TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Indonesia, Jangan Terserah

sumber foto: ruangngobrol.id

"Indonesia Terserah" masih menjadi salah satu topik yang belakangan ini ramai diperbincangkan oleh publik. Tagar #IndonesiaTerserah muncul dari para tenaga medis yang mempertanyakan komitmen pemerintah dan masyarakat dalam melawan virus covid-19.

Salah satu yang menggunakan tagar #IndonesiaTerserah adalah Debryna Dewi Lumanauw, dokter di Rumah Sakit Darurat covid-19 Wisma Atlet Jakarta. Menurutnya tak ada kata lain yang lebih tepat ketimbang 'terserah' bagi orang-orang yang tak mematuhi imbauan soal physical distancing serta mengabaikan PSBB. (Tirto.id, 29/5/2020)

Munculnya tagar tersebut merupakan ekspresi kekecewaan para tenaga medis kepada pemerintah yang tidak tegas serta masyarakat yang abai terhadap covid-19. 

Awalnya harus work from home dan masyarakat diminta dirumah saja, sekarang justru seluruh moda transportasi dan pusat perbelanjaan dibuka, yang membuat semua beramai-ramai memadatinya. Ironis!

Selain itu, adanya protes ini harusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah bahwa kebijakan yang diterapkan justru menambah beban bagi para tenaga medis juga masyarakat. Bagaimana tidak? Kebijakan plin-plan justru semakin mengancam para medis yang berada di  garda terdepan penanganan pandemi ini. 

Di sisi lain, masyarakat akhirnya semakin abai dan acuh terhadap aturan yang ada. Jika sudah seperti ini, maka sudah bisa dipastikan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah akan menurun.

Selain itu, ditengah paceklik karena pandemi Corona ini, pemerintah justru menaikkan tarif BPJS kesehatan, tentu hal ini menuai reaksi penolakan. Bagaimana bisa di saat seluruh masyarakat berjuang melawan wabah hingga terjadi PHK, kelaparan, dll, pemerintah tega menaikkan tarif BPJS kesehatan. Kebijakan yang plin-plan membuat masyarakat semakin kecewa dan enggan untuk percaya.

Solusi yang diberikan pemerintah selama ini memang terkesan tak serius, padahal hari ini sudah mencapai 19.189 kasus positif covid-19 di negeri ini dan pasien yang meninggal mencapai 1.242 orang. Tentu ini bukan angka yang sedikit.  Mengingat ini terkait nyawa manusia.
Dalam Islam, nyawa manusia bukanlah perkara yang remeh, lebih berharga dari bumi dan seisinya.

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. An-Nasa’i)

Oleh karena itu, apapun yang membahayakan nyawa manusia maka akan ditindak tegas dan segera di selesaikan. Terlebih jika terjadi wabah seperti saat ini. Kebijakan demi kebijakan semata untuk kemaslahatan umat di dukung dengan perlindungan serta periayahan secara serius dari pemerintahan Islam. 

Karena kesehatan dan keselamatan masyarakat adalah prioritas utama dalam penanganan wabah. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab saat menangani wabah Amwas. Cepat, tepat dan solutif.

Tentu, semua itu bukan semata karena sosok pribadi Umar sebagai pemimpin yang tegas dan cerdas, melainkan juga karena sistem kehidupan yang diterapkannya dalam memimpin umat manusia. Itulah sistem Islam.

Oleh karena itu, jangan terserah apalagi menyerah pada sistem rusak Kapitalisme. Cukup sampai disini penerapan sistem Kapitalisme sekular yang menyengsarakan manusia. Dan segeralah mengambil Islam sebagai sistem aturan dalam setiap lini kehidupan. 

Jadi, Indonesia jangan terserah, segera terapkan syariat Islam secara kaffah, agar kehidupan menjadi berkah. Wallahu a'lam. []

Oleh: Isti Shofiah

Posting Komentar

0 Komentar