TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kemenangan Hakiki

Ilustrasi Sholat Ied sebelum Corona. Sumber foto: republika.co.id

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Lailaha illalLahu Allahu Akbar
Allahu Akbar wa lilLahilhamdu

Gema takbir terdengar seantero bumi. Berkumandang menandakan bahwa satu syawal sudah tiba. Menggetarkan hati bagi setiap yang mendengar, lisan ikut melantunkan, perasaan dan pikiran pun berpadu atasnya. Kalimat indah nan mulia, mengandung makna yang begitu dahsyat, menjadikan kaum muslimin mampu bersatu dalam ikatan akidah walau berasal dari bangsa dan golongan manapun. 

Kalimat yang membuat hati orang orang beriman semakin bertambah keimanannya. Kalimat yang menunjukkan bahwa tiada tanding serta banding bagi Allah Ta'ala Sang Pemilik Segalanya. Menyambutnya dengan suka cita. Hari yang begitu dinanti, sambung silaturrahim, eratkan ukhuwah, saling bermaafan, berbagi dan berkasih sayang. MasyaAllah. Berhari raya, berharap dapatkan kemenangan setelah melalui ramadhan.

Tahun ini, Allah menguji kaum muslimin dengan sebuah pandemi. Lalui ramadhan dengan banyak perubahan. Tak sedikit yang tak bisa lakukan ibadah di mesjid, padahal begitu dirindukan. "Dirumahkan" oleh Allah Sang Zat yang Maha Perkasa. Was-was pun menyelimuti kaum muslimin Meskipun dalam penyelesaiannya penguasa membuat kebijakan yang terasa seperti diskriminatif atas kaum muslimin, sebab berbagai pusat perbelanjaan hingga konser oleh dihadiri dan diadakan, sedangkan beribadah ke mesjid terasa dipersulit.

Namun, ternyata kesulitan dan kesempitan itu sudah lebih dahulu dirasakan oleh muslim di belahan bumi lainnya. Hari raya mereka ternyata tak seindah hari raya kita, sebab mereka berhari raya dengan penuh ketakutan, khawatir musuh-musuh Allah melemparkan alat pemusnah massal ketika mereka sedang berhari raya. 

Ketika anak-anak di negeri ini mengenakan pakaian baru memuliakan 1 syawal, bisa jadi mereka disana pada malam 1 syawal tidur tak beralas dan berselimut apapun. Ketika kita disini bersantap sambil berkumpul dengan saudara di hari nan fitri, bisa jadi pada malam syawal mereka baru saja kehilangan anggota keluarganya yang diperlakukan bringas oleh kaum kuffar. Tak bisa keluar dari negerinya, namun bertahan didalam pun tak mendapat sesuatu untuk mengisi perut. 

Rasulullah saw. bersabda bahwa kaum musliminin itu bersaudara. Mereka bagaikan satu tubuh. Jika begitu keadaannya, lantas masih layakkah kita bergumam kita menang sedang bagian tubuh kita yang lain tengah meradang merasakan sakit? atau kita adalah bagian tubuh yang sudah teramputasi sehingga rasa itu tidak mengalir pada kita?

Setiap muslim hendak mendapati kemenangan hakiki dalam dirinya. Namun, sesungguhnya kemenangan hakiki itu hanya di peroleh jika kaum muslimin betul-betul bertaqwa pada Allah, melaksanakan semua perintahNya dan meninggalkan semua laranganNya. Ramadhan dan pandemi telah mengungkap tabir yang sebenarnya bahwa kita masih belum menjadikan Allah pengatur dalam hidup kita. 

Kesempitan hidup, kekhawatiran akan bahaya wabah yang belum bertepi serta kezaliman penguasa seolah Allah hendak tampakkan bahwa inilah yang juga dirasakan oleh saudara kita di Palestina, Suriah, Ughyur, Pattani, Myanmar, dan berbagai negri muslim lainnya. Kita yang masih pongah tak mau tunduk pada syariat Allah menyebabkan kita terpecah belah lalu dikuasi dengan mudah oleh para kafir penjajah, disekat dengan paham nasionalisme, menjadikan kita tak saling peduli satu sama lain. Padahal, persatuan kaum muslimin akan selesaikan segalanya, atas izin Allah.

Kini Allah tunjukkan bahwa tiada yang kuasa untuk hentikan wabah kecuali Dia. Masihkah kita bertanya kelayakan aturannya dalam mengatur hidup kita?

Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
"tidak akan masuk syurga orang yang dalam hatinya ada kesombongan." Sahabat bertanya: siapa yang sombong itu ya Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab: "orang yang suka merendahkan orang lain dan tidak tunduk pada kebenaran"

Allah turunkan syariat bukan untuk mempersulit, namun untuk memuliakan dan menyelamatkan. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi yang muslim. Islam membawa keselamatan dan keadilan, bukan kerusakan dan kezaliman seperti sistem yang sekarang ini menaungi.

Kemenangan hakiki bukan hanya karena telah mampu berpuasa sebulan penuh, menunaikan zakat fitrah, serta berhari raya bersama keluarga. Namun ketika diri dan masyarakat mampu taat pada Allah dengan ketaatan yang sesungguhnya, itulah kemenangan yang hakiki. Penerapan syariat Islam secara kaffah adalah konsekuensi keimanan, bukan sekedar seruan dari para pejuang khilafah. Allah memerintahkan syariat Nya diamalkan secara sempurna, bukan malah dipilah-pilah.

 "Maka demi Rabb-mu, sesungguhnya mereka belum beriman, sebelum menjadikan engkau Muhammad saw. sebagai hakim diantara perkara yang mereka perselisihkan. Mereka menerima sepenuhnya tanpa ada rasa keberatan sedikitpun dalam hatinya". Qs. an-nur: 65

Oleh Annida Karima Sovia

Posting Komentar

0 Komentar