Nyanyian Radikal Kembali Dijual di Tengah Pandemi

sumber foto: ayopurwakarta.com

Tak henti-hentinya fitnah dan stigma negatif ditujukan kepada Islam, kaum muslimin dan para pengemban dakwahnya. Benarlah ungkapan dari Ustadz Oemar Mitha dalam sebuah ceramahnya, bahwa tidak ada agama yang paling keras diperangi kecuali Islam. Bahkan di saat negeri ini dalam situasi sulit menghadapi pandemi covid-19 yang telah memakan banyak korban, fitnah itu tak berhenti. 

"Dalam situasi nasional kita, masih ada yang menyuarakan khilafah, radikal dan teror. Bahkan, mereka saat ini melakukan konsolidasi dan menyiapkan amaliyah-amaliyah di tengah pandemi ini," kata Deputi IV Bidang Pertahanan Negara Kemenko Polhukam Mayjen TNI Rudianto. (Republika/20/05/2020)

Kalimat “masih ada yang menyuarakan khilafah, radikal dan teror” adalah penggiringan opini yang berbahaya karena sangat mungkin menimbulkan multi persepsi, yang cenderung negatif. Apakah pernyataan tersebut ingin menyampaikan bahwa khilafah adalah paham yang radikal sehingga menjadi sesuatu yang berbahaya? Adakah dasar hukumnya? 

Kemudian pernyataan teror dan konsolidasi menyiapkan amaliyah yang dimaksud, apakah juga dilakukan oleh para aktivis dakwah yang menyuarakan khilafah? Ataukah oleh kelompok yang berbeda? Jika itu adalah kesimpulan yang mengeneralisir tentu dapat merugikan banyak pihak. Apalagi jelas, tuduhan tanpa bukti adalah fitnah dan termasuk perbuatan pembunuhan karakter dan pencemaran nama baik. 

Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Sumber hukumnya pun shahih dari Al Quran dan As Sunnah. Bertebaran kitab-kitab para ulama, mulai dari kitab 4 Imam Madzab, yang menjadi rujukan umat, hingga dalam buku-buku yang diajarkan disekolah dan pesantren yang membahas tentang khilafah. Maka menjadi timbul pertanyaan saat beberapa waktu lalu, keluar kebijakan menghapuskan bahasan khilafah dari kurikulum sekolah. Mengapa ada upaya menghilangkan sebuah fakta sejarah yang keberadaannya tak terbantahkan? 

Bahkan selama kurang lebih 13 abad khilafah menguasai 2/3 dunia, berjaya menciptakan peradaban gemilang, hingga tahun 1924 diruntuhkan oleh keserakahan manusia. Dampaknya 96 tahun umat muslim hidup tercerai-berai tanpa pelindung, tanpa pengayom. 

Narasi radikal seolah masih menjadi cara yang efektif untuk memukul para aktivis dakwah, dalam hal ini dakwah syariah khilafah. Stigma negatif digulirkan ke tengah masyarakat secara sepihak, tanpa ada kesempatan diskusi terbuka ataupun adu argumentasi secara adil dan profesional. 

Siapa sebenarnya yang menyesatkan publik dengan mengaburkan makna radikal?. Dari makna yang bersifat netral, tetapi diopinikan dengan sesuatu yang buruk dan merusak. Beberapa waktu lalu sempat ada wacana mengganti istilah “radikal” menjadi “manipulator agama’. Ini menunjukkan pencetusnya tidak percaya diri dengan label “radikal”. Dari sisi definisi saja tak lagi obyektif, campur aduk dan bias, terpengaruh pada siapa yang memberi definisi, dan kepada apa atau siapa definisi tersebut diarahkan.

Radikal dan radikalisme seolah mempunyai makna yang sama, padahal keduanya jelas berbeda. Radikal menurut KBBI artinya 1. Secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip) 2. Amat keras menuntut perubahan (UU, pemerintahan). 3. Maju dalam berpikir atau bertindak. Sementara Radikalisme menurut KBBI adalah : 1. Paham atau aliran dalam politik 2. Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis 3. Sikap ekstrim dalam aliran politik. 

Gorengan isu terorisme sudah tak semasif dulu, karena masyarakat sudah cukup cerdas bagaimana harus mengambil sikap. Namun hari ini, giliran tuduhan radikal dan makar ditujukan kepada siapapun yang mendakwahkan syariah khilafah. Menyampaikan kritik dicap provokator dan penebar kebencian. Padahal kritik adalah bentuk peduli karena disertai masukan dan solusi. Kritik tak digubrispun tidak kemudian dibalas dengan aksi makar seperti yang dituduhkan.

Perang narasi, sebutan radikal, makar, memecah belah bangsa, yang tidak jelas definisi dan tolak ukurnya tentu sangat berbahaya. Karena definisi akan membentuk opini. Definisi negatif, maka opini yang terbentukpun menjadi negatif, begitu juga sebaliknya. 

Akibatnya muncul Islamophobia dikalangan awam. Menjadikan mereka takut mengkaji Islam lebih dalam, ragu menyuarakan kebenaran, karena ancaman UU yang mengatasnamakan demi keamanan negara. Sebenarnya siapa yang memicu konflik? 

Sebagai seorang muslim, sudahlah tentu visi misinya adalah mengemban dakwah Islam demi tegaknya Syariat Islam. Toh, pilihan kembali ditangan umat, sistem hidup (ideologi) mana yang mampu memecahkan seluruh problematika yang terjadi hari ini. Karena dakwah Islam bukan dengan paksaan, apalagi kekerasan.

Sebagai umat Islam yang dibekali iman yang kokoh dan menyeluruh, kita harus berpikir cerdas dalam melihat setiap kondisi dan definisi. Siapa yang memberikan definisi? Darimana sumbernya? Apa dasarnya? Bagaimana faktanya? Dari sini akan terlihat, kemana opini akan digiring. Maka sebagai umat muslim, kembalilah kepada Al Quran dan As Sunah, yang definisinya mutlak benar.

Wallahu’alam bishawab.

Oleh: Anita Rachman  Pemerhati Sosial Politik

Posting Komentar

0 Komentar