TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ide Gender Menyerang Syari'at Islam



Kesetaraan gender menjadi isu utama dunia dengan ditetapkannya tahun 2030 sebagai tahun terwujudnya planet 50-50 dan SDGs. Tahun 2020 menjadi tahun yang sangat penting mengingat pada tahun ini genap 25 tahun usia deklarasi Beijing dan landasan aksinya. 
(https://www.unwomen.org/en/news/stories/2019/9/speech-ed-phumzile-from-biarritz-partnership-to-generation-equality-forum)

Sebenarnya apa kesetaraan gender itu?. Kesetaraan gender adalah ide yang ingin menjadikan laki-laki dan perempuan setara dalam segala hal. Tetapi jika kita perhatikan sebenarnya apa titik tekannya?. Ada dua titik tekannya yaitu peningkatan peran Ekonomi dan peran Politik , Inilah persoalan sebenarnya.

Persoalannya bukanlah pada hal-hal yang semisal perempuan yang meminta kesamaan jika laki-laki angkat beban berat, maka perempuan juga ingin seperti itu. Jika memang konsekuensi laki-laki dan perempuan sama, harusnya beban yang dipikul pun sama. Ternyata bukan ini yang dituju kesetaraan gender.

Dalam hal Peran Ekonomi, para pegiat gender mencatat, saat ini perempuan masih menjadi prioritas kedua dalam mencari nafkah untuk sebuah keluarga. perempuan Indonesia misalnya disebut-sebut memiliki keterbatasan masa waktu untuk berkarir, yaitu saat perempuan dihadapkan pada menikah, berkeluarga, mengandung dan memiliki keturunan. sepintas catatan dan simpulan yang mengemuka tersebut nampak sangat positif bagi kaum perempuan. 

Bahasa pujian tentang kontribusi perempuan dalam menyelesaikan problem ekonomi atau upaya memperjuangkan kesetaraan gender melalui ekonomi. Seolah-olah sedang mengangkat harkat martabat kaum perempuan sekaligus menyiratkan adanya awareness terhadap nasib kaum perempuan. padahal di saat yang sama ada jebakan opini yang justru akan membahayakan kaum perempuan bahkan membahayakan bangunan keluarga dan masyarakat Islam di masa depan.

Propaganda ini telah menyerang benteng terakhir kekuatan umat Islam yakni peran perempuan di dalam lembaga perkawinan yang di dalam Islam memiliki fungsi politis dan strategis sebagai basis membangun sebuah peradaban cemerlang. Bagaimana nasib anak-anaknya di rumah jika hampir seharian ibu yang menjadi sekolah pertama dan utama dalam penanaman akidah anak berada di luar rumah untuk bekerja?. 

Siapakah yang bertanggung jawab mengawasi tumbuh kembang dan pergaulan sosial anak-anaknya di tengah sedang diterapkannya sistem sekuler?. Alih-alih ekonomi keluarga meningkat, yang ada justru masalah demi masalah sosial akan dihadapi sang ibu  karena rusaknya pemikiran dari anak-anaknya. Pola pergaualan bebas, pola hidup hedonisme, narkoba, serta kenakalan remaja lainnya sedang mengancam ketahanan keluarga ini.

Namun konstribusi perempuan dalam bekerja menurut ide woman empowerment dianggap memberikan manfaat untuk ekonomi keluarga dan masyarakat di tengah problem kemiskinan yang sedang melanda. Maka wajar jika para penggiat gender berusaha keras untuk meningkatkan partisipasi kerja perempuan hingga setara dengan laki-laki sesuai dengan target yang sudah dicanangkan yakni planet 50-50 by 2030. 

Mari kita lihat dari peran politik perempuan, aktivis gender biasanya mengatakan bahwa perempuan perlu duduk untuk memegang peran kunci pengambil kebijakan. Soalnya menurut pendapat mereka persoalan perempuan akan selesai jika yang menyelesaikan perempuan karena perempuan paling tahu bagaimana cara menyelesaikan persoalan perempuan. Jadi jika yang duduk menjadi presiden, gubernur, bupati, anggota dewan kebanyakan adalah perempuan, berarti akan bisa mengambil kebijakan yang berpihak kepada kaum perempuan.

Jika dilihat sebenarnya endingnya kemana?. Endingnya adalah mereka ingin agar aturan-aturan yang dibuat pro kepada perempuan. Artinya membebaskan perempuan dengan tidak ada batasan-batasan yang dianggap diskriminatif. 

Bagaimana dengan pandangan Islam tentang kepemimpinan negara atau posisi pengambil kebijakan (penguasa) bagi seorang perempuan? Di dalam islam perempuan diharamkan untuk menjadi hukam atau penguasa. 

 أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِى بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِى اللَّهُ بِشَىْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ « مَنِ اسْتَخْلَفُوا ». قَالُوا بِنْتَهُ. قَالَ « لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً ».

Dari Muhammad bin Mutsanna dari Khalid bin Harits dari Humaid dari Hasan dari Abi Bakrah berkata, "Allah menjagaku dengan sesuatu yang kudengar dari Rasulullah SAW ketika kehancuran Kisra. Beliau bersabda, Siapa yang menggantikannya?" Mereka menjawab,"Anak perempuannya". Nabi SAW bersabda. "Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada seorang wanita".

Menurut Suyuthi dalam kitabnya Jam’ul Jawami’ hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Tirmidzi dan Nasa’i dari Abu Bakrah.

Aturan islam tenang perempuan ini oleh aktivis gender dianggap sebagai aturan yang mendiskriminasi perempuan. Apalagi jika memandang aturan Islam yang mewajibkan menutup aurat dan menjadi ibu serta pengatur rumah tangga. Mereka beranggapan bahwa itu semua mengekang perempuan. Maka, perempuan dianggap perlu perjuangan untuk diterima di kalangan sosial sebagaimana laki-laki.

Sehingga jika kita lihat dan cermati seruan mereka dari dulu sampai sekarang adalah menyerang aturan Islam. Jangan sampai aturan yang diterapkan oleh kita adalah aturan islam, walaupun sebenarnya kita mayoritas Islam. 

Maka jika kita cermati ending sebenarnya adalah melegalkan aturan-aturan yang pro kapitalis yaitu membebaskan perempuan dengan sebebas-bebasnya dan tidak memberikan ruang kepada aturan yang mengarah kepada legalisasi aturan yang terkait dengan syariat Islam. 

Ini adalah gerakan internasional pada konvensi konvensi internasional di mana negara yang hadir dalam forum tersebut harus meratifikasi, harus tanda tangan, setelah itu membuat peraturan yang senada dengan kesepakatan dunia. Indonesia adalah salah satunya, ia adalah negara yang harus tunduk kepada konvensi internasional tersebut. Sehingga program-program penanganan kesetaraan gender terus digencarkan.

Tak heran jika mainstream ide keadilan dan kesetaraan gender terus dideraskan seraya menohok pada aturan-aturan Islam. inilah impian para kapitalis global menciptakan sebuah planet 50-50 di mana perempuan dan laki-laki bebas memilih peran yang diinginkan. Bahkan untuk mencapai tujuan ini semua kebijakan rezim saat ini harus menyertakan aspek KKG sebagai dasar pertimbangan.

Jika dipandang dari kacamata Islam tentu saja propaganda mereka adalah propaganda yang konspiratif dan berbahaya. 

Pandangan Islam tentang perempuan sangat khas, yakni perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga, diberi jaminan perlindungan dari segala modus eksploitasi pihak manapun. Perempuan adalah sosok mulia tempat pendidikan pertama dan utama bagi generasi. Ini perkara asasi bagi jatuh bangunnya peradaban manusia. Tugas perempuan sebagai ibu dan manager rumah tangga bukan tugas remeh-temeh, bukan pekerjaan hina dan rendah.

Bagaimana mungkin perempuan diseret berlari terseok-seok bersaing dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan. Perempuan diberi penghargaan palsu sebagai driver of economic, penggerak ekonomi. Beban ganda bagi perempuan, menjadi tulang rusuk sekaligus menjadi tulang punggung. Sungguh melawan fitrah dan tidak manusiawi gagasan kesetaraan gender ini!

Islam menjadikan akidah Islam menjadi asas negara sekaligus asas bagi sistem kehidupan yang diterapkan oleh negara. Laki-laki dan perempuan dipandang sama sebagai hamba Allah, tidak berbeda kecuali kadar ketakwaan mereka. Hamba-hamba yang bertakwa insya Allah membawa maslahat bila menerapkan sistem yang berasal Allah SWT. Sistem ini adalah sistem Khilafah.

Oleh Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Posting Komentar

0 Komentar