Pemuda Islam Cetar Bukan Pengedar

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan penangkapan pemain dan wasit speak bola nasional dalam kasus sabu-sabu (SS) di Sidoarjo, Jawa Timur, kemarin (18/5) oleh Petugas BNN Provinsi Jawa Timur. Petugas BNNP Jatim menangkap para tersangka saat bertransaksi di salah satu hotel di Sedati, Sidoarjo bersama barang bukti 5 kilogram sabu-sabu. Disaat pandemi Covid-19 yang melanda di penjuru dunia, harusnya pemuda menjadi garda terdepan dalam mengkampanyekan pemberantasan virus corona, apalagi dengan title sebagai tokoh perjuangan bangsa dalam kancah olah raga, bukan menjadi perusak generasi dengan mengedarkan barang haram narkoba. 

Narkoba merupakan barang berbahaya yang berpengaruh pada kerja otak. Penyalahgunaan narkotika memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf. Dalam jangka panjang, narkoba secara perlahan bisa merusak sistem saraf di otak mulai dari ringan hingga permanen. Betapa mengerikan dampak narkoba bagi pemuda di Indonesia. Badan Narkotika Nasional (BNN) merilis data pengguna Narkoba di Indonesia pada tahun 2019 dengan jumlah lebih kurang 3,6 juta orang. Bahkan ada sekitar 30 kematian lebih dalam sehari diakibatkan narkoba.

Pemuda sebagai Agent of Change
Pemuda merupakan kunci kemajuan peradaban Islam. Masa muda yang identik dengan jiwa yang penuh semangat, optimisme, percaya diri, penuh energi, penuh impian dan cita-cita. Pemuda di setiap masa merupakan tombak yang memiliki peran dan andil besar dalam dakwah Islam.

Namun sayangnya, pemuda saat ini banyak yang semakin jauh dari islam, ditambah sistem yang membuat mereka bergumul dengan kemaksiatan yang disuguhkan di depan mata. Pemuda saat ini yang dianggap unggul adalah pemuda yang kaya, popular, dan memiliki fisik sempurna, sedangkan pemuda sholih tak lagi popular di zaman now. Kenapa bisa seperti ini?

“Musuh-musuh Islam telah mengetahui fakta ini. Mereka pun berusaha merintangi jalan para pemuda muslim, mengubah pandangan hidup mereka, baik dengan memisahkan mereka dari agama, menciptakan jurang antara mereka dengan ulama dan norma-norma yang baik di masyarakat. Mereka memberikan label yang buruk terhadap para ulama sehingga para pemuda menjauh, menggambarkan mereka dengan sifat dan karakter yang buruk, menjatuhkan reputasi para ulama yang dicintai masyarakat, atau memprovokasi penguasa untuk berseberangan dengan mereka.” (Fatwa Syaikh Ibnu Baaz, 2/365)

Saat ini kita berada di naungan sistem sekuler, yang memisahkan agama dengan kehidupan. Sehingga aturan digunakan dalam kehidupan kita saat ini, tidak sejalan dengan aturan Allah. Para pemuda semakin dijauhkan dengan islam, sedang kekufuran dibiarkan menjangkiti hati para pemuda yang tak lagi mengenal islam sebagai aturan terbaik dalam mengatur seluruh problematika hidup manusia.

Pemuda di Zaman Daulah Islam
Pemuda di masa kejayaan islam merupakan pemuda terbaik, yang cerdas, pemberani, berdedikasi tinggi, berakhak mulia, dan selalu mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Para pemuda pada saat itu menjadi generator yang menggerakkan roda-roda perjuangan dakwah islam. Lihatlah betapa luar biasanya Usamah bin Zaid panglima perang menghadapi romawi saat masih 18 tahun, Umar bin Abdul Aziz yang menjadi gubernur Madinah usia 22 tahun, Imam Syafi’i menjadi seorang mufti di usia 15 tahun, Muhammad Al Fatih menjadi khalifah dan berhasil menaklukan benteng legendaris Konstatinopel pada usia 24 tahun.

Begitulah seharusnya para pemuda di dalam islam. Pemuda islam haruslah memiliki sifat yang pemberani menegakkan kebenaran dan melawan kebathilan. Pemuda islam haruslah mengikuti petunjuk Allah dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Pemuda dalam islam merupakan pemuda yang cetar yang tidak terjerumus ke dalam kesesatan apalagi terjerumus sebagai pengedar barang haram. Untuk itu wahai pemuda, sudah saatnya bangkit dan berjuang bersama untuk menegakkan kembali hukum-hukum Allah di muka bumi ini. Wallohu A’lam bisshowab.

Oleh: Hetik Yuliati, S.Pd (Aktivis Dakwah, Pengajar)

Posting Komentar

0 Komentar