TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kekuatan Iman

Ramadlan 1441 H. ini adalah bulan puasa yang istimewa. Walau sebenarnya setiap bulan dalam kalender hijriah memiliki keistimewaan dalam penamaanya. Dalam islam setiap bulan memeliki keistimewaan dan keutamaan. Dan bulan Ramadlan adalah bulan paling istimewa untuk menguji keimanan umat islam. Tapi bulan Ramadlan tahun ini lebih istimewa karena kita mennyambutnya ditengah kondisi wabah yang belum juga bisa di prediksi kapan berakhirnya. 

Ramadlan adalah bulan tarbiyah bulan pedidikan. Untuk mendidik keimanan kita terhadap Allah. Terutama saat ini di saat kita menyambut Ramadlan ditengah pandemi wabah Covid-19. Berat  memang berat bagi mereka yang lemah iman, dan juga semakin berat bagi yang tak mengenal iman. Tapi tidak bagi yang kuat dan yang mau untuk terud menguatkan iman. Di bulan Ramadlan setiap amalan dilipat gandakan pahalanya, baik amalan sunnah terlebih yang wajib selain puasa. Karena puasa Ramadlan untuk Allah, sedang amalan lain baik fardlu maupun sunnah selain puasa adalah untuk kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW 

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151)

Di bulan Ramadlan sebelum sebelumnya mereka yang tidak atau lemah iman merasa amat berat dengan puasa sehingga mudah bagi mereka untuk tidak berpuasa dengan alasan safar, bekerja dan beban fisik lainnya. Terbukti di bulan Ramadlan masih banyak Rumah makan yang tetap membuka warungnya di siang sampai larut malam. Dan masih terbuka seperti biasanya tempat tempat hiburan dan maksiat. 

Bagaimana dengan Ramadlan tahun ini 2020 M atau 1441 H?

Sungguh tidak mudah Ramadlan di masa pandemi ini. Bagaimana Sholat tarawih berjama'ah yang menjadi khas bulan ini ditiadakan. Buka bersama / iftor di berbagai tempat tidak lagi ada. Warung makan tutup bukan karena memang menghargai bulan Ramadlan tapi karena kondisi krisis dan kebijakan _sosial distanching_ ditengah wabah yang diberlakukan. Bisa jadi puasa karena terpaksa tidak mampu untuk sekedar makan. 

Disinilah keimanan semakin teruji terlilit. Kriminal pun terus terbayang. Terlebih semakin nampak kerusakan sistem negeri ini tidak mampu mengurusi urusan umat. Sistem pemerintahan yang lahir dari buah fikir manusia. Bukan sistem dari Rabb pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan. 

Bagi mukmin yang taat, bulan ini adalah kegembiraan. Karena dibalik semakin sulitnya ujian disana ada hamparan kebahagian dan kelapangan bagi yang melihat dengan kacamata iman. Inilah kabar gembira.  Sebagaiman firman Allah
 
أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا
 يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ

Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat. (Surat Al Baqarah: 214)

Bagi kita pertanyaan nya, percayakah kita? Yakin kah kita, sudah benarkah kita mengimani ayat ini? 

Maka jika masih ada yang ragu dan mengkhawatirkan kesehatannya jika dipaksakan untuk berpuasa, jika masih khawatir tidak bisa berbuka, jika khawatir lemah tak bisa bekerja, jika khawatir lemah beribadah atau menghabiskan waktu puasa hanya untuk merebah badan, mungkin memang belum kuat keimanan kita. Maka jangan bertanya kapan datang pertolongan, sehingga kita pun belum berupaya sekuat tenaga. 

Dijaminnya rizki burung bukan berarti burung tidak terbang, di jaminnya rizki cacing dan ulat tidak berati mereka tidak harus merayap. Semua butuh proses. Sungguh amat mudah bagi Allah menurunkan pertolonganNya, tapi sudah pantaskah kita untuk mendapatkannya? 

Allah berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Surat Al-Mujadilah, Ayat 11)

Iman memang sifatnya pasang surut. Pendapat Ulama Salaf Bahwa Iman Bisa Bertambah dan Berkurang

Sedangkan pendapat dan atsar as-Salaf ash-Shaalih sangat banyak sekali dalam menetapkan keyakinan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, diantaranya: 

Dari kalangan sahabat  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya :

Satu ketika Kholifah ar-Rsyid Umar bin al-Khathaab rahimahullah pernah berkata kepada para sahabatnya,

هَلُمُّوْا نَزْدَادُ إِيْمَانًا

“Marilah kita menambah iman kita.”[17]

Sahabat Abu ad-Darda` Uwaimir al-Anshaari rahimahullah berkata,

الإِيْمِانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

“Iman itu bertambah dan berkurang."[18]

Iman itu bertambah dan berkurang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. 

Maka jika kita merasa mulai ragu tingkatkan ketaatan kita untuk semakin menambah keimanan. Dan teruslah berkumpul dengan orang orang sholih. Saling bernasehat dalam kebenaran dan kesabaran. Maka akan subur keimanan ini. 

Karena kita tidak bisa menjaga nyala iman ini sendiri, itulah kita harus selalu berkelompok. Karena serigala menerkam domba yang sendirian, saat dirimu merasa lemah berkelompoklah dengan orang orang sholih. 

Karena iman tidak bisa dijaga oleh seorang diri maka iman harus di jaga berjama'ah. Karena mampu di genggam individu individu itulah iman butuh di genggam bersama. Dan iman butuh sebuah institusi negara untuk menjaganya. Karena negara yang kuasa menjaga sekaligus menjadi perisai iman mereka yang kelaparan, iman mereka yang kehilangan pekerjaan, iman mereka yang kesulitan dan kesakitan. Jama'ah ini akan kuat dengan kekuasaan dan kekuasaan akan terwujud melalui kita individu individu yang bertaqwa dan beriman karena itulah yang akan mendatangkan pertolongan Allah. 

Semoga Ramadlan ini adalah ramadlan terakhir berada di bawah pemimpin dzolim yang tidak mau menerapkan hukum alqur'an dan Assunnah. Percayalah.[]


Oleh Suratin Robiyatna, S.E.

Posting Komentar

0 Komentar