TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Istiqomah Meski Ramadan Berpisah


Kini, Ramadan menjauh pergi. Bayangannya kian samar hingga tak terlihat lagi. Meski begitu, masihkah semangat Ramadan menyala? Apa kabar takwa kita? 

Mumpung Ramadan belum lama pergi, saatnya kita bermuhasabah diri. Mampukah kita meraih tujuan puasa menjadi insan bertakwa atau bahkan meningkat derajatnya. Sebagaimana firman Allah Swt,  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al Baqoroh: 183). 

Secara etimologi, takwa berasal dari kata waqa – yaqi – wiqayah yang artinya menjaga diri, menghindari dan menjauhi. Sedangkan pengertian takwa secara terminologi, takwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa.

Selama Ramadan, kita telah ditarbiyah oleh Allah Swt untuk meningkatkan ketakwaan. Jika di bulan Ramadan makan minum yang halal saja kita tinggal demi menaati perintah-Nya, maka di luar Ramadan hendaknya kita mampu meninggalkan makan minum yang haram.  

Jika dalam Ramadan (siang hari), mampu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan dengan pasangan halal, maka di luar Ramadan tentunya tidak akan bergaul bebas dengan lawan jenis yang haram. Lantas, bagaimana agar takwa selalu terpatri di jiwa?


/ Istiqomah Indikator Takwa /

Salah satu indikator ketakwaan adalah istiqomah. Ketika iman kita sedang naik turun bak roller coaster, mendapatkan ujian hidup silih berganti, disitulah nampak sesungguhnya kita istiqomah atau tidak dalam kebaikan.

Istiqomah juga teruji saat kita menjalankan amal sholih dalam keadaan sendiri atau bersama orang lain. Pun saat diberi imbalan atau tidak. Meski sendiri dalam sunyi, meski tak ada iming-iming hadiah, hendaknya senantiasa istiqomah di jalan Allah Swt. 

Maka di sebelas bulan pasca Ramadan ini, menjadi pembuktian apakah diri ini istiqomah dalam menjalankan perintah Allah Swt dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Secara makna bahasa, istiqomah berasal dari kata qoma yang berarti: berdiri, tegak, jejeg, lurus. Adapun istiqomah dalam makna syar'i ialah meniti jalan lurus yaitu agama lurus (Islam) tanpa menyimpang ke kiri dan ke kanan. 

Menurut Syaikh Ibnu Taimiyah, istiqomah berarti teguh hati dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya, tidak menoleh dari-Nya ke arah kiri/kanan. 

Seorang sahabat bernama Abdullah Ats Tsaqofi pernah meminta nasihat kepada Rasulullah Saw agar dengan nasihat itu ia tidak bertanya-tanya lagi soal agama kepada orang lain. Rasulullah Saw pun bersabda, "Qul amantu billah, tsumma istaqim. Katakanlah aku beriman kepada Allah lalu istiqomahlah!" (HR. Muslim)

Hadis tersebut sejalan dengan firman Allah Swt dalam QS. Fushilat: 30 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami ialah Allah,' lalu mereka tetap lurus (istiqomah) dalam keimanannya, niscaya malaikat turun dan menyampaikan pesan kepada mereka agar janganlah kalian takut dan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian!”

Ayat tersebut menjelaskan janji Allah yang tidak mungkin dipungkiri. Mukmin yang istiqomah atau konsisten dengan keimanannya tidak perlu cemas dan sedih dalam menempuh kehidupan ini, serta bergembira karena surga menantinya di akhirat kelak.


/ Kiat Menjadi Pribadi Istiqomah /

Hamba Allah yang istiqomah memiliki karakter yaitu pertama, konsisten dan terus-menerus dalam beribadah dan ketaatan. Kedua, tahan uji terhadap godaan, hambatan dan penghalang. 

Agar seseorang istiqomah, maka ia mesti fokus pada tiga hal yaitu: pertama, menetapkan     tujuan hidup semata untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz Dzariyat: 56). 

Kedua, memahami bahwa Allah menurunkan  umat Islam ke bumi sebagai khoiro ummah (umat terbaik) yang memiliki ciri: melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah Swt. (QS. Ali Imron: 110). 

Ketiga, menyadari   bahwa hakikat hidup adalah ujian dari Allah agar nampak siapa hamba-Nya yang terbaik amalannya (QS. Al Mulk: 2).

Adapun kiat menjadi pribadi istiqomah: 

1. Niat ikhlas. Melakukan segala aktivitas diniatkan  untuk meraih ridlo Allah Swt. Karena segala sesuatu tergantung niat dan ia akan mendapatkan balasan dari Allah sesuai niatnya.

2. Bertahap dalam amal. Berupaya melakukan amal secara rutin meski sedikit kuantitasnya. Di tahap awal mungkin agak dipaksakan. Jika telah rutin, ini menjadi cikal-bakal istiqomah.

3. Sabar. Sikap sabar merupakan kunci istiqomah. Karena hakikat sabar adalah berupaya terus-menerus melakukan kebaikan khususnya saat menghadapi kesulitan atau ujian kehidupan.

4. Ada amal jama'i. Istiqomah akan terawat saat bersama dengan komunitas yang bervisi sama dalam menjalankan ketaatan. Sehingga saling memotivasi menjalankan amal sholih dan saling menasihati dalam kesabaran dan kebaikan.

5. Banyak membaca kisah Rasulullah Saw, Sahabat dan salafus sholih (orang terdahulu  nan sholih). Dari kisah hidup mereka, kita bisa memetik ibrah bagaimana mereka mewujud menjadi sosok istiqomah yang meniti jalan perjuangan dengan banyak cobaan.

6. Paham hakikat/urgensi amal yang dilakukan. Pemahaman terhadap urgensi amal akan lebih memotivasi umtuk melakukan amal sholih.

7. Berdoa kepada Allah Swt. Seberapapun kuat hamba berupaya, jika tak pernah meminta pertolongan pada-Nya, maka tak akan bisa. Teruslah memohon pada Allah agar senantiasa ditetapkan dalam kebaikan.

Hanya saja, menjadi pribadi istiqomah yang senantiasa berpegang pada aturan Allah Swt, tentu tak mudah mewujudkannya saat kaum muslimin tinggal dalam kehidupan sekularisme kapitalis seperti saat ini. 

Sosok istiqomah akan lebih terjaga dalam sistem hidup yang  menjalankan hukum Allah secara istiqomah juga. Karena sistem Islam akan membina keislaman umat, mengontrol pelaksanaan syariat, bahkan memberikan sanksi bagi pelanggarnya. 

Ketiadaan penerapan  syariat hari ini telah  menyebabkan kerugian dunia akhirat. Di dunia, jauh dari kebaikan. Di akhirat, masih mendapatkan siksaan. Na'udzubillaahi min dzaliik.

Sehingga pribadi istiqomah tak cukup berupaya taat pada-Nya. Pun bersedia memperjuangkan tegaknya hukum Allah SWT. Inilah yang secara hakikat akan menjaga keistiqomahan tiap hamba. 

Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qulubanaa 'alaa diinik. Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qulubanaa 'alaa thoo'atik.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu. Wahai Dzat yg membolak-balikan hati, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu.”

Aamiin.

Oleh: Puspita Satyawati
(founder Majelis Qonitaat Sleman, DIY)

Posting Komentar

0 Komentar