TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

Hikmah Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu


Pentingnya pemimpin dalam menghadapi Pandemi mengingatkan kita dengan kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Ibu Pemasak Batu. Kisah ini sangat terkenal. Masih terngiang di ingatan  kisah ini pernah diceritakan di stasiun TV swasta era 90-an. Dari waktu kecil, kisah ini sudah saya baca di buku anak Islam  dan sekarang sudah ada yang mengangkat kisahnya dalam bentuk kartun  anak.

Pada suatu hari, Khalifah Umar merasa bersalah lantaran telah membiarkan seorang ibu dan anak-anaknya kelaparan. Ketika itu Daulah Khilafah Islam tengah dilanda paceklik. Musim kemarau berjalan cukup panjang, membuat tanah-tanah di sana tandus.

Khalifah Umar bin Khattab kala itu tengah memimpin umat Islam menjalani tahun yang disebut Tahun Abu. Suatu malam, Khalifah Umar mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah.

Langkah Khalifah Umar terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil dan adiknya mengusik perhatian Sang Khalifah. Khalifah Umar lantas mengajak Aslam mendekati tenda itu dan memastikan apakah penghuninya butuh bantuan.

Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang ibu tengah duduk di depan perapian. Ibu itu terlihat mengaduk-aduk bejana.

Setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Usai diperbolehkan oleh ibu itu, Khalifah Umar duduk mendekat dan mulai bertanya tentang apa yang terjadi. Kenapa masak tak kunjung matang dan apa yang sedang dimasaknya. Khalifah Umar dan Aslam segera melihat isi bejana tersebut. Seketika mereka sangat terkejut melihat isi bejana itu. Ternyata dimasak adalah batu.

Ibu itu memasak batu-batu ini untuk menghibur anaknya yang sedang kelaparan. Lalu ibu itu berkata "Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia pasti sedang duduk santai di  rumahnya, sementara masih ada  rakyat miskin yang kelaparan seperti kami ini. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum, Biar Allah yang mengadili antara aku dan Khalifah Umar" .

Khalifah Umar pun bergetar mendengar perkataan ibu itu yang marah dengan Khalifah Umar. Ibu itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita itu. Tetapi, Khalifah Umar mencegahnya. Khalifah lantas menitikkan air mata dan segera bangkit dari tempat duduknya.

Segeralah diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum dan sebongkah daging.

Tanpa mempedulikan rasa lelah dan malam yang dingin, Khalifah Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya. Aslam segera mencegah. Tapi Khalifah segera menepis  bantuannya. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke tenda tempat tinggal ibu itu.

Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri memasak makanan yang akan disantap oleh ibu itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa senang dan tenang.

Makanan pun habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya dan memberikan uang kepada ibu tersebut. 

Rindunya  Seorang pemimpin seperti Khalifah Umar di tengah wabah yang telah menjadi Pandemi global dengan kacamata ketakwaan. Pemimpin yang langsung mengulurkan tangan demi mencegah rakyat jatuh tersungkur kelaparan dan kehabisan napas. Merindukan pemimpin yang mencintai Hukum-hukum Allah. Mencintai Rakyat dan dicintai Rakyat. Rindu hadirnya Khalifah yang menyelesaikan urusan rakyat dengan tulus dan ikhlas. Kapan kah pemimpin itu hadir ditengah gelombang ujian manusia?. 

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (waliyul amri) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.” ( Bukhari Muslim).

Artinya, dosa akan menimpa pemimpin ketika tampuk kepemimpinan ada di pundak mereka tapi mereka lalai. kelalaian ini berupa gagalnya pemimpin menciptakan kesejahteraan bahkan membiarkan rakyatnya yang mati kelaparan.

Semoga kisah Khalifah Umar dan ibu pemasak batu dapat kita ambil hikmahnya dan pelajaran.[]

Oleh Alin FM
Praktisi Multimedia dan penulis


Posting Komentar

0 Komentar