TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Malang Nian Nasib Rakyat Korban PHK Massal



Sejak penerbitan Surat Edaran (SE) Menaker, Nomor M/3/HK.04/III/2020 tentang Pelindungan Pekerja/Buruh dan Kelangsungan Usaha Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan covid-19. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dirumahkan meningkat drastis. Sebelum adanya wabah saja, PHK secara sepihak sudah sering diterapkan. Kebanyakan buruh, direbut haknya tanpa ada bantuan yang maksimal dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Saat pandemi Corona, nasib buruh semakin buruk.

Nasib buruh yang berada di perantauan tak kalah memprihatinkan. Sudahlah tak ada pemasukan akibat PHK, juga adanya larangan mudik, membuat para buruh ini dilema. Tetap tinggal tetapi tak ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ingin pulang melepas rindu dengan keluarga tetapi dilarang. Ironis!

Sebagaimana yang dialami oleh Maulana Arif Budi Satrio (38) seorang sopir bus travel yang terkena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja di Jakarta Timur akibat pandemi Corona. (Kompas, 19/5/2020)
Lantaran tak ada lagi uang untuk biaya hidup di Jakarta dan kontrakan, Ia memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Solo dengan berjalan kaki sejauh 440 KM. 

Sebelumnya sudah mencoba naik angkutan umum namun kendala biaya yang sangat mahal, begitu juga dengan kendaraan pribadi, ia harus ribut dengan petugas dan harus putar balik.
"Paginya saya berangkat lagi pinjam kendaraan pribadi. Sampai di Cikarang harus balik, harus ribut dulu sama petugas. Saya tetap mengotot untuk pulang karena di- PHK tidak ada pendapatan, terus mau ke mana?" Jawabnya. Karena tak ingin ribut terlalu lama, maka ia nekat pulang ke Solo dengan berjalan kaki. Miris!

Nasib yang sama juga dialami ribuan pekerja yang terkena PHK di Sumatera nekat pulang kampung. Seperti yang dilansir detikNews, ribuan pekerja dari pulau Sumatera harus diseberangkan dari Pelabuhan Bakauheni menuju Merak. 

Mereka kemudian dipulangkan ke daerah Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
"Sampai tadi malam sudah ada 1.063 orang yang sudah melakukan pejalanan dari wilayah Sumatera menggunakan Bakauheni ke kita melalui Merak," kata Dirlantas Polda Banten Kombes Wibowo dalam diskusi online tentang 'Percepatan Penanggulangan covid-19 di Banten' bersama Ombudsman dan Tim Gugus Tugas Provinsi di Serang, Selasa (19/5/2020).

Kebijakan yang mandul solusi selalu berulang dilakukan rezim ini. Ya, ideologi kapitalisme-liberalisme selalu menempatkan problem pandemi ini hanya bertumpu pada persoalan kesehatan, lalu mengabaikan perut warga. Itu tampak dari kebijakan yang membingungkan publik dalam penanganan pandemi dan persoalan ekonomi yang melumpuhkan masyarakat dan negara. Tarik ulur antara kepentingan ekonomi dan pencegahan meluasnya pandemi.

Solusi Islam

Sebagai agama sekaligus ideologi, Islam menempatkan negara sebagai pihak yang wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat.

"Seorang amir (pemimpin) masyarakat adalah penggembala dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya." (HR Muslim)

Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya bertahan hidup sendiri tanpa kehadiran negara. Terlebih di tengah wabah seperti saat ini. Negara harus hadir menjadi pelindung atas kebutuhan masyarakat. Sehingga warga tidak kelaparan akibat PHK.

Sepanjang sejarah peradaban Islam, gambaran penanganan wabah yang ideal tercermin pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Wabah Amwas yang terjadi pada tahun 17H langsung di respon dengan cepat oleh Khalifah Umar dengan melakukan lockdown di Kota Amwas yang menjadi bermulanya wabah.

Selain penanganan secara medis yang diberikan secara cuma-cuma oleh Daulah Khilafah, syariat Islam juga memperhatikan persoalan lainnya yang akan menjadi dampak dari adanya wabah, seperti kehilangan pekerjaan, kelaparan, dan lain-lain.

Sementara yang terjadi .pada rezim saat ini, sudahlah tidak memberikan insentif potongan pembayaran listrik secara menyeluruh, tidak menurunkan harga BBM padahal harga minyak dunia sedang jatuh, justru menaikkan tarif BPJS, buruh banyak di PHK, THR dicicil, juga minim memberikan bantuan pada masyarakat.


Malang betul nasib rakyat Indonesia, sudah kena wabah, masih pula dipersulit dengan persoalan yang lain.
Sudah saatnya mengambil Islam sebagai satu-satunya solusi atas segala problematika yang ada. Menerapkan syariat Islam secara sempurna dalam sebuah institusi negara akan memberikan keberkahan di semua aspek kehidupan. Wallahu a'lam. []

Oleh: Isti Shofiah

Posting Komentar

0 Komentar