TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Panglima Perang yang Wafat di Atas Ranjang


Syaifulloh, pedang Allah. Begitulah gelar yang diberikan kepada salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki nama lengkap Khalid bin al-Walid bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah. Nashabnya bertemu dengan Rasulallah ﷺ pada Murrah.

Beliau lahir di Mekkah, ayah beliau bernama Al-Walid bin Al-Mughirah, dia adalah bangsawan Quraisy pada masa jahiliyah. Pada awal Rasulullah ﷺ menda’wahkan ajaran Islam, dia adalah salah satu yang sangat membenci dan memusuhi bahkan dia dikenal sebagai orang yang paling keras memusuhi da’wah Islam. Ibunya bernama Lubabah as-Shughra binti Al-Harits dari Bani Hilal bin Amir.

Khalid bin al-Walid bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah, dikenal dengan nama Khalid bin al-Walid. Sebelum masuk Islam, Khalid adalah pembunuh kejam yang membuat hati kaum muslimin gentar dalam perang uhud dan perang khandaq, namun kemudian beliau juga menjadi komandan perang Islam yang membuat gentar hati orang-orang kafir yang menentang agama Allah. Sungguh rencana Allah sangatlah indah.

Sejak kecil Khalid bin al-Walid senantiasa belajar keterampilan perang, berkuda, memanah, melempar tombak, dan cara menggunakan pedang. Ketika menginjak dewasa, pertempuran pertamanya melawan kaum muslimin adalah ketika Perang Badar, Kafir Quraisy unggul atas umat Islam, ini terjadi karena kejeniusan Khalid bin al-Walid dalam melihat celah umat Islam hingga kaum kafr Quraisy berbalik unggul dalam perang Uhud ini.

Pedang Allah yang Terhunus
Pada tahun 636 M di dekat Sungai Yarmuk, anak sungai terbesar di Sungai Yordan, terjadi sebuah petempuran antara pasuka kaum Muslimin dan pasukan Romawi. 

Ibnu Katsir dalam kitabnya Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa, pada saat perang Yarmuk, salah seorang panglima besar Romawi yang bernama Jarajah keluar dari barisannya dan meminta agar Khalid bin al-Walid mau menemuinya, Khalid pun mengahampirinya. Kemudian Jarajah berkata, “Wahai Khalid, beritahukan kepadaku dan jujurlah, karena orang merdeka tidak akan berbohong, dan janganlah engkau membohongiku sebab orang mulia tidak akan berbohong terhadap orang yang berhubungan dengan Allah. Apakah Allah pernah menurunkan kepada nabimu sebuah pedang yang diberikannya kepadamu hingga setiap kali engkau hunus pedang itu terhadap musuhmu pasti mereka akan kalah?” kemudian Khalid bin al-Walid menjawab, “tidak”, Jarajah kemabali bertanya, “jika demiakian, kemudian mengapa engkau dijuluki pedang Allah?” Khalid bin al-Walid menjawab, “Sesunguhnya Allah telah mengutus Nabi-Nya kepada kami. 

Nabi tersebut menyeru kami, namun kami berlari menjauhinya, Sebagian dari kami membenarkannya dan Sebagian lain mendustakannya. Aku termasuk orang yang mendustakan dan menjauhinya, hingga Allah Ta’ala memerikan hidayah kepada hati kami untuk beriman kepadanya dan membaitnya. Lalu Nabi ﷺ berkata kepadaku, ‘Engaku adalah pedang Allah yang terhunus terhadap kaum musyrikin’. Dia juga mendo’akan aku agar aku diberikan kemenangan. Sejak saat itulah aku diberi julukan pedang Allah. Dan aku menjadi orang yang paling keras terhadap orang-orang musyrik.

Dalam riwayat lain juga dikatakan, ketika Nabi ﷺ memberitahukan kepada orang-orang atas syahidnya Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah, sebelumnya beliau bersabda, “Zaid mengambil bendera sebagai komandan perang bagi kaum Muslimin, dan menjadi martir, kemudian Ja’far mengambilnya dan menjadi martir, dan kemudian Ibnu Rawahah mengambilnya dan menjadi martir. Kemudian bendera diambil oleh ‘pedang’ di antara pedang Allah (yaitu Khalid bin al-Walid) dan Allah Ta’ala membuat mereka menang.” (Al-Maghozi shahih Bukhari, no. 4262)

Kesedihan Ibunda atas Kematian Khalid bin al-Walid

Sejak masuk Islam, Khalid bin al-Walid banyak mengikuti peperangan demi menjemput kesyahidan, namun Allah Ta’ala selalu menyelamatkannya dari kematian. Hingga akhirnya, pada masa Umar bin Khattab, Khalid bin Walid dilengserkan dari jabatan sebagai panglima perang lewat surat yang diterimanya dari wilayah Qansarin pada tahun 17 H.

Sebelum meninggalnya, Khalid bin al-Walid berkata, “Aku telah berjuang dalam banyak pertempuran demi mencari kematian secara syahid. Tidak ada tempat dalam tubuhku ini, melainkan terdapat luka tebasan pedang, tusukan tombak, sayatan, atau bahkan luka bekas anak panah. 

Meski demikian, inilah aku, akan mati di atas tempat tidur laksana seekor unta tua yang mati. Semoga mata para pengecut tidak pernah tertidur.” Mendengar ucapannya itu, salah seorang temannya yang tegah menjenguknya berkata, “Wahai Khalid, ketauhilah bahwa ketika Rasulullah memeberikan julukan kepadamu dengan sebutan pedang Allah, sungguh itu telah menjadi ketetapan bagimu untuk tidak meninggal di medan pertempuran. 

Andaikan engkau meninggal di medan pertempuran di tangan orang kafir, maka itu artinya pedang Allah telah dipatahkan oleh orang kafir. Dan itu tidak akan pernah terjadi.” Setelah mendengar ucapan temannya tersebut Khalid pun terdiam dan terlihat lebih tenang. Dan temannya pun pergi meninggalkannya.

Khalid bin al-Walid pun wafat, semua orang menangis ketika jenazahnya diusung di atas pundak dalam perjalanan ke tempat kuburnya. Ibu Khalid memandangnya, dan meratapi jenazahnya, kemudian berkata, “engkau lebih baik daripada jutaan orang, kerena engau berhasil membuat wajah mereka tunduk. 

Soal keberanian, engkau lebih berani dari seekor singa betina yang sedang mengamuk melindungi anaknya. Soal kedermawanan, engkau lebih dermawan daripada air yang mengalir deras, yang terjun dari celah bukit curam ke lembah.
Khalid bin al-Walid wafat pada tahun 21 Hijriyah di Hims, Siriya, sebagaimana disebutkan dalam buku Biografi 60 sahabat nabi karya Khalid Muhammad Khalid. 

Namun usia beliau ketika meninggal ada perbedaan pendapat, Asy-Syaqawi mengatakan beliau meninggal pada usia 52 tahun, sedangkan Hakim dalam bukunya Khalid bin al-Walid mengatakan beliau meninggal pada usia 58 tahun. Wallahu A’lam.[]

Oleh Muhammad Ilma Ihsani Fadhlulloh.

Posting Komentar

0 Komentar