#IndonesiaTerserah dan Ketaatan Terarah


Masih hangat dan menjadi trending di sosial media tentang tagar Indonesia Terserah. Yaitu, ekspresi kekecewaan Nakes & masyarakat yang taat menahan diri untuk tidak keluar rumah tanpa kepentingan mendesak terhadap kebijakan pemerintah yang sering kali kontradiktif dalam penanganan Covid-19.
Untuk permasalahan yang satu ini saya hanya bisa mengatakan agar tetap semangat, sehat dalam bertindak dan berpikir serta bersabar dalam setiap situasi yang tidak berpihak.

Apa yang membuat saya tertarik adalah kata TERSERAH yang menjadi ungkapan dalam tagar yang banyak beredar di media sosial.
Pada dasarnya menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata terserah adalah  diserahkan kepada, tinggal bergantung kepada, dan masa bodoh. 

Sehingga jika melihat persoalan yang terjadi akhir-akhir ini maka sikap yang diambil oleh nakes dan masyarakat yang taat untuk berdiam diri di rumah tadi adalah sikap masa bodoh terhadap apa yang menjadi kebijakan pemerintah terkait penanganan pandemi covid-19 yang semakin hari semakin tidak jelas penyelesaiannya. Mulai dari memutuskan melakukan PSBB daripada karantina wilayah lalu kemudian melonggarkan lagi dengan alasan ekonomi. Sementara rakyat juga mulai keluar dari rumah untuk memenuhi kebutuhannya bahkan kebutuhan yang tidak begitu penting menjelang akhir Ramadhan dengan memenuhi tempat - tempat perbelanjaan tanpa memperhatikan lagi resiko terinfeksi atau menginfeksi virus covid-19 pada orang lain. 

Faktanya adalah penambahan kasus positif virus Corona di Indonesia pada 23 Mei 2020 mencapai lebih dari 900 orang. Tepat menjelang malam takbiran menyambut lebaran. Gambaran ini memperlihatkan bahwa penularan masih terus terjadi di tengah masyarakat
"Konfirmasi COVID-19 yang positif naik sebanyak 949 orang sehingga totalnya menjadi 21.745 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Sabtu (detik.news 22/5/2020).

Hal ini terjadi juga akibat dari kebijakan pemerintah untuk melonggarkan PSBB. Bahkan ada juga ajakan pemerintah untuk berdamai dengan pandemi sehingga menciptakan new normal life. Inilah yang membuat rakyat terutama nakes yg berada di garda depan selama menghadapi pandemi ini menjadi masa bodoh. Bahkan keinginan mereka adalah para nakes yang di rumah saja. Terserah. Sungguh suatu ironi. 


Maka jika melihat fakta yang terjadi ini akan muncul pertanyaan tentang siapkah manusia mengurus urusannya sendiri? Membuat kebijakan sendiri yang justru merugikan umat dan menyenangkan penguasa? Terserah.

Tabiat manusia ingin hidup enak, mudah, sesuai keinginan, sering kali menjerumuskan untuk Play God. Mencoba untuk mengatur urusannya sendiri dengan aturan yang dibuat sendiri berlandaskan akal pikiran (logika) dan kemanfaatan. Berhasilkah cara ini? Selesaikah permasalahan hidup manusia?

Untuk menjawab pertanyaan, coba kita intip sistem/ideologi yang berlaku di dunia saat ini, Kapitalisme dan Sosialisme. Masing-masing melahirkan aturan dengan warna yang contras. Kapitalis dengan kebebasan dan sekulerismenya. Sosialis dengan ketundukan mutlak dan materialismenya. Keduanya sepakat pada satu ide "manusia sebagai pembuat aturan dalam kehidupan" (Seikh Taqqiyudin An Nabhani-Nidzamul Islam Bab Qiyadah Fikriyah)  

Dalam perjalanan penerapan kedua ideologi tersebut, tercatat hasilnya adalah : presekusi dan genosida pada umat beragama, penguasaan sumber daya hanya pada segelintir orang, munculnya diktaktor (menghilangkan keadilan), riba menjerat semua sendi perekonomian, Sistem nilai tukar mata uang yang tidak jelas perhitungannya, kemerosotan moral (zina dan LGBT)

Demikian banyak kerusakan yang disebabkan oleh sistem atau ideologi yang salah tadi. Sehingga menjadi sebuah kepastian bahwa ini adalah sistem yang rusak dan tidak pernah membawa kesejahteraan.

Lalu adakah sistem yang benar? Tentu saja ada, yaitu ideologi Islam yang telah terbukti dan tercatat juga dalam sejarah 1300 tahun menguasai dua pertiga belahan dunia dengan kejayaan. Islam tidak hanya sebagai suatu agama saja tapi juga sebagai ideologi sebab Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari yang terkait ibadah seperti sholat, zakat, puasa, haji, makan, minum, pakaian. Sampai pada aturan bernegara berikut hukumnya. Seperti memilih pemimpin. Sungguh aturan yang komprehensif untuk mengatur kehidupan manusia. (Nidzamul Islam - Sheik Taqiyyuddin An Nabhani)

Jika demikian lengkap maka muncul lagi pertanyaan apa sumber hukum yang digunakan? Tentu saja adalah Al Qur'an dan Al Hadits.

Al-Qur'an merupakan sumber utama dan pertama sehingga semua persoalan harus merujuk dan berpedoman kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al Qur'an :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)

Dalam ayat yang lain Allah Swt. menyatakan:

اِنَّاۤ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَـقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّا سِ بِمَاۤ اَرٰٮكَ اللّٰهُ ۗ وَلَا تَكُنْ لِّـلْخَآئِنِيْنَ خَصِيْمًا ۙ 

"Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang yang berkhianat,"
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 105)

Dalam sebuah hadis yang bersumber dari Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
Artinya : "... Amma ba'dhu wahai sekalian manusia, bukankah aku sebagaimana manusia biasa yang diangkat menjadi rasul dan saya tinggalkan bagi kalian semua ada dua perkara utama/besar, yang pertama adalah kitab Allah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya/ penerang, maka ikutilah kitab Allah (al-Qur'an) dan berpegang teguhlah kepadanya ..."(H.R. Muslim)

Al-Qur'an sumber dari segala sumber hukum baik dalam konteks kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Sehingga wajib bagi kita sebagai umat muslim untuk mengambilnya sebagai sumber hukum yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Wallahu 'alam.

Oleh : Nurmala Oktavira
Anggota Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar