Iedul Fitri Bukan Romantisme Perjalanan Waktu


Iedul Fitri baru saja kita lewati. Untuk kali ini, Iedul Fitri menjadi hal yang berbeda.  Pandemik Covid 19 telah merubah segala kebiasaan dan tradisi kita pada saat lebaran. Tak ada mudik, berhemat untuk makanan dan tak berlebihan untuk baju baru  serta  kebutuhan sekunder lainnya apalagi tersier.
 
Meski demikian, harusnya  keseruan lebaran tidak berkurang. Jangan sampai kita terpaku pada hal hal yang sifatnya rutinitas tahunan yang miskin makna atau malah kita lebih merasa “wajib” dengan berbagai pernak pernik lebaran akibat sudah menjadi adat dan tradisi. 

Ada kaidah Ushuliyyah yang berbunyi :
تغير الأحكام بتغير الزمان والمكان
Hukum berubah sesuai dengan perubahan zaman dan tempat.
Seringkali dipahami oleh sebagian orang bahwa  hukum Allah bisa berubah seiring dengan kebutuhan dan maslahat setiap masa dan lingkungan. Sehingga seringkali ada sebagian orang yang merasa tidak afdhol lebaran tanpa melakukan adat dan tradisi tertentu. 

Padahal Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam karyanya yang fenomenal, I’lamul Muwaqi’in, turut berpendapat dalam hal ini, beliau mengatakan:
وقد اتفقت كلمة فقهاء المذاهب على أن الأحكام التي تتبدّل بتبدّل الزمان وأخلاق الناس هي الأحكام الاجتهادية من قياسية ومصلحية، أي: التي قررها الاجتهاد بناء على القياس أو على دواعي المصلحة، وهي المقصودة بالقاعدة الآنفة الذكر: "لا ينكر تغير الأحكام بتغير الأزمان". أمّا الأحكام الأساسية التي جاءت الشريعة لتأسيسها وتوطيدها بنصوصها الأصلية الآمرة الناهية كحرمة المحرمات المطلقة،  فهذه لا تتبدَّل بتبدُّل الأزمان بل هي الأصول التي جاءت بها الشريعة لإصلاح الأزمان والأجيال

Dan pendapat seluruh ulama madzhab telah sepakat bahwa hukum syariat yang bisa berubah dengan berubahnya zaman dan perilaku manusia, adalah hukum-hukum yang bersifat ijtihadi yang berlandaskan analogi dan maslahat, atau: yang ditetapkan karena ijtihad yang berlandaskan qiyas dan maslahat, maka inilah maksud daripada kaidah “tak diingkari perubahan hukum dengan perubahan zaman”. 

Sedangkan hukum asasi yang dengannya satang syariat sebagai pondasinya melalui nushus (quran dan haidst) yang asli menunjukkan perintah dan larangan seperti keharaman mendekati hal-hal yang diharamkan secara mutlak, maka itu semua tidak boleh berganti hanya dengan perubahan zaman akan tetapi dia tetap berdiri sebagai pondasi yang datang syariat dengannya untuk mengevaluasi zaman dan generasi.

Bila diperjelas, sebenarnya Islam telah memberikan sistem peraturan yang sangat gamblang bagi manusia. Hukum asal benda (barang) adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Sebaliknya, berkaitan dengan aktivitas  yang ditujukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan jasmaniah maupun naluriah itu tidak pernah berubah,  Islam menggariskan kaidah berikut:


Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syariat. Adapun bila kondisi berubah, maka pasti fakta dari perbuatannya pun berbeda sehingga ia punya hukum sendiri pula. Jadi tidak ada perubahan hukum sebenarnya, yang ada adalah perbedaan objek hukum, sehingga hukumnya pun berbeda. 

Ramadhan Di Masa Pandemi Esensi dan Hukumnya Tidak Berubah

Bahasan pendahuluan di atas, penting disampaikan agar ke depan pembahasan kita mengerangka di dalam koridor syariat. Berbagai perubahan gaya hidup dan kebiasaan yang terjadi di lebaran ini akibat berbagai upaya terkait pencegahan Covid 19 sebenarnya tidak mengurangi sama sekali kepada makna dan target raihan kita di bulan ramadhan yaitu meraih ketakwaan.

Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Saya selalu terkesan dengan gambaran ilustrasi takwa dari  Abu Hurairah. Suatu ketika, Abu Hurairah ditanya oleh seseorang, ''Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud dengan takwa itu?'' Abu Hurairah tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi memberikan satu ilustrasi.

''Pernahkah engkau melewati suatu jalan dan engkau melihat jalan itu penuh dengan duri? Bagaimana tindakanmu untuk melewatinya?'' Orang itu menjawab, ''Apabila aku melihat duri, maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu, atau aku mundur.'' Abu Hurairah cepat berkata, ''Itulah dia takwa!'' (HR Ibnu Abi Dunya).

Kata takwa, menurut HAMKA dalam tafsirnya, Al-Azhar, diambil dari rumpun kata wiqayah yang berarti memelihara. Memelihara hubungan yang baik dengan Allah Swt. Memelihara jangan sampai terperosok kepada perbuatan yang tidak diridhai-Nya. Memelihara segala perintah-Nya supaya dapat dijalankan. Memelihara kaki jangan terperosok ke tempat yang penuh lumpur atau duri.

Takwa, dengan demikian, tidak dapat diartikan sebatas takut kepada Allah Swt. Rasa takut kepada Allah Swt. adalah bagian kecil dari takwa. Menurut HAMKA lagi, dalam takwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, dan sabar. Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal saleh. Bahkan, dalam kata takwa terkandung juga arti berani.

Maka sebenarnya dalam kondisi apapun,baik kondisi normal atau dengan pandemi ini,  kita tetap akan bisa mewujudkan target ramadhan minimal secara individual. Justru dengan kondisi pandemi, kita makin tersungkur untuk mau mengakui betapa lemahnya kita di hadapan Allah. Kalau masih saja dengan kondisi kematian yang mengintai, lalu kesulitan dialami banyak pihak masih tidak menggetarkan hati kita untuk lebih memelihara hubungan kita dengan allah khawatirnya Allah telahmengunci hati kita.

"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti." (QS al-Munafiqun [63]: 3).

Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut bahwa siapa yang berpaling dari kebenaran (keimanan) kepada kekafiran maka mereka telah menjadikan hati terkunci, sehingga kekafiran dianggapnya jalan hidup yang baik. Na'udzubillah. Lebih lanjut, Ibn Katsir menuliskan, "Sehingga Allah Ta'ala mengunci mati hati mereka, sehingga mereka menjadi tidak mengerti sama sekali. Akhirnya, tidak ada satu pun petunjuk yang dapat masuk ke dalam hati mereka dan tidak juga ada kebaikan yang dapat diterimanya, sehingga tidak pernah menyadari dan mendapatkan petunjuk."

Mungkin ketika masih banyak orang orang di sekitar kita yang belum menjalankan perintah Allah bisajadi juga hatinya belum dikunci tapi mereka belum tahu.Butuh edukasi atas konsekuensi dari keimanan seseorang terhadap orang orang yang belum tahu. Itu adalah tugas bersama bagi yang sudah tahu. Selain itu penerapan hukum Islam menjadi kunci satusatunya atas ketakwaan kolektif, karena tentu betapa egois kalau ingin masuk surga sendirian. Betapa nikmat kelak bila bisa masuk surga berbondong-bondong. 

 “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-Nya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.”; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az-Zumar: 73-74)

Maasya Allah. Perkara ketakwaan yang kolektif ini tentu tidak hanya cukup berbekal pemahaman individu, karena hasilnya akan bervariasi tiap orang. Sedangkan hasil yang diharapkan adalah seragam meski tidak 100 %. Karena itu, untuk mewujudkan kemaslahatan masyarakat secara bersama, harus ada kesamaan pemahaman, standar perilaku dan penerimaan kepada aturan dimasyarakat secara umum. Sehingga harus ada penerapan syariat Islam itu sendiri dalam bingkai system islam yang sudah dipraktekkan oleh Rasulullah dan para khulafaur rasydin beserta khalifah selanjutnya.

Oleh: Ekha Putri M S, S. P

Posting Komentar

0 Komentar