Ilusi Demokrasi Menjawab Kesejahteraan Pasca Pandemi


  Setelah akhir tahun 2019 hingga saat ini, disibukan oleh pandemi akibat virus Corona. Virus yang menyebabkan penyakit pernafasan menular Covid-19 ini bermula dari wabah yang melanda di kota Wuhan, Tiongkok. Dilansir dari website resmi WHO disebutkan bahwa  beberapa orang yang terinfeksi secara umum mampu pulih tanpa perawatan khusus (80 %) . Hanya 1 dari 6 orang saja yang menunjukan tingkat penyakit parah dan juga kesulitan bernafas. Umumnya terjadi pada usia lanjut atau memiliki penyakit bawaan. 2 kelompok inilah yang seharusnya mendapatkan pertolongan medis yang lebih jauh. 

    Namun mengapa dalam hitungan bulan,wabah nasional Tiongkok yang awalnya disepelekan banyak pihak mulai menjadi wabah di bagian bumi yang lain? Hingga pada tanggal 30 Januari WHO mendeklarasikan Covid-19 menjadi a Global Public Healty Emergency dan melayangkan surat ke seluruh negara untuk bersiap menghadapi dampak wabah yang menjadi pandemi tsb. 

Setidaknya ada 2 hal yang menjadi catatan bagi penulis  dari pandemi ini. Yang pertama, ternyata yang menjadi perhatian bukanlah semata-mata efek kesehatan pada pengidap. Namun bagaimana Covid-19 memiliki kecepatan menyebar dari satu carrier pada yang lainnya tanpa disadari.

Bahkan, tanpa diketahui apakah carrier sudah mengidap Covid-19 atau tidak karena kadang wabah ini tidak menunjukan gejala pada pengidapnya. Dalam kajian medis, kita dikenalkan pada istilah skala Ro ( dibaca: r-naught atau r-zero) yang berarti skala untuk menunjukan sejauhmana tingkat menularnya sebuah penyakit atau secepat apa dia menyebar. Berbagai penelitian menyebutkan tingkat Ro Covid-19 ini berada diantara hitungan 1.5 sampai 4.0 melampaui penyakit flu ( Ro: 1.3 ) dan SARS ( Ro:  2.0 ). Maka bisa dibayangkan betapa cepat virus ini berpindah.

  Yang kedua, bahwa Covid-19 ini memiliki waktu inkubasi. Sehingga memunculkan waktu jeda dari waktu awal tertular hingga muncul gejala khas wabah.  Disebutkan dalam beberapa jurnal bahwa masa inkubasinya berdurasi 2 hari - 14 hari lamanya. Dan pada masa itulah gejala bisa nampak atau tidak yang itu bisa menular pada yang lain.  2 hal tsb-lah yang menjadi catatan sebagai tongkat sakti  Covid-19  memukul mundur banyak negara korban pandemi-nya. Karena dengan 2 hal tadi tercatat hingga hari ini sudah 210 negara termasuki wabah ini, 2,407,340 kasus pengidap dengan 165,069 kasus kematian dan 625,128 kasus dinyatakan sembuh ( https://www.worldometers.info/Coronavirus/ ). 

Karena begitu cepatnya wabah ini menyebar serta penularannya yang bisa bersifat 'silent' serta kekhawatiran ketidak mampuan pihak dan sarana medis memangkas pandemi ini maka WHO menghimbau para pemimpin negara tuk melakukan karantina mandiri hingga lockdown. Hal inilah yang menyebabkan berubahnya wajah dunia saat ini terutama dalam sektor perekonomian. Nilai F, failed (gagal) bagi demokrasi dalam menghadapi Covid-19.

Ada beberapa catatan penulis mengenai bukti ilusi kesejahteraan dalam Demokrasi, beberapa hal tsb adalah:

Dalam bingkai negara Demokrasi-Kapitalis yang menjadi tujuan berjalannya ekonomi yang dikawal negara hanya berkutat pada 2 hal yaitu bagaimana bertambahnya kekayaan negara dan tingginya produksi dalam negeri. 

Maka tak heran, sehat atau tidaknya perekonomian dilihat dari pendapatan nasional ( national income)  dan GNP. Yang dipikirkan adalah bagaimana menyediakan barang kebutuhan secara kolektif tanpa memikirkan apakah itu akan sampai dan menjamin kesejahteraan tiap individu. Mereka berpikir dengan adanya kenaikan pendapatan nasional, otomatis akan ada distribusi pendapatan per-individu yang menyebabkan terjangkaunya pemenuhan kebutuhan dan tercapainya kesejahteraan. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu. 

Demokrasi cenderung mengarah pada ' Coorporate State' alias negara yang memihak pada kepentingan korporat. Maka jika bicara tentang kepentingan maka sulit sekali sampai pada kemanfaatan dan kesejahteraan umat. Biaya Demokrasi yang tinggi melahirkan ongkos yang besar yang jikalau bukan para pengusaha yang membiayainya maka siapa yang bisa menanggung. Maka lahirlah setelah lobi-lobi politik berbagai kebijakan dan perundangan yang memuluskan tujuan dan langkah para pemilik modal. 

Perekonomian tidak ditopang oleh sektor real namun oleh sektor non-riil dan terutama ditopang oleh pajak dan hutang LN. Sektor non-riil lebih banyak bertumpu pada ekonomi berbasis spekulasi dan riba seperti jual beli saham dan obligasi yang nyatanya adalah bentuk kegiatan ekonomi yang rapuh. Terkait utang luar negeri, selain dia menjadi beban APBN ia juga menjadi cara baru penjajahan abad ini. 

Sayangnya ini tidak disadari oleh negara berkembang yang sejak PD II menjadikannya sebagai alternatif dana pembangunan.  Adanya  hutang LN juga menjadikan negeri muslim amat tergantung pada Dollar AS. Maka itu juga menambah rentannya krisis menuju kemiskinan. Dikarenakan nilai mata uang dalam negeri tidak pernah stabil. Yang terjadi saat adanya gelombang wabah ini, kurs rupiah anjlok. Sektor real banyak ditutup karna kebijakan sosial distancing. Maka bertambah jauh lagi kita dari kata sejahtera.

Demokrasi-Kapitalis melahirkan kebijakan liberal. Maka keputusan penguasa pun sayangnya tak sejalan kepentingan rakyat hanya fokus pada kepentingan pemilik modal. Maka dijualnya BUMN pada pihak swasta, dibukanya keran investasi asing sebesar-besarnya, turut bergabungnya dengan perdagangan bebas adalah beberapa buah tangan liberalisme ekonomi ala Demokrasi.

Penutup

Dari apa yang telah kita bahas maka teranglah bahwasanya demokrasi telah gagal dalam seruannya menjamin kesejahteraan. Serangan Covid-19 membuka lebih jelas hakikatnya. Maka secara logis Demokrasi seharusnya bukanlah pilihan bagi kaum muslimin. Kita terpaksa menerima jamu pahit Demokrasi karena pilihannya hanya 2, Demokrasi atau sistem pemerintahan otoriter. Maka majunya Islam sebagai ideologi pengganti adalah pilihan bagi kita.Sebagai keyakinan dari seorang muslim, Islam adalah masa depan dunia yang mampu mengganti potret suram Demokrasi - Kapitalisme. Dan lebih jauh dari itu, bagi kita kaum muslimin, jayanya Islam tuk kali ke-2-nya adalah janji Allah SWT dan kabar gembira dari habibunaa Rasulullah SAW. Allahu 'alam bis shawwab.

Oleh Novita Natalia
Editor: SM

Posting Komentar

0 Komentar