TAQOBALLAHU MINNA WAMINKUM TAQOBBAL YA KARIM

Islam Moderat, Modus Islam yang Maju ala Barat


Istilah Islam moderat sejak awal kemunculannya sangat massif diperbincangkan. Di seminar-seminar, diskusi, pertemuan tingkat nasional maupun internasional, bahkan oleh pejabat pemerintah. Para punggawa negeri ketika merespon beberapa persoalan yang menimpa negara ini selalu saja menyebut Islam moderat sebagai solusi. Gagasan Islam moderat seolah-seolah adalah gagasan yang elegan, positif dan ampuh untuk menyelesaikan berbagai krisis multidimensi yang melanda negeri.
 
Hal ini terindikasi dari pernyataan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang mengatakan sebagian besar negara dengan mayoritas penduduk Islam sulit berkembang dan mengalami ketertinggalan di bidang ekonomi. Sebab mereka masih konservatif dalam menerapkan ajaran agama di kehidupan sehari-hari.

“Cara berpikir konservatif menjadi salah satu penyebab mengapa negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim masih tergolong underdevelopment country dan mengalami ketertinggalan dalam ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya,” kata Wapres Ma’ruf Amin saat menyampaikan ceramah yang disiarkan TVRI dari kediaman Wapres di Jakarta, Ahad.

Menurut Ma'ruf cara berpikir konservatif juga menghambat upaya-upaya dalam mewujudkan peradaban Islam. Untuk membangun kembali peradaban Islam, Wapres Ma'ruf Amin menyatakan pola pikir wasathi atau moderat harus ditanamkan dan dikembangkan di negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas Muslim.
(www.geloranews.com. 11/05/2020)

Krisis  terbesar yang dialami umat Islam saat ini adalah terdegradasinya pemikiran umat dari kepemimpinan berpikir Islam. Sehingga menjadikan hilangnya kepercayaan diri terhadap keunggulan syariat Islam. 

Peradaban yang pernah dipuncaki oleh generasi saleh terdahulu dianggap sebagai sejarah masa lalu. Sejarah bagi mereka hanyalah sebagai sepenggal kehidupan masa silam yang pernah terjadi. Akibatnya mudah ditebak, syariat Islam menjadi asing di tengah masyarakat Muslim. 

Sebagian mereka menjadi silau dengan segala budaya dan ilmu pengetahuan yang datang dari Barat dan di luar Islam. Parahnya lagi ada yang sampai membenci agama hanya untuk mempertahankan apa yang menjadi kebanggaan dirinya.
Menganggap Islam sebagai ajaran radikal, konservatif, fundamentalis dan lain sebagainya. Selanjutnya Barat menjadi kiblat utama mereka untuk menilai suatu fakta kehidupan.

Istilah konservatif artinya adalah doktrin politik yang menekankan pada nilai insitusi dan praktek-praktek yang tradisional. Konservatif juga diartikan sikap menolak perubahan. Istilah itu dipakai di dunia Islam sebagaimana istilah fundamentalisme dan radikalisme, sebagai stigma terhadap kalangan muslim yang memperjuangkan tegaknya kembali syariat Islam dalam kehidupan. Inilah perang istilah (harb al-istilah) yang dilakukan Barat terhadap Islam dan kaum muslimin.

Dari berbagai pernyataan para politisi dan intelektual Barat terkait klasifikasi Islam menjadi Islam moderat dan Islam radikal atau ekstrimis, akan kita temukan bahwa yang mereka maksud Islam moderat adalah Islam yang tidak anti Barat, yang tidak bertentangan dengan sekulerisme Barat, serta tidak menolak berbagai kepentingan Barat.

Pada faktanya tidak sedikit kaum muslim yang beranggapan jika ide tersebut sejalan dengan Islam. Mereka berpandangan bahwa pemahaman dan praktek Islam yang terlalu ketat bertentangan dengan Islam. 

Meski demikian mereka juga tidak menginginkan adanya kebebasan yang melampaui batas ketetapan hukum Islam. Oleh karena itu sikap jalan tengah merupakan posisi yang paling tepat.

Mereka membangun argumentasinya didasarkan kepada logika akal bahwa benda secara empiris memiliki dua kutub yang kontradiktif dan bagian tengah merupakan titik keseimbangan, keadilan dan keamanan dari dua kutubnya. Ini pula yang dimiliki oleh Islam yang mengajarkan sikap moderat dalam segala hal baik berupa keyakinan, syariat, ibadah, akhlak dan sebagainya. (Abdul Qadim Zallum, Mafahim Khathirah li Dharbi al-Islam).

Menganalogikan gagasan Islam moderat dengan materi/benda jelas batil. Ini karena objek keduanya berbeda; yang satu adalah benda sementara yang lain adalah pemikiran yang ukuran penilaian keduanya berbeda. 

Ukuran penilaian sebuah benda adalah seberapa manfaatnya saat digunakan. Sedangkan ukuran penilaian sebuah  pemikiran tidak bisa dilihat dari manfaat luarnya saja tetapi dari ideologi yang melatar belakanginya. 

Apalagi tidak semua bagian tengah suatu benda lebih baik dari ujungnya. Ujung pulpen misalnya tentu lebih berguna di bandingkan bagian tengahnya. 

Menjadi moderat, berkompromi dan mengambil jalan tengah demi tidak dianggap "radikal" (baca: mendasar dan kaffah) dalam melaksanakan ajaran agama  adalah salah satu manifestasi sesat pikir yang seringkali dilakukan. Kebenaran seolah-olah berada di tengah-tengah dua kutub yang berlawanan, sehingga mereka yang ingin menemukan kebenaran harus meninggalkan posisi ekstremnya lalu mengambil jalan tengah. 

Sesat pikir macam ini jamak disebut argument to argument to moderation atau middle grounds fallacy. Tak semua persoalan dan konflik lebih baik jika diakhiri dengan menjadi lebih moderat dan berkompromi. Ada situasi dimana satu pihak secara terang benderang menzalimi pihak lainnya habis-habisan. Dalam situasi semacam itu, bersikap moderat di antara keduanya adalah keluguan yang menghina akal sehat. Sikap moderat bisa jadi hanya sikap tanggung-tanggung, sikap setengah-setengah yang tak menyelesaikan apa-apa. 

Dari sini terlihat betapa absurd gagasan ini dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia. Masih tidak percaya? 

Lihatlah ketika dinegeri ini korupsi merajalela, rezim bertindak semena-mena menaikkan berbagai harga kebutuhan pokok rakyat, keadilan telah mati, ketergantungan pada impor, pendidikan yang terus menuai masalah, resesi ekonomi karena wabah Covid-19, apakah ini bisa diakhiri dengan pemikiran Islam yang moderat? 

Nyatanya tidak...justru penyebab keterpurukan, kemunduran, keterbelakangan umat ini karena meninggalkan Islam Kaffah sebagai pemandu dalam berpikir untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Menggantinya dengan cara berpikir sekuler yang meniadakan peran agama dalam aspek diluar ibadah mahdah (shalat, zakat, haji, puasa).

Lebih dari itu para pengagum ide Islam moderat telah menggunakan sejumlah ayat di dalam Al-Quran yang dipandang menyerukan untuk mengambil jalan tengah dalam berbagai hal. 

Salah satunya adalah Firman Allah SWT:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ...


"Demikianlah Kami jadikan kalian ummat yang wasath[an] (terbaik dan adil)..."
(QS. Al-Baqarah: 143).

Ummatan wasathan dalam ayat tersebut berarti "golongan atau agama tengah", tidak ekstrim. Kata "wasath" dalam ayat di atas Jika merujuk kepada tafsir klasik seperti at-Thabari atau ar-Razi, mempunyai tiga kemungkinan pengertian yakni: umat yang adil, tengah-tengah, atau terbaik. 

Mereka yang mengusung Islam moderat beranggapan bahwa dengan ayat ini Allah memerintahkan umat Islam untuk menjadi umat yang moderat. Kata wasath[an] pada ayat tersebut diartikan di tengah-tengah. 

Dengan demikian umat Islam tidak boleh terlalu berlebih-lebihan dalam beragama seperti yang dipraktekkan oleh orang-orang Yahudi. Namun sebaliknya mereka juga tidak boleh terlalu bebas sebagaimana halnya orang-orang Nasrani.

Sesungguhnya penggunaan surat Al-Baqarah: 143 untuk menjustifikasi Islam moderat merupakan argumentasi yang dipaksakan. Karena jika kita mengkaitkan makna ummatan wasathan dengan tafsir ulama terdahulu, akan kita dapati bahwa yang dimaksud dengan ummatan wasathan dimaknai sebagai umat pilihan atau umat terbaik. 

Ibnu Katsir menyatakan, Allah telah menjadikan umat ini sebagai ummah wasath. Yaitu dengan memberikan pengkhususan dan keistimewaan pada mereka berupa syariah paling sempurna, tuntunan tuntunan yang paling lurus, serta jalan-jalan yang paling jelas. 

Status mulia itu dapat disandang manakala mereka menjalankan dan mengemban risalah tersebut. Ini sejalan dengan Firman Allah SWT : 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ  

"Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS Ali Imran: 110).

Wasath juga bermakna 'adl (adil). Dalam Islam sifat adil merupakan syarat kesaksian. 

Dengan demikian sebagaimana lanjutan ayat tersebut umat Islam dapat bersaksi pada hari kiamat nanti bahwa mereka telah menyampaikan Islam kepada mereka yang tidak beragama Islam.

Dengan penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa Islam moderat merupakan pemahaman yang tidak datang dari Islam dan tidak dikenal dalam Islam.

Pemahaman ini justru berkembang pasca diruntuhkannya negara Khilafah yang mendapat dukungan dari negara-negara Barat. Tujuannya tidak lain agar nilai-nilai dan praktek Islam khususnya yang berkaitan dengan politik Islam dan berbagai hukum-hukum Islam lainnya dapat dieliminasi dari kaum muslim lalu diganti dengan pemikiran dan budaya Barat. 

Islam dengan berbagai labelnya merupakan pengkotak-kotakan yang didesain oleh Barat. Ada Islam nusantara, Islam Timur Tengah, Islam Indonesia, Islam militan, Islam moderat dan lain sebagainya merupakan bagian dari strategi barat untuk menghancurkan Islam. Ini sebagaimana yang dituangkan dalam dokumen Rand Corporation. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah "Devide et impera" atau politik pecah belah.

Dalam pandangan Islam, tidak pernah dikenal yang namanya Islam moderat, Islam nusantara, Islam radikal ataupun Islam ekstrimis. Karena Islam adalah agama (Dien) yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, dengan sesamanya dan dengan dirinya sendiri. Karena itu Islam tidak cuma mengajarkan akidah yang mengharuskan setiap pemeluknya untuk mengimani Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab Allah, Nabi dan Rasul, hari kiamat dan qodho-qodar. 

Islam juga mengharuskan setiap pemeluknya untuk terikat dengan syariat-Nya; baik yang berkaitan dengan masalah ibadah, muamalat, sistem pergaulan pria-wanita, hudud dan jinayat, jihad, maupun sistem pemerintahan dan sebagainya. Inilah yang disebut Islam Kaffah.

Dengan penerapan Islam Kaffah oleh institusi negara yang didasarkan kepada perintah Allah untuk meriayah dengan amanah seluruh warga negaranya inilah kemajuan dan kegemilangan dapat diraih.

Sejarah dunia mencatat, peradaban Islam telah memberikan tinta emas dalam perjalanan kehidupan manusia di berbagai aspek. Zaman kejayaan Islam adalah masa ketika manusia telah menjadikan akidah Islam yang merupakan akidah ruhiyah dan akidah politik dalam aspek individu, bermasyarakat dan bernegara sebagai pondasi dalam menjalankan sistem kehidupan. 

Dimasa itu telah lahir ribuan ulama, ilmuan, insinyur, ahli ekonomi dan lain-lain yang menghasilkan banyak kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan dunia, dengan tetap menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri.

Dengan demikian gagasan Islam moderat adalah modus palsu yang jahat untuk mengaburkan Islam sebagai sistem Kaffah. Tujuannya untuk menundukkan ajaran Islam agar sesuai dengan ideologi dan kepentingan politik Barat yang tengah mendominasi umat Islam saat ini agar penjajahan yang dilakukan oleh negara imperialis tetap bisa  langgeng.

Wallahu a'lam.

Oleh: Zahida Arrosyida (Pegiat Opini Islam, Revowriter Kota Malang)

Posting Komentar

0 Komentar