Pejuang Wabah Minim Proteksi, Bukti Penguasa Abai


Tagar #IndonesiaTerserah yang sempat menghebohkan jagad sosial media sepertinya mewakili perasaan para tenaga medis di negeri ini. Pasalnya, di tengah perjuangan para pahlawan kemanusiaan ini, yang bahkan harus bertaruh nyawa melawan serangan virus corona, mereka disuguhkan pemandangan yang mengiris hati.

Bagaimana bisa dalam kondisi kepungan virus yang kian hari jumlah kasus positifnya makin meningkat justru didapati kondisi bandara yang penuh sesak dengan penumpang. Belum lagi pasar dan mall yang kembali ramai dikunjungi. 

Tentu saja, physical distancing tak nampak sama sekali dalam tangkapan gambar yang beredar luas di sosial media itu. 

Rasanya pengorbanan para pejuang wabah ini tak sebanding dengan perlakuan yang mereka terima. Sudahlah mereka dibuat kecewa dengan sikap masyarakat yang tak kooperatif dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 ini, pemerintah justru menabur garam diatas luka mereka. 

Bagaimana tidak? Sejak pertama kali kasus Covid-19 ini dikonfirmasi di Indonesia pada Maret lalu, para tenaga medis tak henti menyelamatkan pasien yang terinfeksi virus ini. Namun nyatanya, pemberian insentif keuangan yang telah disampaikan Presiden Joko Widodo pada 23 Maret lalu tak luput dari masalah. 

“Insentif yang dibilang maksimal 7,5 juta itu memang sampai sekarang belum (diterima),” begitulah jawaban Anitha ketika ditanya tim Tempo. 

Perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) ini mengaku tak mengetahui apa alasan belum cairnya insentif. Namun, menurutnya para perawat sangat memerlukan insentif itu, terlebih bagi mereka yang mendapat pemotongan tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri (www.nasional.tempo.co, 25/05/2020). 

Hal yang sama juga dialami sejumlah tenaga medis di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran (www.merdeka.com, 25/05/2020).

Seperti diketahui, pemerintah menjanjikan pemberian insentif keuangan bagi para tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Covid-19. Besaran insentif berkisar Rp 5-15 juta setiap bulan. Rinciannya, Rp 15 juta untuk dokter spesialis, Rp 10 juta untuk dokter umum dan dokter gizi, Rp 7,5 juta untuk bidan dan perawat, dan Rp 5 juta untuk tenaga medis lainnya.

Sungguh amat disayangkan, mengingat bagaimana virus ini juga telah menyebabkan nyawa para tenaga medis melayang. Seperti kisah pilu yang dialami oleh Ari Puspita Sari, yang menambah panjang daftar korban tenaga kesehatan akibat terinfeksi Covid-19. 

Perawat di Rumah Sakit Royal Surabaya ini menghembuskan nafas terakhirnya pada Senin (18/05) usai menjalani masa kritis akibat terinfeksi Covid-19. Ia gugur sebagai pahlawan kemanusiaan bersama dengan janin berusia 4 bulan yang dikandungnya.

Mirisnya, di tengah berkurangnya jumlah tenaga medis yang menangani kasus Covid-19 justru terjadi pemecatan ratusan tenaga kesehatan yang berawal dari aksi mogok menuntut kelengkapan alat pelindung diri (APD) dan pemberian insentif. Padahal kita ketahui bersama bagaimana pentingnya kelengkapan APD bagi tenaga kesehatan. 

Tanpa adanya proteksi diri yang memadai, maka dapat dipastikan akan semakin banyak tenaga kesehatan yang menjadi korban, sebab merekalah pihak yang paling rentan terpapar virus ini lantaran tiap hari mereka kontak langsung dengan pasien positif Covid-19.

Pandemi ini telah membuka mata publik akan ketidakmampuan peradaban kapitalisme dalam menjamin keselamatan rakyatnya, termasuk para tenaga kesehatan. Penguasa dalam sistem kapitalisme tak benar-benar hadir sebagai raa’in (pengurus) urusan rakyatnya. 

Penguasa negeri ini pun seolah abai dengan jeritan para tenaga medis yang berjibaku di medan tempur. Mereka terkesan sulit mengeluarkan dana negara untuk menyelamatkan nyawa rakyatnya, sedangkan  untuk pembangunan infrastruktur ibu kota baru yang notabene hanya menguntungkan para investor begitu mudah mereka alokasikan.

Para pahlawan kemanusiaan ini dibiarkan memerangi serangan virus asal Wuhan ini tanpa dibekali persenjataan yang memadai. Bukan hanya minim proteksi fisik, proteksi finansial pun juga tak dipenuhi dengan baik. 

Maka tatkala prajurit tempur banyak yang tumbang, musuh akan dengan mudah merobohkan tembok pertahanan. Inilah yang menimpa Indonesia hari ini. Penambahan kasus baru positif Covid-19 bahkan menembus angka hampir 1000 pada Kamis (21/05). Na’udzubillah.

Bagai bumi dan langit, peradaban Islam memang tak akan pernah bisa tertandingi. Dalam hal penanganan wabah, peradaban Islam sejak ribuan tahun yang lalu sudah menerapkan metode karantina wilayah, sehingga wabah tak menyebar luas seperti saat ini. 

Negara wajib menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan yang bebas biaya dan berkualitas. Pun tak ada kesenjangan pelayanan antara si kaya dan si miskin, muslim ataupun non muslim. 

Negara juga memastikan sarana dan prasana serta fasilitas lain yang mendukung untuk pelayanan kesehatan tersedia dengan baik. Terlebih dalam kondisi wabah melanda tentu proteksi terhadap para tenaga medis amat penting untuk dipenuhi. 
Kerja keras mereka pun dihargai dengan pantas oleh negara, bahkan gaji seorang dokter terbilang fantastis.

Gaji dokter bisa mencapai 750 USD, jika dikonversikan nilainya lebih dari Rp 11 juta (1 USD = 14.700). Seorang dokter Kristen di masa kekuasaan Islam, Ibn Tilmidz, memiliki pendapatan tahunan yang jumlahnya lebih dari 20 ribu dinar (1 dinar = 4,25 gram emas). Artinya, 85 ribu gram emas per tahun. Jika diuangkan (dengan asumsi 1 gram emas seharga Rp 767 ratus ribu), gajinya mencapai Rp 65.195 Miliar. 

Seorang residen yang berjaga di rumah sakit dua hari dua malam dalam seminggu memperoleh sekitar 300 dirham per bulan (1 dinar = 2,975 gram perak), ini setara dengan Rp 7.587.250 (dengan asumsi 1 gram perak seharga Rp8.5 ribu).

Tak heran jika tenaga kesehatan begitu sejahtera dalam peradaban Islam. Sudahlah gaji yang begitu besarnya ditambah lagi kebutuhan dasar (sandang, pangan, dan papan), keamanan, pedidikan serta kesehatan sudah dijamin oleh negara, sebab para tenaga medis ini pun juga bagian dari rakyat yang berhak mendapatkan peri’ayahan (pemeliharaan) dari negara.

Wallahua'lam bish-shawab

Oleh : Dwi Miftakhul Hidayah, S.ST (Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar