TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menyoal Pernyataan 'Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah'

sumber foto: historia

"Kitab-kitab itu buatan manusia yang pasti punya kesalahan, ngapain kita belajar yang pasti ada salahnya. Langsung aja belajar Al-Qur'an dan Sunnah aja yang udah jelas otentik". Benarkah pernyataan tersebut?

Dalam beribadah kita memang harus mengacu kepada apa yang diturunkan oleh Allah subhanahu wata'ala dan juga dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa salam. Akan terjadi kebingungan dan bahkan kesalahpahaman jika langsung mengacu kepada kedua sumber tersebut. Kapasitas setiap orang itu berbeda-beda, jika dipaksakan dengan pemahaman yang terbatas bisa-bisa seseorang beribadah sesuai Al Qur'an dan Sunnah versi pemahamannya, tentu akan terjadi kekacauan syari'ah [1].

Jika dikatakan bahwa Ulama saja bisa salah, lantas dengan sombong mengaku pemahaman kita lebih benar? Justru kemungkinan untuk salah itu lebih besar jika kita yang melakukannya. Ulama memiliki kapasitas untuk memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah, sedangkan kita? Bahasa Arab pun masih terbata-bata.

Ustadz Yuana Ryan Tresna, mudir Ma'had Khadimussunnah pernah menjelaskan dalam ceramahnya bahwa mereka yang boleh langsung mengacu pada Al Qur'an dan Sunnah hanyalah mujtahid, karena mereka memiliki kapasitas untuk memahaminya hingga mengambil kesimpulan hukum darinya.

Kita sebagai muslim biasa perlu memahami syarah atau penjelasan dari ayat-ayat dan hadits-hadits, penjelasan tersebut pun harus sesuai dengan pemahamannya para sahabat. 

Jika kita membuka kitab Shufahat min Shabril 'Ulama (Lembaran Kesabaran para 'Ulama) karya Syaikh Abdul Fatah maka akan ditemukan di dalamnya kisah-kisah pahit getirnya para ulama dalam menuntut ilmu, mengumpulkan periwayatan, dan mengajarkan ayat-ayat Allah serta hadits. Diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hambal, beliau rahimahullah berjalan keliling dunia dua kali hingga akhirnya bisa mengumpulkan seluruh Musnad [2]. Cobalah berjalan-jalan ke perpustakaan buku-buku Islam, lihatlah berapa banyak kitab syarah yang menjelaskan satu kitab hadits Shahih Bukhari, tentunya banyak sekali. Untuk apakah para ulama menulis semua kitab syarah tersebut? Diantaranya agar apa yang Rasulullah shalallahu'alaihi wa salam ajarkan sampai kepada kita sama persis, sehingga kita bisa beribadah dan memahami Islam dengan benar.

Rasulullah shalallahu'alaihi wa salam bersabda,
"Barangsiapa menguraikan Al-Qur'an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya ia telah berbuat kesalahan." (HR. Ahmad)

Rasulullah shalallahu'alaihi wa salam pun pernah bersabda,
"Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari kiamat ada tiga macam dan salah satunya adalah diambilnya ilmu dari Al-Ashaghir." Nu'aim berkata, dikatakan kepada Ibnul Mubarak: "Siapakah itu Al-Ashaghir?." Ia menjawab : "Orang yang berkata-kata menurut akal pikiran mereka semata. Adapun orang muda yang meriwayatkan perkataan dari al-Akabir (ulama senior, ulama tua, atau ulama-ulama sebelum) maka dia bukan termasuk al-Ashagir tersebut."

Ilmu agama adalah ilmu yang diwariskan turun temurun dan lisannya tersambung kepada Rasulullah shalallahu'alaihi wa salam. Berdusta atas nama Nabi adalah dosa besar yang mengakibatkan seorang dapat terjerumus ke dalam neraka.

Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam bersabda yang artinya, "Sampaikanlah dariku walau satu ayat dan ceritakan (apa yang kalian dengar) dari Bani Israil dan itu tidak apa. Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka. " (HR Bukhari)

Jadi dapat kita simpulkan bahwa dalam ilmu agama, "Jika ada ulama Khalaf (ulama zaman kemudian) menyampaikan sesuatu perkataan atau pendapat atau pemahaman yang tidak dapat disandarkan kepada ulama sebelumnya secara turun-temurun tersambung kepada lisannya Rasulullah shalallahu'alaihi wa salam, maka perkataan atau pendapatnya atau pemahamannya tersebut semata-mata menurut akal pikirannya sendiri. "

Jadi bagaimana sudah bisa dipahami bahwa slogan "Kembali (langsung) kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah" adalah kurang tepat. Kita ubah menjadi "Kembali kepada Ulama", karena sejatinya kembali kepada ulama itu juga kembali kepada Al-Quran dan sunnah yang sesungguhnya. Kita tidak bisa dengan gampang memahami teks ayat dan hadits tanpa bimbingan dan tuntunan mereka yang memang mengerti [1].

Allahu a'lam bish shawwab.[]

Oleh : Fathimah Nurul Afifah (Santri Ma'had Khadimussunnah)

Referensi
[1] Zarkasih, Ahmad. (2013). Mengkritisi Slogan Kembali ke Al-Quran dan Sunnah. [Online]. Diakses dari : https://www.rumahfiqih.com/fikrah-123-mengkritisi-slogan-kembali-ke-al-quran-dan-sunnah.html
[2] Shaidul Khatir hal.246, dikutip dari www.alhanabila.com

Posting Komentar

0 Komentar