TINTASIYASI.COM ...Tinta Emas Pengukir Peradaban Gemilang...

HAKEKAT KEMENANGAN DI HARI RAYA


Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Tamu yang Agung, tak terasa akan segera pergi. Ada perasaan sedih dan gembira. Ada perasaan takut dan berharap. 

Ramadhan pergi bersama keberkahan dan keutamaannya. Hanya di bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Hanya di bulan suci ini, setan-setan dibelenggu. Ibadah pun terasa ringan dan kaum muslimin berada dalam puncak kebaikan.

Kesedihan semakin terasa karena kemuliaan Ramadhan yang tak tergantikan di bulan lain hanya akan terulang kembali pada tahun depan. Itu pun jika umur masih mencukupi. 

Namun, perasaan gembira sempat menyeruak karena Hari Raya akan segera tiba. Hari kemenangan bagi seorang hamba yang telah berjuang selama sebulan lamanya. Seorang hamba yang menghiasi siangnya dengan berpuasa dan mengarungi malamnya dengan sholat dan taddabur AlQuran. 

Ada perasaan takut jika semua amal Ramadhan kita tidak diterima oleh Allah SWT. Alangkah ruginya jika hal itu menimpa kita. Namun selayaknya seorang hamba, kita hanya bisa berharap agar segala amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah SWT. Kita berharap di hari yang fitri seperti bayi suci tanpa dosa yang menyelimuti.

Dalam mengais sisa-sisa Ramadhan, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar beriktikaf di masjid. Sayangnya,  pandemi Corona belum berakhir. Bukannya menurun, justru korban makin terus bertambah. Sehingga sebagian umat Islam hanya mampu menghabiskan sisa-sisa Ramadhan di rumah. 

Namun, ada sebagian yang lain lebih suka mempersiapkan Hari Raya daripada mengoptimalkan sisa-sisa keutamaan Ramadhan yang akan segera pergi. 

Bisa kita lihat, mall-mall penuh dengan orang. Meski ada himbauan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dari pemerintah untuk menghambat laju penyebaran Corona, namun masyarakat seolah-olah tak peduli. Mereka lebih mengutamakan persiapan Hari Raya daripada keselamatan dirinya.

Sikap egois dan individualis dari sebagian orang ini, bisa membahayakan dirinya sendiri dan juga orang lain. Bergembira menyambut hari raya memang dianjurkan sebagai syiar Islam. Namun, mengingat kondisi di tengah wabah. Selayaknya kita tidak berlebihan dalam merayakan Hari Raya.

Lantas bagaimana seharusnya sikap seorang muslim memahami makna kemenangan di Hari Raya?

Islam mensyariatkan Hari Raya bagi umatnya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Hari Raya ini pertama kali disyariatkan pada tahun ke-2 H, bersamaan dengan turunnya perintah berpuasa dan zakat fitrah. Karena itu, Idul Fitri juga disebut ‘Idu Ramadhan dan ‘Idu al-Fitrah.

Hari Raya adalah hari yang bahagia dan suka cita. Biasanya ditandai dengan makan, minum, hiburan dan bersenang-senang. Karena itu, di dalam kedua Hari Raya ini, Islam mengharamkan berpuasa.

Allah SWT berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَـفْرَحُوْا  ۗ  هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

"Katakanlah (Muhammad), Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan."
(QS. Yunus 10: Ayat 58)

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya agar makan dahulu sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri. Beliau suka makan kurma sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri. 

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas ra, Rasulullah SAW bersabda: 

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ‏.‏ وَقَالَ مُرَجَّى بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا‏

Artinya: "Rasulullah SAW tidak pernah sholat Idul Fitri sebelum makan beberapa butir kurma. Anas juga menceritakan, Rasulullah SAW biasa makan kurma dalam jumlah ganjil." (HR Bukhari).

Selain makan sebelum sholat Idul Fitri, Rasulullah juga menganjurkan umatnya untuk memakai pakaian terbaik. Di samping itu juga diperbolehkan bersenang-senang sebatas tidak melanggar rambu-rambu syariat.

Syiar makan, minum, bersenang-senang dan suka cita tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkecukupan. Islam juga mensyariatkan zakat fitrah untuk dibagikan, khususnya kepada fakir dan miskin, agar di hari bahagia itu mereka pun bisa merasakan hal yang sama. 

Hakekat Kebahagiaan dalam Islam

Di dalam Islam, bahagia tidak hanya berupa kenikmatan materi, fisik dan psikologis, tetapi kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan ruhiyah. 

Karena itu, selain syiar-syiar dalam bentuk fisik, seperti jamuan makan, minum dan hiburan di Hari Raya, Islam juga memerintahkan kaum Muslim untuk mengagungkan asma Allah SWT, 

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ  فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ  ۗ  وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ  يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ  وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Dengan bersyukur, baik dalam keadaan lapang maupun sempit seperti pada masa pandemi saat ini, Allah SWT akan menambah nikmatnya pada kita.

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ  لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Selain bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, kita juga harus lebih meningkatkan taqwa kepada Allah SWT. Karena tujuan dari diwajibkannya umat Islam untuk berpuasa di bulan Ramadhan adalah untuk membentuk pribadi yang bertaqwa.

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)

Kepergian Ramadhan semestinya melahirkan insan yang lebih bertaqwa. 
Ketaqwaan setelah Ramadhan ini bisa diwujudkan dengan mengamalkan sunnah-sunnah di Hari Raya seperti makan sebelum sholat Id, memakai pakaian terbaik, berangkat ke tempat shalat sambil mengumandangkan takbir sepanjang perjalanan.

Shalat Idul Fitri disunahkan di tempat terbuka, bukan di masjid sebagai syiar bagi setiap mata yang memandang. Setelah itu, kembali ke rumah masing-masing melalui jalan yang berbeda, untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga, dengan jamuan makan, minum, dan bersenang-senang.

Ketaqwaan ini tak berhenti hanya sebatas pada hari raya saja. Akan tetapi, ketaqwaan ini juga harus senantiasa di pupuk dengan melaksanakan amalan sunnah yang lain seperti berpuasa di bulan syawal, puasa senin-kamis, atau puasa pada setiap tanggal 13, 14 dan 15 pada kalender hijriah.

Selain itu, untuk menjaga agar spirit Ramadhan tidak lekas padam, maka harus dibiasakan menghidupkan malam dengan shalat tahajjud dan tidak lupa tetap istiqomah dalam membaca dan mentadaburi Alquran.

Itulah hakekat kemenangan bagi seorang muslim yaitu dengan bertambahnya ketaqwaannya kepada Allah serta senantiasa bersyukur dengan mengagungkan asma-Nya. 

Hal ini akan lebih mudah diwujudkan jika suasana di dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan negara berada dalam naungan sistem Islam.  Dimana syariat Islam akan diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah Rasyidah ala Minhajjin Nubuwwah.

Wallahu'alam bish showab.

Oleh: Achmad Mu'it
Analis Politik Islam

Posting Komentar

0 Komentar