Mewujudkan Takwa, Menghilangkan Wabah, Mendulang Berkah



Ramadhan telah usai dan Syawal datang menjelang. Seluruh umat Islam di penjuru dunia menyambut hari raya Idul Fitri dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana tidak. Pandemi covid-19 yang telah berbulan-bulan melanda hampir di seluruh negara di dunia, seakan enggan beranjak pergi. Di Indonesia sendiri jumlah orang yang terindikasi positif covid terus mengalami peningkatan yang signifikan. Lebih dari 20 ribu orang positif corona dilaporkan hingga saat ini. 


Di tengah pandemi yang melanda, sabtu, 23 Mei 2020 kemarin dalam acara Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idul Fitri, presiden Joko widodo menyampaikan pesan dalam bentuk video yang diambil dari kediaman presiden di Istana Bogor, Jawa Barat. dalam pesannya, presiden menyampaikan agar masyarakat tetap menerima kondisi saat ini, yang harus dilalui di tengah pandemi,  baik dalam keadaan senang maupun sedih, berlimpah atau kekurangan, sulit ataupun mudah, rumit atau sederhana. Lebih jauh presiden mengatakan bahwa jika Allah menghendaki dan kita ikhlas menerima kondisi ini dalam takwa dan tawakkal, maka Allah akan memberikan berkah, membuahkan hikmah, rezeki dan hidayah (nasional.tempo.co, 23 Mei 2020). 


Senada dengan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga menyampaikan dalam acara yang sama, agar umat Islam memperkuat kesabaran, keimanan dan ketakwaan supaya  Allah turunkan kesuburan, kemakmuran, keamanan, keselamatan dan dihilangkan berbagai kesulitan. (nasional.tempo.co, 23 Mei 2020)



Makna Takwa Yang Sesungguhnya


Apa yang diserukan oleh pemimpin negeri ini, sungguh patut disambut dengan serius. Namun tentu saja bukan sebatas ucapan penghibur dan menentramkan hati semata. Namun selayaknya seruan untuk meningkatkan ketakwaan ini diwujudkan dalam kehidupan nyata. Ketakwaan yang dimaksud adalah melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan seluruh laranganNya, sebagaimana syariat mendefinisikannya. 



“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan muslim.” (TQS. Ali Imron [3]: 102)


Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan makna takwa dijelaskan oleh Thaiq bin Habib yang merupakan murid dari Ibnu Abbas, yaitu mengerjakan ketaatan kepada Allah SWT berdasarkan cahayaNya dengan mengharapkan pahalaNya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahayaNya karena takut kepada AdzabNya. 


Maka menjadi sesuatu yang tidak sinkron ketika seruan takwa ini tidak diikuti dengan seruan untuk kembali berhukum pada syariatNya dan meninggalkan apa-apa yang tidak disukai Allah untuk dilakukan. Bagaimana mungkin ketakwaan ini akan terwujud ketika hukum Allah justru dicampakkan dan dimusuhi, pengembannya dikriminalisasi, diberikan label menakutkan agar umat menjauhinya, dan bahkan bersuka cita dalam kubangan kemaksiatan. Kebijakan-kebijkan yang dikeluarkan justru bertentangan dengan apa yang Allah kehendaki. 


Rakyat terus dipersulit dengan berbagai aturan dan undang-undang yang membuat kehidupannya semakin terhimpit. Sebut saja bagaimana pemerintah baru-baru ini mengeluarkan kebijakan kenaikan tarif BPJS. Padahal di tengah pandemi ini, sektor kesehatan menjadi barang yang sangat dibutuhkan masyarakat. Namun sudahlah seperti jatuh tertimpa tangga. Pemerintah yang di tengah wabah saat ini diharapkan akan meringankan beban hidup rakyat justru semakin mempersulitnya dengan kebijkan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Harga kebutuhan pokok melambung, harga BBMpun tak kunjung turun, gelombang PHK sebagai dampak pandemi menggulung sumber pendapatan, dan berbagai persoalan yang seakan tak ada habisnya.  Padahal dalam hadits nabi disebutkan, bahwa pemimpin adalah yang mengurus urusan rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. 


Rasulullah saw. bersabda:
…الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus (HR al-Bukhari dan Ahmad).


Saatnya Kembali Pada Syariat Allah


Semua kesulitan hidup yang muncul bermuara pada ditinggalkannya aturan-aturan Allah SWT dan malah berasyik masyhuk dengan kemaksiatan. Bila seruan agar bertakwa ini tidak disertai dengan bersegera menjalankan syariatNya, maka mustahil keberkahan, rezeki berlimpah, keselamatan, keamanan dan hilangnya segala macam kesulitan akan bisa diraih. Seruan itu hanya menjadi pemanis bibir untuk meredam luka lara yang dirasakan umat saat ini menghadapi pandemi. Karenanya tak ada jalan lain untuk keluar dari berbagai persoalan yang mendera saat ini kecuali dengan kembali pada syariat Islam.


Solusi Islam Menghadapi Wabah


Islam memiliki solusi dalam mengatasi berbagai persoalan yang terjadi sebagai dampak dari wabah saat ini. Negara Islam dalam hal ini sebagai institusi yang menerapkan syariat Islam, akan menerapkan karantina wilayah pada wilayah terdampak dan melakukan upaya untuk menyembuhkan warga yang terkena wabah dengan pelayanan terbaik. Tak lupa, khalifah sebagai kepala negara akan memenuhi kebutuhan pangan, sandang dan papan dari rakyat yang terkena dampak wabah selama masa karantina. Dan itu dibiayai dengan dana yang diambil dari baitul maal. Selain itu, negara akan menjadikan momen ini untuk mengajak rakyatnya melakukan taubatan nasuha. Bersungguh-sungguh memohon ampunan Allah SWT agar wabah segera diangkat dari negeri ini dan terus berusaha meninggalkan segala bentuk kemaksiatan.


Bila umat Islam betul-betul mengerahkan usaha dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah SWT, niscaya keberkahan yang diidam-idamkan akan hadir di tengah-tengah umat. Dan pandemi ini akan segera berakhir di seluruh negeri. Wallahu’alam bisshowab.[]

Oleh : Dwi Indah Lestari, S.TP

Posting Komentar

0 Komentar