
Untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan sistem yang tidak hanya secara parsial tetapi butuh sistem yang mengatur ekonomi secara menyeluruh.

Kepada H. Dwi Tjondro, ditanyakan Seberapa kuat sistem ekonomi kapitalisme menghadapi pandemi ini?
Adakah sistem lain yang mampu bertahan terhadap wabah?

Dalam textbook ekonomi, sistem ekonomi ada 2 yaitu kapitalisme dan sosialisme. 

Ekonomi kapitalisme tulang punggungnya swasta. Hidup matinya tergantung swasta. Negara hanya numpang hidup saja yaitu menerima pajak dari sektor swasta. Jika ada pajak, negara hidup namun jika tidak ada pajak, maka negara akan mati. Sedangkan sistem ekonomi sosialisme tulang punggungnya negara. Kehidupan rakyatnya terserah negara. Rakyat mengikuti negara.

Saat ini yang dipakai sebagian besar negara di dunia adalah sistem ekonomi kapitalisme. Hidup matinya tergantung swasta. Sementara untuk mengukur hidup matinya sektor swasta tergantung dari pertumbuhan ekonomi. 

Jika kita dipaksa tinggal di rumah. Tidak bekerja. Roda ekonomi akan berhenti dan pertumbuhan ekonomi akan mandeg. Jika pertumbuhan ekonomi mandeg, Apa yang bisa diharapkan dari negara? Otomotis pajak akan turun drastis.

Beginilah struktur alami dari negara yang menganut sistem kapitalisme. Oleh sebab itu, jika ditanyakan daya tahannya seperti apa? BARSIBARBE (MATI SIJI MATI KABEH).

Jika swasta jatuh, maka secara otomatis negara juga akan jatuh. Secara global akan jatuh semua. Namun sistem kapitalisme ini secara natural akan tumbuh dengan sendirinya jika pandemi ini sudah selesai. 

Tapi masalahnya kapan selesainya? tak ada yang tahu sampai kapan. Berkali-kali ekonomi kapitalisme mengalami krisis solusinya selalu natural saja nanti juga tumbuh sendiri.

Adakah alternatif sistem lain?

Sayangnya, dalam textbook ekonomi tawarannya cuma ada dua sistem ekonomi. Dan dua-duanya terbukti gagal. Sistem ekonomi sosialisme sendiri sudah terbukti gagal dan dijauhi walaupun ada beberapa negara yang masih fanatik untuk memakainya.

Nah, yang belum muncul adalah sistem ekonomi Islam. Belum muncul, karena pengembangan ekonomi Islam belum mengarah pada ranah sistemik. Baru sebatas ekonomi ranah mikro seperti membentuk lembaga keuangan Islam dan bank Syariah.

Akibatnya, ekonomi Islam hanya menjadi sub ordinat (parsial) dari sistem ekonomi kapitalisme. Tubuhnya tetap kapitalisme sedangkan ekonomi Islam hanya sebagai pelengkap penderita. Jika kapitalisme ambruk maka ekonomi Islam juga akan ikut ambruk.

Bisakah kita menghadirkan sistem ekonomi Islam yang sistemik secara utuh?

Tulang punggung ekonomi Islam ada pada negara. Tapi bukan seperti ekonomi sosialisme. Sistem ekonomi Islam memiliki pandangan yang khas. Berbeda dengan sistem ekonomi yang lainnya.

Jika dalam sistem ekonomi kapitalisme harta kekayaan dikompetisikan bebas dan diperebutkan oleh swasta, sementara sistem ekonomi sosialisme harta kekayaan dikuasai sepenuhnya oleh negara, berbeda dengan sistem ekonomi Islam. 

Dalam sistem ekonomi Islam ada 3 kepemilikan yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. 

Hanya kepemilikan individu saja yang boleh dikompetisikan secara bebas namun harus sesuai dengan hukum syariat. Sementara kepemilikan umum dikelola oleh negara kemudian hasilnya didistribusikan kepada rakyat.

Jika negara kuat, adanya wabah akan mudah diatasi. Rakyat tinggal dirumah, seluruh kebutuhannya dicukupi oleh negara. Jika lockdown jelas maka tidak sampai satu bulan kita bisa hidup normal kembali. Seharusnya negeri-negeri Islam mengambil ekonomi Islam secara utuh bukan secara parsial.

Berikut ada pertanyaan dari peserta :

Kepada Dr. Sigit ditanyakan, Apa emergency exit terutama bagi UMKM jika ekonomi mulai dilonggarkan?

Kita harus berpikir positif ada peluang usaha baru misalnya peluang usaha membuat masker. UMKM juga bisa membidik usaha bahan-bahan untuk imun tubuh. Kuncinya adalah inovasi dan kreativitas. 

Termasuk juga peluang usaha webinar. Seperti menyediakan permintaan background bagi pembicara. Atau memfasilitasi liburan virtual seperti yang dilakukan hotel di Batu Malang. Atau menyediakan hand sanitizer serta penutup wajah dari fiber untuk anak-anak sekolah pasca pandemi.

Kepada Dr. Fahrul ditanyakan, Apakah kapitalisme bakal ambruk paska pandemi Covid-19?

Kapitalisme itu dibiarkan saja sudah ambruk sendiri. Tinggal nunggu waktu karena kerapuhan yang ada di dalamnya. 

Tidak ada kaitannya dengan Covid-19. Yang menyebabkan runtuhnya kapitalisme bukan Covid-19 tapi karena ditinggalkan oleh pendukungnya.

Kepada H. Dwi Tjondro ditanyakan, bagaimana peluang sistem kapitalisme akan ambruk atau tidak, pasca pandemi?

Tidak usah nunggu pandemi selesai, sistem kapitalisme saat ini sudah ambruk. Ekonomi dunia sudah remuk semua. 

Tapi masalahnya, sistem ekonomi kapitalisme ini menurut teori akan naik turun. Suatu saat akan mencapai puncak dan di lain waktu akan mengalami resesi dan turun. Namun dia akan bangkit lagi seperti gelombang naik turun.

Apakah akan ada gantinya?

Tidak otomatis. Mengganti sistem itu tidak bisa berjalan secara natural. Sejarah membuktikan, jika tidak ada sesuatu konsep yang ditawarkan maka aturannya akan tetap seperti itu terus.

Jika tidak ada yang disodorkan, dunia akan tetap dikuasai sistem kapitalisme. Tinggal naik turun, naik turun begitu seterusnya.

Apakah ini peluang bagi ekonomi Islam?
Apakah peluangnya besar atau kecil?

Peluangnya tetep kecil. Kenapa? Kita menghitungnya darimana? Seberapa banyak orang yang menawarkan sistem ekonomi Islam sebagai alternatif? 
Jika tidak ada yang menawarkan, maka akan kembali ke sistem kapitalisme lagi. Karena ekonomi Islam tidak bisa muncul secara natural. 

Sistem ekonomi Islam harus ada yang menyampaikan, mengajarkan, menunjukkan, dan memperjuangkan hingga ada negara yang menerapkannya. Karena sistem ekonomi Islam tidak mungkin muncul secara tiba-tiba tanpa ada yang membawa, mengemban, dan menyampaikannya.

Sekarang ada tidak manusia-manusia yang menyampaikan sistem ekonomi Islam sebagai sebuah sistem?

Kalau tidak ada, ya sudah. Kita bisa lihat jika kapitalisme ini ambruk sampai titik dasarnya hingga new normal nanti akan kembali ke sistem kapitalisme lagi.

Tidak mungkin tiba-tiba sistem ekonomi Islam itu akan jadi alternatif kemudian diikuti dan diterapkan. Darimana asalnya? Kalau tidak ada yang mengemban sama sekali.

Yang kita tunggu, seharusnya ada yang mengemban ekonomi Islam sebagai sebuah sistem yang apple to apple dengan sistem ekonomi kapitalisme bukan hanya sebagai sub ordinatnya. Jika sistem ekonomi Islam sebagai sub ordinat, maka sistem ekonomi Islam ini sudah selesai.

Sebagai kata akhir, Dr. Sigit menyarankan recovery terhadap pandemi ini dengan mengembangkan potensi dalam negeri. Pemerintah seharusnya memperhatikan kembali sektor pertanian mulai dari hulu sampai hilir. Sementara pemerintah daerah mengoptimalkan produk-produk lokal.

Sebagai kata akhir, Dr Fahrul Ulum menyampaikan bahwa setiap masalah yang ada saat ini maka kebijakan yang diambil harus sistemik bukan parsial. Sistem ekonomi Islam sebagai sistem alternatif harus ada yang mengemban. Dan selayaknnya negara menerapkannya.

Sebagai kata penutup, Ust Dwi Tjondro mengkritisi sistem ekonomi Islam yang dikembangkan saat ini mulai salah arah. Sistem ekonomi yang dikembangkan saat ini bukan sistem ekonomi mandiri yang mengikuti petunjuk dari Allah SWT tetapi hanya sekedar islamisasi dari sistem ekonomi kapitalisme. 

Misalnya ada dalam sistem kapitalisme ada teori ekonomi mikro, maka dibuat teori ekonomi mikro Islam. Teori ekonomi makro Islam, teori konsumsi Islam, moneter Islam, bank Islam, asuransi Islam. Islam hanya sekedar melengkapi. Semestinya mengembangkan ekonomi Islam itu sesuai dengan petunjuk Allah dan RasulNya.

Acara selanjutnya ditutup dengan doa oleh H. Dwi Tjondro dan doa kafaratul Majelis.

Reporter : Achmad Muit

Posting Komentar

0 Komentar