New Normal Life untuk Siapa?



Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak akhir 2019 belum pasti kapan berakhir. Vaksin dan obat belum ditemukan. Namun ternyata, pemerintah mulai mewacanakan new normal life (kehidupan normal baru). Melihat virus Corona belum dapat dibasmi, sedangkan roda kehidupan harus tetap berjalan. Alhasil masyarakat pun harus mulai beradaptasi dan kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, menjadi tanda tanya besar, siapkah masyarakat Indonesia dengan konsep new normal life?

New normal adalah perubahan perilaku agar tetap beraktivitas normal dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Konsep ini diterapkan sampai vaksin dan obat Covid-19 ditemukan. Tentunya diiringi dengan protokol yang ketat dan harus penuhi.  

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr. Herwaman Saputra menyebut prasyarat untuk memberlakukan new normal life diantaranya sudah terjadi perlambatan kasus, sudah dilakukan optimalisasi PSBB, masyarakat sudah mawas diri dan meningkatkan imun masing-masing. Pemerintah juga sudah memperhatikan infrastruktur untuk memberlakukan new normal life. (merdeka.com, 25/5/2020).

Wacana new normal tentu saja menimbulkan kekhawatiran pada masyarakat dan tenaga medis. Melihat fakta, terus meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia. Puncaknya belum juga terlewati, bahkan di beberapa daerah terjadi lonjakan yang signifikan. PSBB belum optimal, dan infrastruktur untuk penanganan pandemi pun masih minimalis. Penerapan new normal tanpa diimbangi dengan upaya antisipasi akan semakin memperpanjang rantai penyebaran Covid-19.

Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia , Prof. David S. Perdanakusuma pun angkat bicara. Ia mengatakan bahwa jalan yang terbaik adalah dengan mengubah dari kondisi yang tidak terkendali menjadi terkendali, memutus rantai penularan, meskipun belum ada obat dan vaksin, maka Covid-19 akan bisa ditangani. (kompas.com, 19/5/2020).

Jika di telisik lebih lanjut new normal life sejatinya merupakan perubahan mekanisme dalam dunia ekonomi dan bisnis. Bukan sekedar tatanan kehidupan baru dengan sejumlah protokol kesehatan. Konsep ini jelas sesungguhnya menunjukkan bukti kegagalan sistem kapitalisme dalam menangani pandemi Covid-19.

Dalam sistem kapitalisme negara berlepas tangan dalam memelihara urusan masyarakat, dan menyerahkannya pada sektor swasta. Sehingga sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang bisnis yang lebih menitikberatkan pada untung dan rugi untuk menormalkan kondisi ekonomi, dibandingkan dengan menyelematkan nyawa rakyat yang notabene memerlukan dana yang sangat besar.

Berbanding terbalik dengan peradaban kapitalisme. Peradaban Islam terbukti sebagai peradaban dengan karakter mulia. Memberikan rasa tentram dan ketenangan bagi umat manusia. Dalam Islam, khalifah (kepala negara) memiliki tanggungjawab untuk memelihara urusan umat dan menempatkannya sebagai prioritas utama. Harta, nyawa, akal dan keselamatan rakyat di pandang sebagai sesuatu yang berharga dan harus dijaga.

Keberadaan akidah Islam sebagai dasar berdirinya peradaban menjadikannya sebagai satu-satunya peradaban yang layak bagi manusia. Kehidupannya yang berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah mewujudkan nilai materi, spiritual, kemanusiaan dan moral secara  serasi dan seimbang. Ketika terjadi gangguan baik wabah maupun bencana, negara akan berada di garda depan untuk melindungi rakyatnya.

Maka tidak heran jika setiap persoalan mampu diatasi dengan tuntas. Sebagaimana tercatat dalam sejarah keberhasilan Khalifah Umar bin Khattab dalam menghadapi wabah Thaun. Beliau menerapkan lockdown secara total dengan tetap menjamin kebutuhan pokok masyarakat, baik bahan pangan, obat-obatan maupun kebutuhan pribadi masyarakat lainnya. Berbagai penelitian untuk menemukan obat pun di gencarkan dengan sokongan dana yang kuat. Sehingga para ilmuwan bisa leluasa bekerja menukan obat yang bisa memberantas wabah.

Melihat fakta yang ada, maka sudah selayaknya kita mencari alternatif lain dengan kembali kepangkuan Islam secara kafah. Sehingga kehidupan manusia kembali dipenuhi keberkahan dan kemuliaan, terlindungi jiwa dan hartanya. Kembali meraih predikat sebagai generasi terbaik, yang mandiri danpa intervensi dari pihak manapun.
Wallahua’lam.

Oleh: Sri Purwanti, Amd.KL
Pegiat Literasi, Founder Rumah Baca Cahaya Ilmu

Posting Komentar

0 Komentar