TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mitos Kecantikan Menyambut Lebaran

sumber foto: grid.id


Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan berbagai mall yang telah buka. Dengan dibukanya mall kembali, banyak orang yang memadati mall untuk berbelanja baju lebaran. Pemandangan ini sangat miris, apalagi segala aturan mulai dari PSBB, Social Distancing, hingga Physical Distancing dilanggar oleh masyarakat kebanyakan. 

Tampaknya tak hanya mudik yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia menjelang Idul Fitri, tetapi juga baju baru lebaran. Terlebih bagi wanita, berhias dan tampil secantik mungkin adalah sebuah keharusan karena biasanya wanita malu jika dibilang gemuk, dibilang kusam bahkan dibilang tambah tua. Wanita akan berusaha merogoh koceknya dalam-dalam agar bisa tampil cantik di saat lebaran. Walaupun secara fisik tidak dapat berkumpul bersama orang tua ataupun saudara tercinta namun masih ada jalan silaturahmi dan moment maaf-memaafkan melalui video call.

Banyak dari wanita dengan kesadaran kesehatan yang rendah memilih jalur instan agar wajahnya cepat menjadi putih tanpa mempertanyakan bahan-bahan apa yang terkandung di dalam cream dan apa bahayanya jika digunakan terus menerus. Bagi mereka memiliki wajah putih, bersih, glowing adalah Cantik.

Betapa keuntungan yang diperoleh oleh industri kosmetik dengan adanya mitos kecantikan ini. Mitos kecantikan ditanamkan oleh media, ditanamkan oleh beragam model-model yang tampil melalui media. Tentang bagaimana sosok cantik yang cantik dapat memiliki kepercayaan diri. Cantik itu memiliki standar proporsi.

Beda negara, berbeda pula makna cantik. Di Australia kulit yang eksotis dan bentuk tubuh yang atletis menjadi suatu hal yang diidamkan oleh perempuan di sana.

Di Korea Selatan, mata bundar yang besar, kelopak mata yang tebal, serta kulit putih merona merupakan impian setiap wanita di sana.

Bagi masyarakat Perancis, riasan yang minim bahkan tanpa make up serta rambut yang alami tergerai sudah membuat para wanita terlihat cantik dan mempesona.(m.beautynesia.id, 18/3/2020)

Ukuran kecantikan ini tentu saja adalah sebuah mitos yang tidak hanya irasional, karena tidak semua orang bisa mencapainya atau bisa meraihnya tetapi juga sangat berbahaya. Seseorang yang berkulit hitam bisa mengambil keputusan operasi berkali-kali untuk merubah kulitnya menjadi putih. Hidung yang pesek dioperasimenjadi mancung. Bahkan wajah yang dinilai kurang menarik bisa berubah drastis menjadi cantik setelah melakukan operasi berkali kali hingga menghabiskan uang hingga milyaran rupiah.

Banyak kaum perempuan  mengalami masalah kesehatan karena mereka tidak ingin memiliki kelebihan berat badan. Mereka mengalami bermacam-macam keluhan dan rasa tidak percaya diri mendapatkan tubuhnya tak porposional alias kegemukan, bahkan ada yang sampai bunuh diri.

Selain mereka mengorbankan Sekian banyak dana mereka untuk mengkonsumsi kosmetika, mereka juga menghabiskan banyak dana untuk belanja fashion. Di negara barat, penghasilan kaum profesional dialokasikan untuk kebutuhan penampilan, untuk fashion dan untuk kecantikan. Dan ternyata hal tersebut bukan hanya mempengaruhi perempuan-perempuan di dunia barat tapi juga perempuan perempuan di negeri muslim semacam Indonesia juga sudah percaya dan teracuni oleh mitos Kecantikan ini.

Kita bisa melihat ada berapa banyak beauty vlogger yang menjadi influencer bagi anak-anak muda di negeri ini. Ada berapa banyak orang yang tidak berani keluar rumah tanpa memakai riasan wajah sebagaimana yang distandarisasi. Hal ini sudah jelas menggambarkan mereka teracuni oleh mitos kecantikan.

Berdasarkan data dari Kemenperin,  impor kosmetik pada tahun 2018 sebesar US$850,15 juta  meningkat dibandingkan tahun 2017 sebesar US$631,66 juta. Sementara  Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor kosmetik dan perlengkapan toilet (termasuk perlengkapan kecantikan, skin-care, manicure/pedicure) hingga senilai US$226,74 juta (sekitar Rp3,29 triliun menggunakan kurs Rp14.500/US$), pada tahun 2017. Nilai sebesar itu meningkat nyaris 30% dari capaian tahun 2016 yang “hanya” sebesar US$175,48 juta (Rp2,54 triliun).

BPS mencatat pada periode Januari-Juli 2018, total nilai impor produk kecantikan–termasuk kosmetik, produk perawatan, dan sabun mencapai US$431,2 juta atau naik 31,7% dibanding tahun sebelumnya.(pelakubisnis.com, 21/2/2020)

Ini adalah angka yang luar biasa di tengah himpitan kemiskinan puluhan juta penduduk di negeri ini. Bukankah itu semua bisa terjadi karena sebagian besar wanita di negeri ini  terpengaruh oleh apa yang digaungkan oleh dunia barat dan apa yang menguntungkan industri-industri kapitalistik baik industri fashion, industri kosmetik maupun industri media tentang sosok perempuan yang cantik dan layak percaya diri.

Bagaimanakah sosok cantik dalam pandangan islam?

Allah melihat kita manusia dari hati kita. Dari tingkat ketaqwaan kita. 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS. Al Hujurat: 13).

Taqwa itu hanya ada pada diri wanita sholihah.
Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

Artinya: “Maka wanita yang sholihah adalah yang taat, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah menjaga mereka.” (QS. An Nisa’:34)

Wanita shalihah adalah idaman setiap orang. Harta yang paling berharga, sebaik-baik perhiasan. 

Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam :

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita shalihah"
(HR. Muslim no 1467)

Wanita sholihah adalah wanita yang mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah Subhaanahu wata’ala, mengajarkan kepada mereka aqidah yang benar, menanamkan ke dalam hati mereka perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjauhkan mereka dari segala jenis kemaksiatan dan perilaku tercela. Sungguh inilah kecantikan yang sebenarnya, kecantikan yang semakin bertambah walau tak lagi muda. Kecantikan yang semakin memancar saat rambut tak lagi hitam.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallahu anhu :

فَإِنَّكَ لَسْتَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلَا أَسْوَدَ إِلَّا أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى

“Sesungguhnya engkau tidak lebih baik dari yang berkulit Merah dan tidak juga yang berkulit hitam, melainkan jika engkau mampu mengunggulinya dalam ketakwaan” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).

Kita harus memberi edukasi dan penyadaran kepada umat bahwa mitos Kecantikan itu hanya menjadi bahan bakar industri kapitalistik yang memuaskan nafsu kerakusan mereka untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya melalui program menghalalkan segala macam cara. Tanpa mempedulikan Apakah pihak lain dirugikan ataukah tidak, membahayakan pihak lain ataukah tidak.

Inilah kehidupan kapitalistik, karenanya kita membutuhkan kembali hadirnya kehidupan Islam bukan hanya untuk mengatur diri kita secara pribadi tetapi agar kita bisa berpenampilan sesuai koridor yang ditetapkan oleh Allah. Dan juga untuk mengatur masyarakat kita, mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Sehingga jargon dan kampanye-kampanye merusak semacam mitos kecantikan seperti ini tidak memiliki tempat, baik dalam pemikiran apalagi diberikan panggung melalui media.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar