TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Kapitalisme Gagal Atasi Wabah, Saatnya Ganti Sistem!


Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sepertinya peribahasa ini pas untuk mewakili kondisi rakyat yang kembali dihadapkan pada peliknya hidup di sistem kapitalisme hari ini. Bagaimana tidak? Sudahlah rakyat harus menghadapi sulitnya memenuhi kebutuhan hidup pasca pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kini rakyat pun dihadapkan pada maraknya kerusakan sosial yang timbul sebagai dampak lain dari wabah Covid-19 ini.

Seperti diketahui bahwa PSBB ini telah menimbulkan beberapa dampak negatif, satu diantaranya diwartakan dalam laman detik.com (11/04/2020) yakni PSBB telah memicu gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Bak efek domino, ketika para pekerja banyak yang di-PHK maka masalah lain pun bermunculan. Seorang pria di Jakarta memilih bunuh diri setelah sebulan terkena PHK (www.cnnindonesia.com, 21/04/2020). 

Kesulitan ekonomi pun semakin membuat kriminalitas meningkat. Belum lagi dengan adanya program asimilasi narapidana (napi) yang dikeluarkan oleh Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly, yang diklaim sebagai upaya untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, justru membuat masyarakat was-was dengan keberadaan para napi di sekitar mereka. Keresahan masyarakat ini disebabkan banyaknya napi yang justru kembali berulah tak lama setelah bebas dari bui, seperti yang dialami napi asal Solo yang kepergok mencuri setelah dibebaskan (www.tribunnews.com, 20/04/2020).

Beragam kejadian tersebut semakin memperlihatkan bahwa solusi yang diambil dalam sistem kapitalisme adalah solusi tambal sulam. Bukan menyolusi masalah, tapi justru menambah masalah baru. 

Hal ini wajar terjadi dan mustahil tak dialami oleh sistem ini, sebab yang menjadi sandaran dalam mengambil setiap kebijakan adalah akal manusia yang lemah dan terbatas, serta menolak campur tangan syari’at sedikit pun. Hal ini tak lain adalah wujud dari asas kedaulatan berada di tangan rakyat (manusia). Ditambah lagi watak kapitalisme yang selalu mengedepankan keuntungan materialistik tentu tak akan pernah memihak pada kepentingan rakyat. 

Hal ini terlihat dari bagaimana egoisnya penguasa menolak pemberlakuan lockdown (karantina wilayah) untuk menanggulangi wabah. Boleh jadi pemerintah tak mau mengambil konsekuensi dari penerapan lockdown yakni menanggung seluruh kebutuhan dasar rakyat yang terdampak Covid-19.

Jika kebijakan lockdown diterapkan sejak pertama kali virus ini teridentifikasi, maka sebarannya boleh jadi tak seganas hari ini yang dari hari ke hari kian mengalami kenaikan. Hingga hari ini Indonesia bahkan telah mencapai lebih dari 11 ribu kasus dari total 3,5 juta lebih kasus di seluruh dunia. 

Ya, kapitalisme telah terbukti gagal mengatasi wabah ini. Bukan hanya di negara-negara pengikut kapitalisme seperti Indonesia, tetapi negara-negara pengembannya pun seperti Amerika dan Inggris kelimpungan menghadapi serangan virus ini.

Tentu sangat berbeda dengan Islam. Aturan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang diterapkan oleh negara akan mampu mengatasi segala problematika kehidupan, termasuk dalam hal mitigasi (tindakan mengurangi dampak bencana) wabah. 

Potret kesuksesan Islam dalam menangani wabah dapat kita jumpai pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Langkah-langkah cepat, tepat dan komprehensif yang diambil membuat wabah dapat segera teratasi. Berikut adalah mekanisme yang ditempuh Khalifah Umar dalam menghadapi wabah.

Pertama, tampil memberikan contoh terbaik dengan berhemat dan bergaya hidup sederhana, bahkan lebih kekurangan dibandingkan rakyatnya.

Kedua, memerintahkan untuk membuat posko-posko bantuan yang dimobilisasi oleh negara. Dalam hal ini Khalifah Umar mendirikan Dar Ad-Daqiq (sebuah lembaga perekonomian yang bertugas untuk membagi makanan pokok kepada masyarakat luas).

Ketiga, Khalifah semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Khalifah bahkan memimpin langsung taubatan nasuha sebab bisa jadi bencana atau musibah tersebut adalah akibat dari kesalahan atau dosa Khalifah dan/atau rakyatnya.

Keempat, mengantarkan bahan makanan ke rumah-rumah rakyatnya yang tak dapat mendatangi Khalifah secara langsung.

Kelima, apabila pemerintah pusat sudah tak lagi mampu, maka Khalifah akan meminta bantuan ke daerah-daerah bagian kekhilafahan yang memiliki logistik berlebih dan mampu untuk memberikan pasokan bantuan.

Keenam, menghentikan had (hukuman bagi pencuri) jika dilakukan hanya sekadar untuk bertahan hidup, bukan tersebab keserakahan atau ketamakan.
Ketujuh, menunda pemungutan zakat setelah krisis atau musibah berlalu, bukan malah mempercepatnya. Hal ini mengingat memungut zakat saat kondisi krisis tentu sangat memberatkan rakyat.

Terbukti dengan penerapan sistem Islam, Khalifah Umar berhasil melewati krisis yang diakibatkan wabah tersebut, bahkan mampu meminimalisir jatuhnya korban. Hal ini tak lain disebabkan sistem Islam yang ditopang oleh sistem politik dan ekonomi Islam, meniscayakan hadirnya negara baik dalam situasi normal maupun kala wabah melanda. Tak heran jika ketika wabah menjangkit sekalipun, kas negara (baitul maal) tak pernah mengalami kekosongan.

Pemimpin seperti Khalifah Umar pun hanya mampu dilahirkan oleh sistem Islam yang menempatkan kekuasaan sebagai sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di yaumil akhir. Oleh sebab itu, dalam diri seorang Khalifah tertanam rasa takut hanya kepada Allah SWT semata, sehingga dalam memimpin rakyatnya tak ada aturan yang diterapkan selain syari’at-Nya. 

Rakyat yang dipimpinnya pun memiliki akidah yang kuat sebab fungsi negara termasuk diantaranya adalah menjaga akidah, sehingga dalam kondisi wabah rakyat menerimanya dengan penuh keikhlasan sebagai sebuah qadha dari Allah SWT dan bersabar atasnya, serta tak berputus asa mengharap rahmat-Nya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.

“Siapa yang menghadapi wabah lalu dia bersabar dengan tinggal di dalam rumahnya seraya bersabar dan ikhlas sedangkan dia mengetahui tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mati syahid.”

Jika kebobrokan kapitalisme sudah semakin nyata, maka satu-satunya jalan keluar dari kesempitan hidup hari ini tak lain adalah dengan mengganti sistem bathil  lagi merusak ini dengan sistem yang berasal dari Sang Pencipta.

Mengapa? Sebab hanya dengan penerapan sistem Islam dalam naungan Khilafah-lah yang akan mampu mengeluarkan manusia dari gelapnya kehidupan di alam kapitalisme menuju kegemilangan kehidupan di alam Islam. Wallahua’lam bish-shawab.[]

Oleh : Dwi Miftakhul Hidayah, S.ST (Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar