TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Iuran BPJS Naik, Beban Hidup Makin Mencekik



Syarif Amin Muhammad menyesalkan tidak bijaknya pemerintah pusat memperhatikan nasib rakyatnya di tengah pandemi covid-19. Salah satunya yaitu menaikkan biaya BPJS kesehatan yang awalnya sudah dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA). 

“Jujur secara pribadi, saya tidak akan setuju iuran BPJS Kesehatan dinaikkan. Apalagi kalau melihat betapa fantastisnya gaji direksi yang mencapai ratusan juta per bulan” ungkapnya. (Metropolis,21/5/2020)

Kebijakan pemerintah menaikkan iuran BPJS ini mengundang kontroversi, baik dari kalangan politisi, intelektual maupun masyarakat. Bagaimana tidak, pandemi covid-19 sudah membuat rakyat pusing untuk memenuhi kebutuhan hidup ditambah lagi kenaikan iuran BPJS. 

Direktur BPJS, Fahmi Idris mengatakan “kenaikan iuran ini, untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan”(Suara.com, 15/5/2020). 

Bukankah negara hadir sebagai pelayan? Lantas mengapa kebijakan demi kebijakan kian mencekik rakyat. Seharusnya Negara lah yang  menjamin  hak kesehatan setiap individu. Namun faktanya, kesehatan rakyat diserahkan kepada BPJS yang sebenarnya menerapkan model jasa ekonomi (ekonomi service), artinya negara tidak memberikan layanan kesehatan secara cuma-cuma. Adanya komersialisasi sistem kesehatan. Ini bukti nyata bahwa negara abai terhadap hak-hak rakyatnya. 

Berbeda dengan Islam, bukan hanya sekedar agama namun sebagai mabda. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk kesehatan.  Di bidang kesehatan, sejarah telah mencatat kegemilangan dalam era khilafah. Kesehatan dipandang sebagai kebutuhan pokok publik. Negara akan menyediakan pelayanan kesehatan, sarana dan prasarana pendukung dengan visi melayani kebutuhan rakyat secara menyeluruh tanpa diskriminasi. 

Penguasa-rakyat, kaya-miskin, Laki-laki-perempuan, muslim-nonmuslim, semua mendapat pelayanan kesehatan yang sama. Negara tidak mengkomersilkan hak publik, termasuk pelayanan kesehatan.
Terbukti dari banyaknya institusi layanan kesehatan yang didirikan selama masa kekhilafahan.

Rumah Sakit An-Nuri, Rumah Sakit pertama yang dibangun umat Islam pada masa kekhilafahan Umayyah. Rumah Sakit 
di lengkapi peralatan medis, dokter dan perawat profesional. Salah satu alumni nya Ibnu Al Nafis, yang menemukan sirkulasi paru-paru.  

Rumah Sakit  Baghdad, sangat memperhatikan layanan dan obat-obatan yang digunakan yang teruji secara ilmiah. Begitu pula Rumah Sakit lainnya yang menerapkan management modern. 
Layanan rawat inap bebas biaya, dan jika pasien sembuh mereka diberi bekal dan uang kompensasi penghidupan yang hilang selama ia dirawat. Adanya RS keliling, menelusuri pelosok-pelosok negeri. Menjamin kesehatan rakyat di seluruh penjuru. 

Daulah khilafah tidak akan memungut biaya kesehatan pada rakyatnya, karena hal itu adalah tanggung jawab negara. Biaya kesehatan dari sumber-sumber pemasukan negara dengan penerapan sistem ekonomi islam, diantaranya  pengelolaan SDA (hutan, tambang,minyak dll). Semua akan lebih dari cukup untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik dan gratis kepada seluruh rakyat. 

Alangkah indahnya hidup di bawah naungan Khilafah. Sebuah sistem yang menerapkan syari’at secara kaffah di dalamnya, sistem yang dicontohkan oleh Rasulullah. Cukuplah perintah Allah (Al-qur’an) yang kita terapkan dan Rasulullah menjadi tauladan kita. Oleh sebab itu, sudah saat nya Islam dijadikan pengatur dalam kehidupan kita. Wallahu’alam.

Oleh Reda Hayati (Dokter Internship)

Posting Komentar

0 Komentar