TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Ibadahku Ambyar Ditekan Kepentingan Kapitalis



Wacana relaksasi tempat ibadah yang digaungkan Menteri Agama Fachrul Razi didukung oleh Persaudaraan Alumni 212. Namun, wacana ini ditolak oleh Sekjen PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruquthni. Menurutnya, hendaknya para pejabat negara dan anggota DPR menimbang sampai risiko sekecil apapun jika ingin merelaksasi tempat berkumpulnya masyarakata publik, sebelum kondisi Covid-19 dinyatakan benar-benar telah hilang dan selesai. (Tribunnews.com, 14 Mei 2020)

Wajar saja bila tokoh agama mempertanyakan kebijakan pemerintah dalam hal pelonggaran PSBB. Baik MUI, PA 212, para da’I juga umat Islam menganggap kebijakan pemerintah lebih berpihak pada kepentingan koorporasi sementara kepentingan ibadah umat diabaikan. Sangat keras membatasi ibadah umat Islam di masjid karena alasan PSBB, namun membiarkan bandara, mall dan pasar terbuka dan melanggar PSBB.

Ketidakjelasan pemerintah dalam penerapan PSBB ini bukannya menyelesaikan masalah, tapi justru memunculkan masalah yang baru, yakni gejolak di tengah-tengah masyarakat. 

Langkah pembatasan ibadah di masjid awalnya diambil sebagai upaya mengurangi kerumunan warga yang berpotensi besar terjadinya penularan virus corona, namun sangat disayangkan kebijakan pelonggaran PSBB untuk alasan peningkatan ekonomi bagi para pengusaha ini akhirnya harus membuka ruang penyebaran virus secara lebih luas. Protes umat Islam atas pembukaan bandara dan mall akan berujung pada permintaan pelonggaran PSBB juga bagi umat Islam. Alhasil masyarakat akan berada dalam kondisi terancam sebab peluang penyebaran virus tak terelakkan lagi. 

Ulama sebagai perwakilan umat Islam sekaligus tempat umat merujuk seharusnya bisa bersuara lebih lantang untuk mengangkat setiap jenis aspirasi umat yang menjerit akibat kebijakan zalim dari rezim kapitalis. Ulama wajib untuk menentang setiap kebijakan pemerintah yang berakibat buruk bagi rakyat, termasuk pelonggaran PSBB yang diberikan kepada pengusaha. Karena kebijakan ini sangat berbahaya bagi rakyat di tengah pandemi ini. Sekaligus mengoreksi penguasa agar lebih peduli terhadap nasib rakyat, dan bersungguh-sungguh dalam menerapkan solusi untuk memutus penularan covid-19.

Ulama juga wajib bersuara agar umat Islam dan penguasa menjadikan Syari’at Islam sebagai satu-satunya solusi bagi persoalan yang mendera bangsa ini. Sekaligus menyerukan agar Umat dan penguasa sadar bahwa wabah covid-19 adalah peringatan dari Allah Swt agar semuanya kembali kepada Syariah Islam secara menyeluruh dan meninggalkan ideologi kapitalisme yang nyata terbukti menyengsarakan rakyat.

Sungguh jika masyarakat dan ulama bersatu pasti Umat Islam akan menang. 
Mestinya disadari oleh seluruh rakyat bahwa kebijakan sejenis ini tidak mengantarkan pada solusi tapi malah melahirkan persoalan baru (gejolak rakyat).

Meninggalkan hukum Allah dalam mengurusi rakyat dan menjalankan pemeritahan adalah kemasiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Kemaksiatan ini akan menjadi peluang datangnya musibah dan bencana dari Allah Swt, dan panjangnya kasus Covid-19 ini menjadi musibah yang terjadi akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh penguasa karena tak kembali kepada Islam. 

Allah Swt berfirman: “Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Ruum: 41)

Dan Ulama punya kewajban untuk mengingatkan penguasa agar kembali kepada Islam serta menjadikan Islam sebagai satu-satunya sumber hukum dan solusi atas setiap persoalan yang dihadapi oleh negara dalam mengurusi rakyatnya. Menyerukan agar meninggalkan hukum buatan manusia yang realisasinya hukum tersebut hanya menguntungkan penguasa dan mengusaha, sementara rakyat sengsara akibat kebijakan-kebijakan zalim yang dibuat dan disepakati oleh orang-orang yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. 

Ulama juga wajib mendidik umat agar menghadapi setiap persoalan sesuai dengan pandangan Islam dan senantiasa membangun ketaatan kepada hukum Allah dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan baik kecil ataupun yang besar, baik yang disengaja ataupun tidak disegaja. Sekaligus Ulama mengajak Umat Islam agar mau berjuang menerapkan Syariat Islam secara kaffah, baik dalam perkara pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. 

Singkronisasi antara peran kritis Ulama, ketaatan umat pada Syariat dan penerapan Syariat secara kaffah oleh negara (Khilafah) inilah yang akan mengeluarkan negeri ini dari ujian pandemi ini dan meraih kemenangan, yakni membangun peradaban gemilang dalam kepemimpinan Islam dan kaum muslimin dan siap mengemban risalah Islam untuk menyebarkan rahmat ke seluruh dunia, insyaAllah. Wallahualam bissawab.[]

Oleh : Fitri Khoirunisa, A. Md (Muslimah Ideologis Khatulistiwa) 


Posting Komentar

0 Komentar