Pelonggaran PSBB, Demi Genjot Ekonomi

Pekan terakhir jelang lebaran. Bandara Soekarno Hatta mulai dipadati pemudik. Ratusan calon penumpang berdesakan di terminal 2 Bandara. Heboh, penumpang pesawat membludak. Mereka bertumpuk dan tak peduli jarak aman di posko pemeriksaan perjalanan. Dikutip dari Liputan6.com 14 Mei 2020. 

Konon katanya mudik dilarang pemerintah. Lalu, kenapa transportasi tetap melenggang?

Sungguh membingungkan. Pelonggaran PSBB membuat rakyat nekat mudik. Dari ibukota mudik menuju kampung halaman. Meski keselamatan jiwa raga dipertaruhkan. Baik diri sendiri maupun orang lain.

Sedari awal. Kebijakan PSBB memang sudah membuat rakyat kebingungan. PSBB yang lahir dari jalan tengah antara karantina wilayah dan Lockdown. Nyata tidak berhasil memberikan solusi memutus rantai penyebaran virus. Pasalnya, rakyat gagal faham dengan sikap penguasa yang dinilai bolak-balik. Dimulai dari pelarangan mudik. Tapi, moda trasportasi diaktifkan kembali. Siapa yang bisa memastikan penumpang transportasi umum itu tidak mudik?

Pembukaan bandara dan kereta jarak jauh juga dinilai sebagai inkonsisten pemerintah kepada rakyat. Kebijakan inkonsisten dan tak konsekuen dari pemerintah pusat dan daerah bisa menjadi salah satu sebab memperpanjang masa wabah berbahaya ini. Namun, demi menggenjot ekonomi dan tak mau rugi.  Pemerintah nekat mengaktifkan kembali moda trasportasi. Jalan berbahaya akan tetap di tempuh. Walaupun nyawa rakyat dipertaruhkan.

Dikutip dari Cnn Indonesia (25/5).
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi berencana akan melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) setelah 26 Mei, atau hari terakhir pelaksanaan PSBB tahap ketiga. Serta, memohon Gubernur Jawa Barat untuk kiranya dapat dilaksanakan relaksasi dengan membuka aktivitas perekonomian secara bertahap dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan," ujar Kabag Humas Kota Bekasi, Sayekti Rubiah, mengutip isi surat yang ditandatangani langsung oleh Rahmat Effendi dalam keterangan tertulis, Senin (25/5).

Permintaan tersebut dibuat dengan pertimbangan perekonomian di Kota Bekasi mulai terseok-seok akibat PSBB. Pendapatan Pemkot merosot anjloknya aktivitas perdagangan.

Bisa jadi, dengan terjadinya pelonggaran PSBB ini dapat memicu gelombang kedua corona di Indonesia. Berdalih. Berdamai dengan corona. Serta, kembali menjadi kehidupan normal seperti semula.

Mengambil pelajaran dari negara Spanyol. Pandemi terparah dalam sejarah adalah Flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918. Flu ini berlangsung selama dua tahun dalam tiga gelombang serangan. Tercatat 500 juta orang terinfeksi dan 50 juta kematian . 

Namun, sebagian besar kematian terjadi di gelombang kedua. Ketika masyarakat sudah sangat merasa tidak nyaman dengan karantina dan jarak sosial, ketika mereka dibolehkan keluar rumah lagi, masyarakat berbondong-bondong merayakannya dengan suka cita di jalan-jalan, berbelanja di mall serta makan di cafe-cafe. Beberapa minggu kemudian, serangan gelombang kedua terjadi dengan puluhan juta kematian. 

Keadaan ini menggambarkan bahwa negara absen dari tanggung jawab penuh penanganan wabah. Sehingga para medis pun yang berada di garda terdepan penanganan wabah terlihat kewalahan. Melihat gelombak pasien positive yang semakin bertambah. Sehingga mereka Mengampayekan hestage #IndonesiaTerserah. 

Kesimpulannya, bahwa keberadaan Negara hari ini tidak serius dalam mengurusi keselamatan jiwa rakyat. Negara disetir oleh segelintir orang-orang rakus kepentingan. Demi meraup untung besar untuk menumpuk harta kekayaan. Itulah gaya hidup kapitalisme. Mencari untung sebesar-besarnya demi menyenyangkan segelintir orang yang punya modal tebal.

Dalam Islam, negara berfungsi sebagai ro'in dan junnah. Tempat dimana jutaan rakyat menggantungkan hidupnya. Adalah sebuah kedzaliman jika nyatanya negara absen dari mengurusi urusan rakyat ini. Tak terbayang, berapa juta rakyat terbengkalai kebutuhannya. Karena hilangnya perisai mereka. Dan pasti kelak rakyat akan mengadu  meminta pertanggung jawaban atas pengabaian hak-hak mereka di dunia di hadapan Allah. Jika nasehat kecil ini tak didengar.

Adapun keberadaan rakyat adalah sebagai pengontrol kebijakan penguasa yang menyalahi ketentuan syari'at. Oleh sebab itu, sudah nyata betapa Kapitalisme Demokrasi memang cacat sedari lahirnya. Dimana berasal dari kejeniusan akal yang dangkal lagi terbatas. Sehingga, aturannya pun dibuat untuk menguntunggan dan kepentingan  beberapa orang saja. Orang kaya semakin kaya dan si miskin semakin sengsara. Sungguh kita merindukan hidup dalam naungan syariah dan Khilafah Islam. 

Wallahu 'alam bii shawwab

Oleh: Sri Ariyati

Posting Komentar

0 Komentar