Meningkatnya Kasus Covid-19, Bukti Gagalnya Rezim?


Wabah Covid-19 di Indonesia hingga kini masih belum mereda. Seperti yang terjadi di Bandara Soekarno Hatta, penumpang pesawat tiba-tiba membludak di bandara, kok bisa? Ratusan calon penumpang berdesakan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang pada Kamis pagi 14 Mei 2020. Bahkan diberitakan, mereka bertumpuk tanpa memperhatikan jarak aman di posko pemeriksaan dokumen perjalanan. Antrean tersebut dikabarkan oleh PT Angkasa Pura II membludak sekitar pukul 04.00 WIB. Bandara Soetta sendiri mulai dipadati warga setelah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi merestui kembali beroperasinya seluruh moda transportasi sejak 7 Mei 2020 melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idulfitri 1441 Hijriah dan berlakunya Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. (liputan6.com, 16 Mei 2020)


Namun ternyata bukan hanya masyarakat biasa yang akhirnya memaksakan diri untuk mudik. Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Disnakertrans-E) DKI Jakarta mencatat ada 1.213 perusahaan melanggar PSBB di Ibu Kota Jakarta, dari jumlah tersebut ada 202 perusahaan atau tempat kerja yang ditutup sementara karena tidak termasuk ke dalam kategori 11 jenis usaha yang dikecualikan berdasarkan Pergub Nomor 33 Tahun 2020 dan tetap melakukan kegiatan usahanya di tengah PSBB yang saat ini masuk hari ke-36 pemberlakuannya. (liputan6.com, 15 Mei 2020)


Tak cukup sampai disitu, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta Ellen Hidayat membeberkan ada 60 mal atau pusat perbelanjaan yang akan kembali beroperasi pada Jumat (5/6/2020), sementara mal yang buka pada Senin (8/6/2020) ada empat yaitu Grand Indonesia, Teras Benhil, Summarecon Mal Kelapa Gading, dan Suntel Mall. Kembali beroperasinya mal ini mengacu pada Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 489 Tahun 2020 tentang Perpanjangan PSBB di Jakarta. Dalam aturan itu, Gubernur DKI Jakarta menyatakan, PSBB hanya diperpanjang 14 hari sejak 22 Mei 2020 hingga 4 Juni 2020. Ini adalah perpanjangan PSBB yang ketiga kalinya sejak PSBB pertama kali diberlakukan di Jakarta. Bahkan terlihat di media sosial Instagram banyak video viral warga ramai-ramai menyerbu mal yang baru di buka untuk berbelanja baju baru lebaran. (kompas.com, 26 Mei 2020)


Jika kita amati dari fakta ini, solusi-solusi yang diberikan oleh pemerintah dalam menangani wabah Covid-19 ini sungguh sangat inkosisten dan tak konsekuen. Terbukti, dengan diberlakukannya PSBB yang mana PSBB ini sebenarnya bertujuan untuk mengurangi penyebaran Covid-19 justru tidak ada efeknya sama sekali. Pasien positif, ODP dan PDP terus meningkat setiap hari. Dan PSBB terus-terusan diperpanjang masa waktunya, jika PSBB berakhir, maka akan diperpanjang lagi, setelah berakhir lagi, akan diperpanjang lagi, begitu seterusnya. 

Sedangkan kasus Covid-19 terus meningkat. Bahkan lebih mirisnya lagi, BPJS baru saja dinaikkan oleh pemerintah. Disaat keadaan masyarakat sedang susah begini, ternyata pemerintah masih ingin mengambil untung dari sisi yang lain.


Masyarakat yang banyak melanggar peraturan PSBB pun sebenarnya punya alas an tersendiri, misalnya orang-orang yang masih berjualan alias nggak #dirumahaja, mereka bingung kalau disuruh tetap di rumah mereka mau makan apa, jika tidak bekerja bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga. Sedangkan pemerintah Cuma tau suruh tetap di rumah, tapi bantuan tidak rutin diberikan, BPJS dinaikkan. Sungguh mengerikan! Tak sedikit juga perusahaan yang akhirnya harus mem-PHK para karyawan mereka akibat dampak wabah Covid-19 ini. 


Ada juga warga yang tidak bisa membayar listrik karena perekonomian mereka yang memburuk karena dampak Covid-19 ini juga. Walau listrik digratiskan bagi yang menggunakan 450VA dengan menganggap bahwa yang menggunakan listrik di atas 450VA adalah keluarga yang berkemampuan semuanya ternyata itu salah besar, karena ternyata ada juga yang menggunakan listrik 900VA namun kehidupan keluarga mereka ternyata juga kurang mampu dikarenakan permasalahan perekonomiannya.


Seharusnya, saat sedang menghadapi kondisi menyulitkan seperti ini, pemerintah haruslah mengambil solusi yang tepat dan efektif. Tak usah lagi memikirkan keuntungan sana-sini. Misalnya, dalam permasalahan listrik, harusnya semuanya bisa gratis, begitu pula dengan air minum PDAM. Dan juga bantuan berupa uang dan sembako kepada masyarakat, harusnya ini semua sudah didistribusikan secara merata. Kembali lagi kita bertanya, bukankan Indonesia ini adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa? Tapi kenapa masyarakatnya masih banyak yang menderita? Apakah ini sudah takdir dan lalu kemudian kita harus bersabar dan pasrah saja? 

Ya, dalam Islam kita memang harus meyakini bahwa baik buruk dalam kehidupan kita ini semuanya sudah menjadi ketentuan yang terbaik dari Allah Subahanahu wa Ta’ala. Namun dalam Islam pun ada yang namanya ikhtiar. Sama dengan seperti menghadapi wabah ini, kita diberi kesempatan oleh Allah untuk berusaha mencari solusi atas wabah ini, bukan hanya pasrah saja.


Memang benar, pemeritah sudah mengambil solusi berupa PSBB. Tapi coba kita perhatikan, apakah ada perubahan dengan PSBB ini? Tentu jawabannya tidak ada. Apakah ada pengurangan kasus Covid-19 dengan PSBB? Jawabannya juga tidak ada. Jadi, untuk apa mengambil langkah PSBB yang terus diperpanjang dan diperpanjang lagi sedangkan hasilnya pun nol besar? Bukankah seharusnya pemerintah mengambil langkah dan solusi yang tepat dan efektif untuk memutus mata rantai penyebaran wabah ini? 

Namun jelas saja, inilah bentuk nyata dari rezim kapitalis neo liberal. Mereka tidak akan sepenuhnya peduli terhadap kepentingan rakyat. Tetapi mereka akan mementingkan hal-hal yang lain yang menurut mereka lebih bermanfaat karena sampai kapanpun rezim dengan ideologi kapitalisme tak akan pernah melandaskan keputusannya berdasarkan halal haram atau minimal 100% berpihak kepada rakyat melainkan mereka akan mengambil keputusan berdasarkan asas manfaat.


Tak perlu jauh-jauh untuk mencari solusi terbaik. Islam sebenarnya sejak dulu sudah punya solusi untuk mengatasi berbagai problematika kehidupan manusia, termasuk dalam mengatasi wabah virus. Dulu, pada masa khalifah Umar bin Khattab pernah terjadi wabah Tha’un di wilayah Syam. Awalnya khalifah Umar bin Khattab berencana untuk melakukan kunjukan ke Syam yang saat itu sudah bergabung dengan kekuasaan Islam. 

Sampai di Saragh, dia bertemu dengan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang Ketika itu menjabat sebagai Gubernur Syam. Abu Ubaidah memberitahu khalifah Umar bahwa di wilayah Syam sedang terjadi sebuah wabah penyakit. Setelah mendengar kabar tersebut akhirnya khalifah Umar memutuskan untuk berhenti di Saragh. Abdullah Ibnu Abbas seperti diriwayatkan di dalam hadits Abdurrahman bin Auf menceritakan bahwa saat itu khalifah Umar meminta untuk dipanggilkan beberapa Muhajirin. 


Dikutip dari Kitab Al Lu’lu wal Marjan karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, khalifah Umar kemudian berdiskusi dengan tokoh senior Muhajirin tersebut. Setelah berdiskusi, ternyata tak menemukan titik temu, pertemuan itu pun dibubarkan. Kemudian khalifah Umar meminta Ibnu Abbas untuk memanggil orang-orang Anshar. Dan masih tak mendapatkan titik temu soal perlu atau tidaknya khalifah Umar untuk pergi ke Syam. 

Lalu kemudian khalifah Umar meminta Ibnu Abbas untuk memanggil tokoh Quraiys yang ternyata saat itu tinggal dua orang saja. Kepada khalifah Umar mereka memberi saran agar khalifah Umar mengurungkan niatnya untuk mendatangi Syam karena disana sedang ada wabah penyakit. Khalifah Umar pun menyetujuinya dan dia pun kembali ke Madinah. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak sepakat dengan keputusan khalifah Umar tersebut. “Apakah engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?” kata Abu Ubaidah. “Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya.” Jawab khalifah Umar bin Khattab. Khalifah Umar masih berusaha meyakinkan pilihannya kepada Abu Ubaidah. 


Sampai kemudian dating Abdurrahman bin Auf yang menjelaskan bahwa apa yang dilakukan khalifah Umar, persis seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam: “Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.” Begitu sabda Nabi. 

Khalifah Umar kemudian meminta agar Abu Ubaidah untuk meninggalkan Syam. Namun Abu Ubaidah menolak dan tetap tinggal di Syam. Dia kemudian terkena wabah tersebut dan meninggal dunia. Muaz bin Jabal kemudian menggantikan Abu Ubaidah sebagai Gubernur Syam namun ia juga meninggal terkena wabah. 


Wabah penyakit di Syam ini baru mereda setelah Amr bin Ash menjabat sebagai Gubernur Syam. Dia mencoba menganalisa penyebab muculnya wabah dan kemudian melakukan isolasi, orang yang sakit dan sehat akan dipisahkan. Wabah penyakit di Syam pun perlahan-lahan mulai menghilang. Metode isolasi atau karantina atau Bahasa keren sekarag adalah lockdown seperti inilah yang diterapkan saat masa sahabat Nabi. Dan metode lockdown ini sudah terbukti mampu memutus mata rantai penyebaran wabah virus.


Islam yang telah lama hadir dalam hidup kita jauh sebelum kita hadir ke dunia ini ternyata bukan hanya menjadi sebuah agama biasa, melainkan Islam hadir menjadi sebuah ideologi, menjadi sebuat sistem, menjadi sebuah aturan bagi kehidupan manusia. Bukan hanya untuk kaum Muslim saja, tetapi untuk seluruh makhluk di muka bumi ini. Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Islam adalah rahmat bagi semesta alam. 

Jika kita ingin hidup sejahtera dan bahagia, sangat mudah caranya. Yaitu tirulah Nabi dalam berkehidupan. Tirulah sahabat-sahabat Nabi dalam mengatur negara. Jalankanlah aturan-aturan Allah yaitu Islam yang sudah sangat perfect dan aplikatif. Sudah saatnya kita kembali pada sistem yang benar, yaitu sistem Islam di bawah naungan Khilafah. Allahu’alam.

Oleh: Widya Paramita (Komunitas Pena Banua)

Posting Komentar

0 Komentar