TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Mendefinisikan Kemajuan Hakiki

sumber foto: saintif.com

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an surah Ali Imron ayat 110 yang artinya: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah."

Ketika Wakil Presiden, Ma'ruf Amin membuat pernyataan bahwa negara berpenduduk mayoritas muslim sulit maju, seakan berbanding terbalik dengan firman Allah di atas. Berharap sang Wapres yang notabene mantan ketua MUI dan bergelar Kyai, mampu membutiri masalah ketidaksinkronan antara realitas dan janji Allah.

Dilansir oleh suara.com (12/05/2020), penyebab bahwa negara mayoritas muslim sulit maju adalah karena adanya pemikiran konservatif. Ma'ruf mendefinisikan tentang konservatif, yaitu suatu pemikiran yang menganggap bahwa kemurnian Islam harus dibangun dengan cara tekstualis.

Lebih lanjut Amin menjelaskan bahwa akhir-akhir ini sudah banyak kelompok konservatif di tengah masyarakat. Mereka sulit menerima kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dan menyebabkan peradaban Islam jauh tertinggal gara-gara pemahaman Islam yang tekstual. 
Solusi yang ditawarkan oleh Amin adalah menjadi umat Islam yang wasathiyah. Umat muslim harus memiliki pemikiran wasathi agar kembali memiliki peradaban yang maju. 

Ada dua kata kunci dari pernyataan Amin. Kata kunci yang menjadi pijakan kita untuk bisa menerima solusi yang ditawarkan atau tidak. Dua kata kunci itu adalah kelompok konservatif dan wasathi.
Pertama, kelompok konservatif. Istilah tersebut santer terdengar saat dukung mendukung paslon capres cawapres di 2019 lalu. Survei LSI yang digawangi Denny JA menyebutkan bahwa paslon 01 (Jokowi-Ma'ruf) didukung oleh sebagian besar kelompok Islam moderat. Sedangkan paslon 02 (Prabowo-Sandi) didukung oleh kelompok konservatif. 

LSI menyebutkan NU sebagai representatif kelompok moderat dan GNPF PA 212 serta FPI sebagai kelompok konservatif. Melihat timeline google search jika mengetik kata kelompok konservatif, maka result yang keluar adalah sebelas dua belas yang didefinisikan oleh Denny JA. 

Melihat track record NU lewat Bansernya, kita sama-sama menyaksikan pembakaran bendera tauhid dengan alasan bendera teroris. Pembubaran pengajian dengan alasan ustadz radikal. Ceramah dan Sholawat di gereja dengan alasan toleransi. Itulah yang didefinisikan dengan moderat. 

Di sisi lain, ada GNPF dengan Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) dan FPI yang digambarkan sebagai kelompok konservatif. Kita ketahui bersama bahwa inisiasi Aksi Damai 212 yang sangat fenomenal adalah dari GNPF. Kelompok ini mengawal kasus-kasus penistaan agama seperti yang dilakukan oleh Ahok juga Sukmawati. Kelompok ini juga rajin mengoreksi kebijakan pemerintah yang menzalimi rakyat. Ijtima' ulama yang digelar menghasilkan salah satu komitmen untuk menerapkan syariat Islam kaffah di Indonesia. 

Bagaimana dengan FPI? Kelompok ini terdepan dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Jika ada perjudian dan perzinahan, FPI akan melaporkan kepada polisi agar bisa dibubarkan oleh aparat yang berwenang. Jika belum ada tindakan, baru FPI turun tangan. Bukankah perjudian dan perzinahan itu meresahlan masyarakat? 

Kedua, wasathiyah. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, wastahiyah artinya pertengahan. Didefinisikan ulang dengan kata moderat. Lagi-lagi kita bertemu dengan kata moderat. Sesungguhnya Barat telah memberikan stereotip bagi Islam moderat, yaitu Islam yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi, pluralisme, sekularisme, dan liberalisme. 

Dalam dokumen Rand Corporation, lembaga think tank Amerika telah disebutkan dengan terang benderang tentang kelompok konservatif dan moderat beserta cara penanganannya. Maka menjadi pahamlah kita tentang siapa yang berkepentingan agar umat muslim terus berada pada kondisi terpuruk. 

Jika demikian, kemajuan seperti apa yang kita harapkan dari kemoderatan atau kewasathiyahan? Apakah seperti Jepang yang teknologinya maju namun rapuh mentalnya hingga mudah bunuh diri? Ataukah seperti Amerika yang maju sainteknya namun maju juga tingkat kriminalitasnya. Mulai dari seks bebas, eljibiti, penembakan hingga rasisme. Sungguh, kemajuan yang mereka tampakkan hanyalah kemajuan yang semu. 

Tak inginkah kita memiliki peradaban yang maju tanpa kata "namun". Peradaban itu telah pernah ada sejak Rasulullah hijrah ke Madinah hingga tahun 1924 masehi. Dan menjadi mercu suar dunia hingga berabad-abad lamanya, saat kekhilafan Abbasiyah. Bahkan Barat sendiri berhutang pondasi saintek kepada dunia Islam. 

Para ilmuwan Islam, bukan hanya mumpuni di bidang sains, namun juga ahli di bidang agama. Tak ada dikotomi antara agama dan kehidupan. Islam justru dijadikan pondasi dalam membangun masyarakat dan negara. Inilah yang menjadikan kemajuan peradaban Islam menjadi hakiki. 

Untuk meraih kemajuan yang hakiki, baiknya kita merujuk kembali pada firman Allah di atas. Cukup tiga syarat untuk kita bisa kembali pada peradaban Islam yang maju dan mulia. Yaitu: beriman kepada Allah, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Konsekuensi beriman kepada Allah adalah menerima dan menerapkan syariat Allah secara kaffah, dalam segala aspek kehidupan, baik pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara. Apabila ketiga hal ini sudah kita lakukan, maka gelar Khoiru ummah dan kemajuan peradaban Islam akan kembali lagi. Bukankah hanya Allah yang tak pernah ingkar janji? Wallaahu a'lam. []

Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M. Pd*
*)Praktisi Pendidikan

Posting Komentar

0 Komentar