TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Menggugat Doa Pemuda Hijrah Sepertiga Malam


Sebenarnya, saya enggan sekali membahas soal doa. Pertama, karena sebagian pemuda kita menganggap doa sebagai ‘’Opium’’. Doa bagi mereka adalah kelemahan yang berkedok kekuatan, eskapisme, sebuah sikap yang menghindar dari kenyataan, dan bentuk-bentuk lain dari kekerdilan. Tentu  kemerosotan doa ini disebabkan latar belakang sejarah panjang periode-periode pra-Islam yang pada akhirnya menyusup ke mental kaum muslimin. Mentalisme yang loyo, sebuah bentuk kompensasi bagi kegagalan hidup, kemalasan mengemban tugas dan kekalahan.

Cobalah amati kumpulan doa yang menjadi warisan kita dalam sejarah Islam. Tak jarang kita temui doa-doa yang begitu menggelora. Doa-doa yang menguatkan perjuangan demi misi kebahagiaan, kekuatan, kemerdekaan, dan kebebasan. Ada banyak doa yang menunjukan kita kepada jalan juang, sayangnya pemuda kita terhenti oleh kisah cinta yang menjalar ke sektor kehidupan. 

Kisah Ali ra hanya di ingat sebagai pemendam rasa kepada fatimah, padahal Ali ra adalah sosok sahabat yang sering berdo’a. Apa kandungan do’a yang sering disenandungkan Ali? Do’a-do’a perlawanan, do’a-do’a yang menuntun ke medan perang.

Suatu kali Ali ra berkata, “jangan pedulikan gunung-gunung berguncang atau tidak. Ketatkan ikat tali pinggangmu , semoga allah melindungi ubun-ubunmu. Kukuhkan kuda-kudamu, edarkan pandangmu, sejauh musuh berada, kemudian pejamkan kedua matamu, dan ketahuilah bahwa kemenangan hanya di sisi Allah.” Lalu Imam Ali berdoa, “Ya Allah ! jika kami menang, selamatkan kami dari tertipu oleh diri sendiri, kesemena-menangan, dan kezaliman. Ya allah ! jika kami kalah, hindarkan kehinaan dan perbudakan bagi kami semua”.

Mendengar do’a Ali ra yang heroik, Sungguh naas mereka yang berdoa disepertiga  malam hanya menyebut nama wanita pujaan hatinya, mengingat gelak tawanya, bertasbih memuji depan Rabb hanya berharap supaya segera menikah. Demikian itu pemuda yang tidak sama sekali progresif, sekalipun seorang mujahid. Yakinlah mereka adalah mujahid melankolis.

Dalam ajaran Islam, do’a merupakan hal yang vital, tidak bisa dilepaskan di kehidupan sehari-hari. Allah SWT Berfirman : “Dan tuhanmu berfirman  berdoalah kepadaku, niscaya akan keperkenankan bagimu” ( Ghafir : 60). Nabi bersabda “Doa adalah ibadah” (HR. Imam Tirmidzi ). Maka sejatinya doaa adalah untaian ibadah yang syahdu, untaian-untaian perlawanan terhadap segala kezaliman, kidung puisi yang dipersembahkan kepada Rabb demi tegaknya keadilan.
 
Menurut Alex Carrel, pengabaian do’a dan tata caranya adalah pertanda kehancuran suatu bangsa. Masyarakat yang mengabaikan do’a dan ibadah adalah masyarakat yang berada di ambang kemunduran dan kehancuran. Roma adalah bangsa yang agung. Namun secepat itu pula kehinaan dan kelemahan menimpa mereka. Dahulu Umar Bin Khattab ra memohon pertolongan atas musuhnya dengan do’a, bahkan ia menganggap do’a sebagai tentaranya yang hebat. Beliau berkata kepada para sahabatnya “Kalian tidak mendapat pertolongan dengan jumlah kalian yang banyak, tetapi kalian mendapatkan pertolongan dari langit” Syahdan!

Tak heran jika Allah berfirman, “Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Al-Anfal : 9)

Doa memiliki kedudukan sebagaimana layaknya senjata. Kehebatan sebuah senjata sangat bergantung pada pemakainya. Bukan hanya ketajamanya. Jika senjata tersebut adalah senjata yang sempurna, artinya tidak memiliki cacat, lengan penggunanya adalah lengan yang kuat, serta tidak ada satu penghalang, maka tentulah ia mampu di pakai untuk menghantam dan menghajar musuh. 

Maka ini merupakan bahan refleksi dikalangan pemuda hijrah, ditengah keterpurukan umat Islam dewasa ini, ada beberapa pertanyaan yang bisa kita ajukan kepada diri kita pribadi. Sejauh mana kita sering berdo’a agar Islam bisa tegak di muka bumi? Untaian apa yang sering dilantukan ketika sholat di sepertiga malam? Apakah kita berdo’a hanya berhenti pada permohonan-permohonan pemenuhan hidup semata mengenai jodoh, makan, minum dan pakaian ? tentu jika demikian, salah satu faktor kemunduran Islam ialah hilangnya semangat do’a perlawanan.

Sudah saatnya pemuda Islam kembali berpikir progresif, berdo’a semoga menjadi para syuhada. Syuhada artiya mereka orang-orang yang bersaksi. Para pemilih mati merah guna menujukan cintanya kepada kebenaran yang sedang dihancurkan. Mereka yang berani berdiri mengambil langkah revolusi, sebab setiap syahid hanya bisa di jemput oleh revolusi. Revolusi memiliki dua wajah, darah dan pesan. Sedang syahid adalah jantung peradaban. Oleh karena itu Seruan jihad harus terus di ulang-ulang, dikala pemuda kita hanyut oleh gemerlap dunia.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang yang gugur di jalan allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi tuhanya dengan mendapat rezeki.” (Al Imran : 169)

Semoga untaian-untaian perlawanan ini selalu menggema di langit, sorak-sorai suaranya senantiasa dilontarkan oleh mereka pemuda hijrah disepertiga malam.

Cita-citanya bukan lagi mempersunting wanita idaman, melainkan gugur sebagai syahid di arak oleh 73 bidadari surga. 
Aamiin.[]

Oleh Anja Hawari Fasya
Pengelola Tombo Pustaka
(Ketua Umum PII Jakarta)

Posting Komentar

2 Komentar